
Qin dan Fredy sengaja memancing mafia itu, agar mengejar mereka berdua. Sedangkan yang lainnya, disuruh untuk menolong Revano.
"Woy, kami di sini." Fredy melambaikan telapak tangan, yang berada di atas kepalanya.
Mereka tertarik untuk mengejarnya, yang sedang berlari bersama Qin. Fredy dan Qin segera bersembunyi, pada rumput-rumput ilalang yang tinggi.
"Shtt... kita diam saja di sini." ujar Qin.
"Iya, aku tidak akan keluar." jawab Fredy.
Pria baju hitam bertopi itu memperhatikan sekeliling, lalu setelahnya pergi karena Qin dan Fredy tidak terlihat. Qin dan Fredy memilih jalan ke arah lain, takutnya mereka masih menunggu di sana. Qin dan Fredy khawatir mereka sengaja bersembunyi, menunggu keduanya keluar.
Sementara Revano masih bergemetar, tubuhnya panas dingin. Tiger memapahnya sampai penginapan, bersama dengan Friska dan Sisil.
"Benar 'kan, memang pembunuh itu ada." ujar Tiger.
__ADS_1
"Iya Tiger, tapi di sini tidak ada sinyal. Bagaimana kita bisa keluar, kalau tidak ada yang menjemput. Anehnya juga, di rumah bos Joy itu tidak ada sinyal." jawab Friska.
"Bos Joy itu seorang mafia, kalian ingat baik-baik ucapan Qin. Dia mengenakan jam tangan milik Kak Arina." ujar Sisil.
"Iya, pokoknya kita harus bantu Qin dan Fredy." jawab Revano.
"Tapi, mereka belum kembali sampai sekarang." Friska mulai cemas.
"Kita tidak tahu, keadaan mereka seperti apa." jawab Tiger.
Terdengar suara ketukan pintu, tanpa adanya sebuah suara. Friska segera membuka pintu, lalu melihat Qin dan Fredy. Mereka masuk ke dalam, lalu Friska mengunci pintu rapat-rapat.
"Sepertinya, kita gak aman di sini. Bos para mafia itu, pasti punya kunci cadangan." ujar Fredy.
"Kamu benar Fredy, apalagi mereka sudah tahu kita memasang jebakan." jawab Qin.
__ADS_1
"Ini tuh salah kamu Qin, kenapa harus membawa kita ke tempat seperti ini. Satu hal lagi, kita bisa 'kan pura-pura buta kalau mereka mafia. Dibandingkan kamu berencana memasang jebakan, itu akan lebih terlihat menonjol." jelas Sisil, panjang dan lebar.
"Aku tidak memaksa siapapun, untuk ikut bersamaku. Kalian sendiri yang bersedia, untuk membantuku mencari Kak Arina. Kalian kira aku mau, tinggal dalam keadaan tidak nyaman. Kita harus selalu was-was, hingga aku berpikir untuk memasang jebakan." jawab Qin.
"Sudah, kalian jangan bertengkar. Tidak ada baiknya juga, menyalahkan sebelah pihak saja." ujar Fredy.
"Aku heran sama kamu Fredy, selalu aja mendukung yang Qin lakukan. Mungkin sampai leher kamu digorok, baru kamu paham tentang kemarahan ku." jawab Sisil.
Friska memilih untuk pergi ke kamarnya saja, dia ingin segera mandi. Begitupun dengan Qin juga, yang ingin menyiram tubuhnya yang gerah. Beberapa menit kemudian, mereka sudah keluar dari kamar. Berjalan menuju dapur, untuk memasak mie.
"Qin, kalau aku berhasil keluar dari sini, aku akan mengatakan bahwa ini pertualangan seram. Aku berhasil keluar dari dunia hitam menegangkan, menuju dunia yang putih berseri dengan terang." ungkap Friska.
"Kalau aku keluar dari sini, pastinya aku sudah lega banget. Apalagi bila keluarnya bersama Kak Arina, bukan hanya mendapat bukti atas hilangnya yang misterius." jawab Qin.
"Kamu punya firasat, bahwa dia masih hidup?" tanya Friska, ingin tahu.
__ADS_1
"Aku juga gak tahu Friska, jadi gak bisa kasih jawaban apapun." Qin menuang bumbu mie ke dalam mangkuk.