
Beberapa hari kemudian, helikopter mendarat di seberang laut. Mereka segera melangkahkan kaki masing-masing, menuju ke taman hiburan dan wisata. Anyi, Qiya, Dirga, Limuq, merupakan teman kursusnya Qin. Mereka datang, bersama beberapa tentara.
"Selamat siang!" ujar pria muda.
"Siang kembali." jawab Qiya.
"Apa kalian ingin bermain di taman hiburan?" tanyanya.
"Iya, kami akan masuk." jawab Anyi.
Mereka melangkahkan kaki masing-masing, sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Lalu setelah itu, mereka bermain di taman hiburan. Ada juga yang berkeliling di taman wisata.
"Qiya, kamu merasa ada yang aneh 'kan?" bisik Dirga.
"Iya, para pekerja di sini mengenakan seragam identik hitam." jawabnya.
"Jadi, menambah kesan horor iya. Kita harus berhati-hati, aku punya firasat tidak enak." ucap Dirga.
"Iya, aku juga ada firasat tidak enak." jawab Qiya.
Qin dan Tiger bersembunyi di meja bertingkat. Mereka membungkam mulut masing-masing, karena melihat para penjahat itu mendekat. Mereka mencari keberadaan Qin dan Tiger, yang tidak diketahui.
__ADS_1
"Kemana mereka berlari, kenapa cepat sekali." gerutunya.
"Pasti, mereka tidak jauh dari sini." jawabnya.
"Ayo cepat cari sampai ketemu."
"Iya, nanti bos Joy marah."
Qin dan Tiger keluar dari persembunyiannya, saat mereka sudah pergi. Tiba-tiba, muncul sekelompok orang. Mereka segera menarik kaki Tiger, dengan pengait besi tajam. Qin segera menembak pria itu, dan melepaskan pengait pada kaki Tiger. Beberapa dari mereka menghajar gadis tersebut, yang menjadi penghalang tugas.
"Tiger, cepat kabur." teriak Qin.
"Baiklah." Tiger segera berlari.
"Bos, kami sudah menangkap orang yang kau mau." ujarnya.
"Hahah... kerja yang memuaskan atasan. Cepat kurung gadis ini, pada jeruji besi. Jangan biarkan dia kabur, atau kalian aku sembelih." jawab Joy.
"Siap laksanakan." ucapnya.
"Bergegas." titahnya.
__ADS_1
Mereka segera berjalan cepat, sambil menyeret tubuh Qin. Mereka memasukkan Qin, ke dalam ruang eksekusi. Qin melihat di sana tidak ada manusia hidup, kecuali dirinya sendiri.
”Kak Arina, kamu dimana. Kenapa aku selalu tidak menemukan dirimu. Kami semua rindu, ingin segera bertemu. Aku sudah mengunjungi puluhan ruangan eksekusi, namun tetap juga tidak menemukanmu.” batin Qin pasrah.
Sementara Friska menghajar para mafia itu dengan berani, lalu berlari keluar dari ruang bagasi. Tidak sampai di sana, dia mendapatkan penyerangan. Lehernya tercekik oleh tali jebakan, dan tubuhnya menggantung di atas udara. Tiger kebetulan melewati ruangan itu, dan segera menebas tali yang mencekik Friska.
"Tiger, terima kasih iya." ucap Friska.
"Iya, ayo segera lari." ajak Tiger.
Mereka segera berlari, dan menunduk bersamaan. Parang yang dilemparkan oleh mereka, mengenai dinding tembok ruangan. Friska dan Tiger segera berlari, lalu masuk ke dalam ruangan. Mereka menguncinya dari dalam, dengan nafas terengah-engah.
"Dimana Qin?" tanya Friska.
"Aku tidak tahu, bagaimana keadaannya sekarang. Yang jelas, tadi dia sudah ditangkap." jawab Tiger.
"Lalu, bagaimana dengan pencarian Kak Arina?" tanya Friska.
"Kita lanjutkan lagi, setelah memberitahu Fredy." jawab Tiger.
"Sebaiknya jangan, Fredy nanti malah nekat ke sini." ucap Friska.
__ADS_1
"Iya si, dia 'kan sedang sakit." jawab Tiger.
Limuq, Anyi, Qiya, dan Dirga sudah puas bermain-main. Mereka segera diantar ke penginapan, menggunakan mobil truk. Mereka sudah sampai, setelah beberapa menit dalam perjalanan.