
Liburan kali ini pergi ke rumah hantu, Friska yang mengajak teman-temannya terlebih dulu. Qin dan Fredy berjalan pelan-pelan, sampai ada pocong muncul.
"Aaa... jangan tangkap aku." Friska berteriak.
"Cepat lari hahah..." Bukannya takut, malah ketawa.
"Seram tahu Qin, kamu ini santai sekali. Aku dari tadi ingin kabur, jantungku berdegup kencang." ucap Friska.
"Iya sudah, kita keluar saja. Kamu yang mengajak, kamu juga yang protes." Qin menepuk jidatnya.
"Jangan gitu dong, lanjut sampai ke rawa-rawa." Friska menggandeng tangan Qin erat, membuatnya sulit untuk melangkah.
"Sudah, sudah, aku mengalah untuk kalian. Biar aku yang memandu di depan." Fredy akhirnya berinisiatif, demi para perempuan.
"Kalau seperti ini, aku tidak dapat menolak." Qin menjawab dengan ceria.
Mereka melangkahkan kaki, melewati goa besar. Setelah itu pohon-pohon besar, yang dibuat dari kain. Namun tetap seram, karena diselingi suara.
"Aku merasa sedang menonton film horor, seram sekali tempat ini." ujar Friska.
"Santai saja, bukan asli juga." Qin berbicara dengan tenang, sambil melihat kegelapan.
Fredy berjalan memasuki rawa-rawa, diikuti oleh langkah kaki Friska dan juga Qin. Suara berisik yang baru saja berbunyi, ternyata kelelawar yang terbang. Mereka terkejut saat diserbu, segera berlari dengan cepat.
__ADS_1
Kuntilanak muncul, dan Fredy menyerangnya menggunakan botol. Friska dan Qin juga membantu, melemparkan gelas-gelas plastik.
"Hahah... dianya kabur." Friska akhirnya merasa lucu juga, setelah dari tadi tegang.
Dikejutkan dengan gendruwo dan juga anak tuyul. Tangan Friska mencoba menarik bajunya, lalu berlari kencang saat melihat darah keluar dari dahinya.
"Hah... hah..." Nafas Friska terengah-engah karena dikejar tuyul.
Puk!
Ada yang menepuk pundaknya, sambil ketawa-ketawa. "Hai Kak? Takut iya?"
Bugh!
"Aduh, siapa si yang menendang lenganku." Friska menepuk-nepuk sikunya yang kotor terkena lantai.
Hantu kepala buntung secara dadakan muncul, membuat Friska tidak tahan untuk bergerak. Tiba-tiba kepala Qin dan Fredy muncul, dia segera memukul kepala buntung jadi-jadian.
"Rasain kamu, akhirnya kena pukul kertas hahah..." Fredy tertawa.
"Aduh, kita terlalu berlebihan liburan kali ini." Qin memegangi perutnya.
Setelah puas bermain di rumah hantu, mereka singgah ke restoran untuk makan bersama. Malah tidak sengaja bertemu dengan Anyi dan Limuq.
__ADS_1
"Hai, kalian ngapain di sini?" tanya Limuq.
"Kami lapar, baru saja dikejar dengan hantu." jawab Friska.
"Memangnya hantunya tidak lari melihat kamu?" canda Anyi.
"Aku ini cantik, beraninya kamu menghinaku seram." jawab Friska.
Anyi mengangkat kedua pundaknya. "Kamu yang bilang, aku tidak mengatakannya."
"Sama saja, intinya tujuan kamu ke arah sana." celetuk Friska.
Limuq dan Anyi membawa mangkuk masing-masing, ke arah meja Qin. Berbalik badan lagi, hanya untuk mengambil kursi.
Tiba-tiba saja dikejutkan dengan kehadiran bos Rudal bersama Lucky dan Thardo. Qin dan Fredy tersenyum menyambut mereka. Friska pun sama, meski ada yang mengganjal.
"Kok bisa bertemu iya?" tanya Friska.
"Tidak ada yang kebetulan, ini adalah takdir indah." jawab bos Rudal.
"Bagaimana dengan Kak Jenny?" Qin penasaran saja, apa dia mengamuk dalam penjara.
"Sejauh ini, dia masih di dalam tahanan. Tapi tenang saja, dia tidak kabur." jelas bos Rudal.
__ADS_1