Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Memberikan Boneka Bunglon


__ADS_3

Pada sore harinya Qin pulang ke rumah, dia bersiap-siap dengan cepat. Hari ini akan pergi ke rumah sakit, untuk menjenguk Fredy. Tentu saja, ada Friska dan Tiger. Qin memikirkan malam besok, bagaimana dia pulang dengan selamat. Kalau kendaraan rusak, dia tidak boleh menaiki kereta pembantaian.


Karina melihat Qin, yang menuruni anak tangga. "Qin, kamu dapat undangan dari stasiun televisi." ujarnya.


"Loh, undangan apa? Aku 'kan bukan selebritis atau artis." Qin bingung sendiri, mendengar penuturan Karina.


"Kamu mendapatkan tawaran jadi duta merek, karena berhasil mengungkap kasus pembunuhan terlicik sepanjang sejarah." Karina tersenyum, bangga terhadap Qin putrinya.


"Ah tidak, sebenarnya banyak bantuan yang lain juga. Lagipula, pelaku belum ditemukan hingga sekarang." Qin masih was-was.


Sesampainya di rumah sakit, Qin mengucapkan salam ketika masuk ruangan. Fredy ternyata sudah bangun dari pingsan, lalu menjawab salam dari Qin.


"Fredy, terima kasih telah menolong aku." ucap Qin.


"Iya, sama-sama calon istriku." Fredy tersenyum.


"Mana Thardo dan Lucky, kenapa membiarkan kamu sendiri." gerutu Tiger.


"Ah tidak, aku yang menyuruh mereka untuk pulang. Sudah lama menjagaku, mereka perlu waktu istirahat. Mereka sudah bekerja dengan baik, besok butuh energi untuk bergulat dengan laptop seharian penuh." jawab Fredy, dengan begitu pengertiannya.

__ADS_1


"Besok, aku diberi hukuman lembur lagi." Qin mengutarakan uneg-unegnya.


"Hmmm... pasti ini berhubungan dengan insiden perobohan gedung tadi." Fredy menebaknya tepat sasaran.


"Iya, tapi tidak apa-apa. Aku 'kan naik mobil, insyaAllah aman kok." ucap Qin.


"Jangan naik kereta tengah malam, dan kalau kendaraan mu rusak segera hubungi aku." pinta Fredy dengan serius.


"Jangan, biar kami tunggu Qin sampai selesai saja. Atau bila perlu kami kembali ke perusahaan, setelah mandi dan berganti baju bebas." sahut Friska.


"Terima kasih, aku tidak akan melupakan kesetiaan kalian." jawab Fredy.


Cekrak!


Cekrek!


Cekrak!


Cekrek!

__ADS_1


Suara kamera membidik Qin berkali-kali, setelahnya gambar akan dipasangkan pada brosur iklan. Kembali ke kampus, membuat mereka bertemu banyak teman.


"Kak Friska, tahun ini kampus kita keren sekali." puji seorang perempuan, dengan rambut kuncir kuda.


"Iya dong, latar belakang foto iklan dengan pemandangan gedung kampus. Kita semua terkenal, kita semua hebat." Bertepuk-tepuk tangan ceria.


Ikut bertepuk tangan juga. "Iya, ini semua karena senior Qin." Ikut bangga, menunjukkan raut wajah tersenyum.


Qin, Tiger dan Friska segera pergi ke perusahaan, untuk menjalani aktivitas seperti biasanya. Friska dan Tiger khawatir, karena Qin akan lembur lagi.


"Bagaimana, kalau boneka bunglon kita serahkan padanya. Aku rasa Qin lebih memahami fungsinya, dan dia lebih membutuhkan untuk penelitian detektif." ujar Friska, mengusulkan idenya.


"Nah, aku setuju dengan hal ini." Tiger manggut-manggut, mengikuti yang bagusnya saja.


Friska dan Tiger menemui Qin diam-diam, lalu mengajaknya ke dalam toilet. Boneka diserahkan menggunakan tangan kanan, dan langsung mendarat ke dalam saku jas Qin.


"Ini untuk berjaga-jaga, banyak rahasia dalam boneka ini." ujar Friska.


"Ini sepertinya boneka, yang pernah aku lihat di jasa pengukiran. Ini bisa menyimpan kunci-kunci penting." jawab Qin.

__ADS_1


__ADS_2