Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Terjebak Gas Beracun


__ADS_3

Keesokan harinya, Fredy mengikuti Jenny diam-diam. Saat Jenny menoleh ke belakang, dia segera bersembunyi. Jenny menemui seseorang berpenutup kepala, di sebuah ruangan tidak terpakai.


”Apa yang dilakukannya di sini, aku harus secepatnya memberitahu Qin." monolog Fredy.


Pesan telah dikirimkan, terlihat dari tanda ceklis berwarna putih. Mungkin sebentar lagi, akan mendapatkan balasan.


Qin menggerakkan tangannya pelan-pelan, karena masih terasa sakit. "Aku akan segera menyusul."


Qin izin sebentar, setelah mengerjakan tugas. Bos Rudal mengizinkannya, karena sudah menyelesaikan dengan baik.


Brak!


Tiba-tiba Fredy dipukul dari belakang, lalu pingsan tidak sadarkan diri. Fredy diseret ke ruangan gas, lalu tangannya diborgol tanpa bisa bergerak.


Qin sudah sampai, lalu berjalan dengan pelan-pelan. Tidak kunjung menemukan Fredy, membuatnya berteriak memanggil. Saat ini Qin tidak menyadari ada seseorang, yang diam-diam melangkahkan kaki di belakangnya.

__ADS_1


Qin menoleh lalu menangkis pukulan kayu, dan menendang kaki laki-laki berpenutup kepala. Qin segera berlari masuk ruangan, lalu dikunci dari luar. Bersyukur bisa menemukan Fredy, lalu menepuk lengannya agar bangun. Qin membuka tutup botol minyak angin, supaya hidung Fredy menghirup baunya.


"Fredy, bangun dong!" Qin sibuk.


Hidung Fredy mulai berkedut, dan terdengar suara batuk-batuk. 'Qin, mengapa kamu di sini? Ayo cepat keluar, kita bisa mati. Dalam ruangan ini ada gas beracun, ayo cepat tutup indera penciuman kamu." jelasnya.


Qin memasang masker, begitupun dengan Fredy. Sudah berjam-jam berada di dalam, namun tetap tidak ada yang menolong. Sinyal ponsel juga tidak ada, sulit untuk menghubungi siapapun. Fredy mengambil gagang besi, lalu mengambil kabal bekas yang tergeletak.


"Eh, kabel itu tidak kuat, untuk menarik kita ke atas loteng." Qin mengingatkannya, agar tidak gegabah.


"Iya sudah, kalau kamu tetap ingin mencoba. Yang paling terpenting, kalau ada apa-apa tidak boleh menyesal. Aku sudah memberitahu sejak awal." ujar Qin, masih terbatuk-batuk.


"Ini semua aku lakukan, demi mengeluarkan calon istriku." jawab Fredy.


Fredy mencoba bergantungan pada kabel, lalu memajukan telapak tangan perlahan-lahan. Tubuh harus mengimbangi, agar tidak melakukan pergerakan terlalu jauh.

__ADS_1


"Qin, pegang tanganmu kuat-kuat. Nanti aku akan menyelamatkan kamu, sampai berhasil memanjat gedung."


Polisi melaporkan mengenai ketua bandit desa Kiwochi yang telah diamankan. Mereka dibawa ke kantor polisi, dan Friska berterima kasih pada para polisi.


"Qin kemana?" tanya polisi.


"Dia izin keluar tadi, ada kepentingan mendadak." jawab Friska.


Qin belum juga kembali, meski acara meeting sudah mau dimulai. Bos Rudal tampak resah, dan Friska tahu apa yang tengah di pikirannya. Flash disk meeting dibawa oleh Qin, yang menghilang ntah kemana.


"Teman kamu itu dihubungi tidak aktif, coba kamu yang menghubungi mereka." ujar bos Rudal.


"Aku sudah melakukannya, mereka juga tidak mengangkat teleponku. Tunggulah sebentar lagi, mereka mungkin dalam keadaan darurat." jelas Friska.


Televisi nasional mengumumkan berita besar-besaran, yang menyebabkan Qin menghilang. Lama-lama Limuq jadi tidak tahan, melihat televisi sembarang unggah berita. Bilang Qin pembuat onar di masyarakat, dan hal lain sebagainya.

__ADS_1


Qin dan Fredy akhirnya datang juga, meski dalam keadaan terlambat. Banyak darah yang menempel di pundaknya, jadi harus ke toilet untuk membersihkan diri.


__ADS_2