
Duar! Duar!
Suara tembakan telah mengempeskan ban depan, dan mereka berdua keluar dari mobil. Friska segera kabur duluan, namun beberapa orang masih mengejar. Tiger menghadapi mereka seorang diri, selama beberapa menit pertengkaran sengit terjadi.
"Hei, jangan berlari lagi, atau kami tembak kakimu." teriak seorang pria, yang mengejar Friska di belakang.
Friska tidak menghiraukan mereka, yang paling terpenting harus kabur. Friska bersembunyi di toilet umum, dan menguncinya rapat-rapat. Dia berharap siapapun tidak akan mendapatkannya, kecuali orang-orang baik yang akan menolong.
"Di mana perempuan itu bersembunyi."
"Tidak tahu, dari tadi aku sudah memeriksa semua tempat."
Mereka berbincang sejenak, lalu mata teralihkan pada toilet umum. Mereka berpikir bahwa Friska ada di dalam. Gagang pintu mulai bergerak, dan benar saja pintu ambruk.
Tok! Tok!
Pintu mulai diketuk-ketuk, dan mereka curiga ada orang di dalam. Friska membuka jendela kaca toilet dengan perlahan, lalu melompat keluar dengan hati-hati. Dalam hitungan ketiga, pintu sudah berhasil didobrak. Mereka segera berlari, tatkala mendapati jendela yang sudah terbuka.
"Cepat kejar dia!"
__ADS_1
"Iya, jangan sampai dia lolos."
Friska curiga bahwa mereka orang suruhan, karena mengejar terus menerus. Friska masuk ke dalam gerobak sampah, untuk menyembunyikan diri sementara waktu.
"Semoga tidak ketahuan, aku mohon selamatkan aku ya Allah." Friska bergumam lirih.
Qin berjalan bersama Fredy, dan tubuhnya mulai melemas. Dia harus mencari pintu keluar, yang tidak tahu di mana. Semuanya tertutup tanpa cela, dan hanya senter kecil yang menerangi kegelapan.
"Ayo kita lewat sana saja." ajak Fredy.
"Jangan, sepertinya ada yang ingin melangkah ke sini." jawab Qin.
"Eh, di mana dua orang itu?"
"Tidak tahu, mereka mungkin saja kabur." jawab empat orang lainnya.
Qin dan Fredy terus berjalan merangkak, tidak tahu akan menembus kemana. Sudah beberapa jam berjalan, masih saja tetap di sana.
"Eh, kamu jangan banyak bergerak. Biar aku cari bagaimana cara kabur dari sini." ucap Fredy.
__ADS_1
"Iya, tak apa-apa juga sekalian bantu." jawab Qin, dengan santainya.
"Kamu lihat dirimu, sudah lemas begini masih sibuk mencari jalan keluar. Biar aku saja yang lakukan." Fredy mengganti perban di perut Qin, dengan perban yang baru.
"Iya sudah, kamu sendiri saja yang melakukannya." jawab Qin.
"Jaga diri baik-baik, aku pergi dulu." Meninggalkan Qin, setelah selesai mengikat perban.
"Iya, kamu juga hati-hati." Qin melambaikan tangan.
Tidak terlihat jelas lagi Fredy, karena kegelapan menghalanginya. Hanya terlihat senter, dan bayangannya saja. Berjalan menjauh, semakin meninggalkan Qin sendiri.
"Aku harus bor tembok ini, pokoknya sampai berhasil menemukan jalan keluar." monolog Fredy.
Fredy membuka tas ranselnya, lalu mengebor dengan perlahan. Beruntung ada alat praktis, yang tidak perlu menggunakan listrik. Namun sayangnya, tetap tidak menemukan titik celah. Malah dindingnya menembus tanah, bukan tempat pada leluasa terang.
"Sepertinya langit-langit ruangan ini bisa tembus, dan aku bisa melihat langit dan matahari." Fredy tidak menyerah, masih berusaha mengebor dinding lagi.
Tiger mencari Friska ke sana dan kemari, namun tidak ditemukan juga. Padahal dia berhasil mengalahkan mereka, meski pelipis dan perutnya sempat terluka.
__ADS_1