Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Nenek Asing


__ADS_3

Keesokan harinya, mereka sudah terbangun dari tidur. Terdengar suara hewan kaki dua bersayap, yang bersahut-sahutan dalam hutan. Fernan melihat kucing yang sedang berada di gubuk.


Tampaknya, kucing juga baru datang ke sana. Kucing itu langsung digendong oleh Fernan, lalu dielus-elus dengan lembut. Qin antusias, ketika melihat kucing tersebut.


"Kucing imut, mari bersamaku." Qin mengangkat kedua tangannya sejajar.


"Kita akan segera melanjutkan perjalanan." ujar Qin.


"Iya Qin, tapi tidak tahu harus lewat mana." jawab Friska.


"Aku akan pergi ke markas Joy, aku harus menyelidiki kasus menghilangnya Kakak. Jika dia masih hidup, pasti akan sangat menderita." ungkap Qin.


"Kamu benar Qin, kita jangan menundanya lagi." jawab Fredy.


"Biar aku saja yang mencarinya. Kasian, bila kamu ikut membantuku lagi. Sedangkan kakimu saja, masih sakit." ucap Qin.


"Baiklah Qin, tetap berhati-hati dan semangat." jawab Fredy.


"Qin, terlalu berbahaya kalau kamu pergi sendiri. Biar aku temani iya, kita hadapi bersama-sama." ujar Friska.


"Baiklah Friska, ayo kita pergi." ajak Qin.


"Pokoknya, aku mau ikut. Aku tidak mau, bila Friska jauh dariku." sahut Tiger.

__ADS_1


"Itu jauh lebih aman, biar aku yang bersama Fernan. Kami akan menunggu kalian sampai datang." jawab Fredy.


Mereka segera melangkahkan kaki, keluar dari gubuk kecil tersebut. Dalam perjalanan, mereka berhenti tiba-tiba.


"Tolong!"


Terdengar suara minta tolong, dengan suara yang sudah rapuh. Orang yang sudah tua, namun terjebak di sarang mafia tersebut.


"Nenek kenapa bisa di sini?" Qin melihatnya dalam lubang tanah.


"Ceritanya panjang. Tolong bantu naik Nak, aku dikejar oleh orang-orang jahat." jawab nenek tersebut.


Qin membantu menarik tangannya, lalu dia berhasil sampai ke permukaan tanah. Friska mengajaknya, untuk istirahat di gubuk saja. Lagipula, sebentar lagi akan turun hujan.


"Nenek mau 'kan istirahat di gubuk, bersama teman kami." ujar Qin.


"Ayo, sekarang juga kami antar." ajak Friska.


"Iya Nak." jawab nenek tersebut.


Mereka sudah sampai gubuk reok, dan si nenek bergabung bersama Fredy dan Fernan. Mereka segera melanjutkan perjalanan, untuk mencari Arina. Beberapa menit kemudian, Qin, Friska, dan Fredy berhasil masuk markas.


"Qin, beruntung kita berhasil mengalihkan penjaganya." ucap Friska.

__ADS_1


"Iya Friska, kalau tidak kita akan ketahuan masuk diam-diam." jawab Qin.


Tiba-tiba saja berdiri besi tajam pada lantai, beruntung mereka cepat menghindar. Ternyata bos Joy memasang jebakan terbaru.


"Ruangan di sini sangat banyak, kemana lagi kita harus mencari?" tanya Friska.


"Ada beberapa ruangan lagi, yang belum sempat kita periksa." jawab Qin.


Fredy masih mengurut kakinya, sedangkan Fernan mengusap punggungnya. Dia merasa sudah sedikit membaik, karena lukanya sudah mulai kering.


"Nek, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Fredy.


"Karena aku diculik oleh bos mafia tersebut." jawabnya lirih.


"Lalu, bagaimana cara Nenek melarikan diri?" tanya Fredy.


"Aku mengikuti kalian, waktu masuk markas. Aku ingin meminta bantuan, malah para penjaga memergokinya. Aku segera berlari, hingga masuk ke dalam lubang tanah." jawabnya.


Sementara di sisi lain.


"Nek, kenapa Nenek bisa ada di sini?" tanya Fredy.


"Karena aku diculik oleh bos mafia tersebut." jawabnya lirih.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana cara Nenek melarikan diri?" tanya Fredy.


"Aku mengikuti kalian, waktu masuk markas. Aku ingin meminta bantuan, malah para penjaga memergokinya. Aku segera berlari, hingga masuk ke dalam lubang tanah." jawabnya.


__ADS_2