Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Ketiduran Di Atas Pohon


__ADS_3

Keesokan harinya, Qin, Friska, dan Fredy terbangun dari tidurnya. Kepala Qin merasa sakit, bekas terbentur batu waktu itu. Friska melihat ke arah bawah, sudah tidak ada lagi para mafia.


"Hari ini kita berhasil Qin, ayo segera kabur dari sini." ajak Friska.


"Iya, kepala aku pusing banget." Qin memegangi kepalanya.


Bugh!


Tiba-tiba saja, Qin terjatuh dari atas pohon. Tubuhnya langsung terjatuh, ke lubang bawah tanah.


"Fredy gawat, Qin jatuh. Ayo kita turun dari pohon." ajak Friska.


"Iya Friska, ayo bergegas menolongnya." jawab Fredy.


Friska dan Fredy segera turun ke bawah, lalu mereka masuk ke dalam lubang juga. Menuruninya dengan perlahan, agar tidak terjatuh. Bau amis tercium dimana-mana, dan Fredy dapat merasakan busuknya bangkai.


"Ini ruang bawah tanah, tempat apa iya?" tanya Friska.


"Aku juga gak tahu, mungkin bangunan para mafia." jawab Fredy.


Mereka segera duduk berjongkok, lalu Friska menepuk-nepuk pipi Qin. Gadis itu sedang pingsan, karena merasa sangat kelelahan. Tiba-tiba, ada suara yang memanggil mereka.


"Fredy, Friska, Qin, kalian dimana!" teriak Tiger.

__ADS_1


"Kami di sini!" Fredy menjawab, sambil berteriak.


"Gawat, ada kucing di sana. Sepertinya, dia akan melompat dalam lubang." Fernan menunjuknya.


"Ayo, kita segera tolong dia." ajak Sisil.


Mereka segera berlari, begitupun dengan Tiger. Mereka melihat bahwa itu adalah ruangan bawah tanah. Tiger menggaruk kepalanya, lalu melihat ke bawah.


"Fredy, Friska, Qin, ternyata kalian ada di sini." ujar Tiger.


"Iya, tadi aku sudah menjawab panggilan kamu." jawab Fredy.


"Tapi, anehnya tidak terdengar sama sekali." ujar Tiger.


"Mungkin, kamu tidak mendengarkan dengan baik." jawab Fredy.


"Iya, mari aku bantu." jawab Tiger, sambil menawarkan.


Tiger membantu memapah tubuh Fredy, sedangkan Friska memapah tubuh Qin. Tentu saja, dengan dibantu Sisil. Mereka berjalan menuju ke sungai, untuk membasahi kerongkongan yang sudah kering.


Shht!


Tiba-tiba terdengar suara berdesis, tampaknya hewan melata mendekat. Qin membuka kedua matanya, lalu berdiri dengan tegap. Friska dan Sisil melepaskan Qin, supaya menahan tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Ada ular kobra, ayo cepat berlari." ajak Tiger.


"Aku tidak bisa berlari, kakiku sedang sakit." jawab Fredy.


"Kalau gitu, kita jalan aja." ujar Qin.


"Benar, kaki sangat sakit. Tidak mungkin, bila kita berlari." jawab Fredy.


Ular semakin mendekat, dan sudah menghadang di depan. Sisil hendak menembaknya, namun Tiger melarangnya. Tangannya memilih mengusir perlahan, dengan menggunakan ranting kayu. Lama kelamaan ular tersebut patuh, dia memilih pergi daripada mengganggu. Sisil menghela nafas lega, ia kira akan digigit.


"Semalam, apa keadaan kalian aman?" tanya Fredy.


"Tentu saja aman, karena kami bersembunyi." jawab Tiger.


"Kami malah dikejar-kejar, sampai hampir hangus terbakar." jawab Fredy.


Fredy menceritakan semuanya dari awal, tanpa ada yang tertinggal sedikitpun. Tiger hanya manggut-manggut saja, mendengar penuturan Fredy. Sementara Sisil merinding sendiri, mendengar mesin pemotong kayu.


"Qin, aku benar-benar takut. Bayangkan saja, mesin pemotong kayu sangat tajam. Bila kayu saja bisa menjadi beberapa bagian, apalagi tubuhku ini." Sisil menutup matanya.


"Kita akan pergi ke pinggir laut, sekarang juga. Kalian bisa mencari bantuan secepatnya, sesuai usulan ide Fredy waktu itu." jawab Qin.


Mereka segera melangkahkan kaki masing-masing, menuju ke perbatasan laut. Namun anehnya, ada sebuah cahaya.

__ADS_1


"Qin, apa kamu ikut pulang?" tanya Sisil.


"Tidak Sil." jawabnya.


__ADS_2