
"Mari, kami antar ke penginapan." ujar pria, berpakaian serba hitam.
"Iya." jawab semuanya.
Mobil kijang mulai terdengar suara mesinnya, lalu mereka naik di bak belakang. Qin sengaja mengetik bacaan pada ponselnya. Lalu setelah itu, membiarkan semua temannya membaca.
"Kamu serius Qin, kalau jam tangan Kakakmu ada pada bos Joy?" bisik Friska.
"Iya, mana mungkin aku berbohong. Aku melihatnya sendiri, dengan kedua mataku." jawab Qin, berbisik juga.
Mereka akhirnya sampai, setelah beberapa menit dalam perjalanan. Pekerja itu segera pergi, sedangkan mereka kembali ke penginapan.
"Berarti, mereka semua adalah mafia." ujar Tiger.
"Tidak bisa juga dikatakan seperti itu. Bos dan pekerja adalah orang yang berbeda." jawab Fredy.
"Kamu benar, pasti ada salah satunya yang baik." ucap Friska.
"Intinya, kita semua harus waspada." jawab Qin.
Tolong!
__ADS_1
Terdengar suara berteriak, yang hanya menggema dalam ruangan. Debby benar-benar ketakutan, karena disekap pada tempat gelap. Tempat itu juga kedap suara, sehingga suaranya tidak terdengar siapapun juga.
"Hei diamlah, karena percuma dirimu berteriak. Tidak akan ada yang bisa mendengar suaramu." ujar pria bertopi hitam.
"Aku ingin keluar dari tempat ini, lepaskan aku manusia terkutuk." jawab Debby, sengaja memakinya.
Mereka mengangkat pisau ke atas udara, lalu menggores tangan Debby. Gadis itu menahan perih, pada kulitnya yang tersayat. Dalam hidupnya dia tidak pernah membayangkan, hal seperti itu akan terjadi.
"Sekali kau berisik dan berteriak-teriak lagi, maka kami akan memotong lidahmu." ucapnya kasar.
Debby langsung terdiam, tidak ingin berkata-kata lagi. Jangankan untuk memandang, membuka mulutnya juga enggan.
Qin dan teman-temannya duduk di ruang depan. Mereka sedang berencana, untuk memecahkan masalah sulit tersebut.
"Kita akan membuat jebakan, untuk para mafia kejam itu." jawab Qin.
"Apa kamu yakin?" tanya Tiger.
"Aku yakin, hanya cara ini. Kita harus memasukkan mereka, ke dalam perangkap kita." jawab Qin.
"Siapa yang akan memancing mereka agar keluar?" tanya Fredy.
__ADS_1
"Biar Revano saja." jawab Tiger.
"Kamu ini iya, seenaknya saja menyuruh aku." ucap Revano.
"Kalau kamu gak mau, biar aku aja." jawab Friska.
"Hih, malulah kalau perempuan mengalah dengan kamu." ujar Tiger.
"Oke, biar aku aja." jawab Revano.
Mereka segera keluar rumah, setelah merasa kondisi aman. Mereka membuat jebakan, yang membuat mafia itu akan tergantung. Setelah itu menggali lubang, lalu memasukkan kawat besi di dalamnya. Setelah semua misi selesai, mereka kembali ke penginapan. Mereka telah membuat jebakan dengan sangat hati-hati, supaya tidak mengalami kegagalan.
Pada malam harinya, para mafia itu berjalan dengan cepat. Mereka mengintai penginapan, hingga ingin pergi karena bosan. Tidak ada juga, di antara mereka yang keluar. Anehnya lagi, penginapan itu lampunya mati.
"Woy!" Revano berteriak pada pengintai tersebut.
Para pengintai itu segera berlari mengejarnya, dan Revano berlari ke arah jebakan. Namun saat mereka melintas, tidak terkena jebakan juga. Revano kaget bukan kepalang, karena harus dikejar tanpa ampun.
"Qin gawat, kenapa jebakannya bisa tidak ada." ujar Fredy.
"Ada yang tidak beres, ayo kita bantu Revano." jawab Qin.
__ADS_1
"Ayo cepat!" Tiger berlari duluan.
Sisil menyusul langkah kaki Revano karena panik, melihat pacarnya berlari tunggang langgang. Revano mengelak saat dilempar kapak, dan semua mata menyaksikannya.