
Di tempat kursus, Qin dipanggil ke ruang tugas. Kali ini akan mendapatkan hadiah sertifikat detektif berkelas. Bagaimana tidak, ada sebuah kasus yang tidak terpecahkan dua puluh tahun lamanya. Polisi memilih angkat tangan, menyerah dalam menangkap penjahat halus ini.
"Kamu aku beri tugas, untuk menyelidiki perusahaan Kharuga. Di sana banyak terjadi kasus kriminalitas." ujar Kakak detektif, bernama Coal.
"Iya Kak, aku akan melakukan penyelidikan secara diam-diam." jawab Qin.
"Lantas, kamu tidak ingin mencari orang lain untuk membantumu?" tanya Coal.
"Jika diizinkan, aku ingin mengajak seseorang. Dia orang terpercaya, yang bisa diandalkan dalam menutup rencana." jelas Qin.
Qin memasuki ruangan darurat, tempat penyimpanan berkas pasar ilegal. Semua penyamarannya sudah lengkap, mengenakan jaket hitam dengan penutup kepala. Qin memperhatikan sekeliling, sambil berjalan mengendap-endap.
Akhirnya satu berkas penting, berhasil dipeluk kedua telapak tangannya. Qin membuka perlahan-lahan, lembar demi lembar kertas. Qin membulatkan kedua bola matanya, tatkala mendengar derapan langkah kaki.
Tap!
__ADS_1
Tap!
Tap!
Hiya, begitu dia ingin meraung sebenarnya. Seberani-beraninya manusia, tetap ada rasa deg-degan. Qin segera bersembunyi, sambil menyelipkan berkas dalam rongga jaketnya. Kini berkas itu bertumpu pada perutnya, yang bergerak naik-turun.
”Siapa sebenarnya dia, mengapa mencurigakan sekali. Jangan-jangan, dia mata-mata perusahaan ini.” batin Jenny.
Jenny mempunyai ide untuk membuat manusia yang bersembunyi itu keluar. Meski dia tidak tahu, akankah rencananya berhasil. Jenny menggerakkan tombol pada dinding, tiba-tiba lemari bergerak sendiri. Qin terus menghindar, karena tidak mau terhimpit. Namun lama kelamaan, lemari seakan mau menabrak satu dengan yang lain.
Qin menginjak salah satu laci lemari, agar bisa memanjat sampai ke atas. Dia tidak mau berakhir mengenaskan, karena kehabisan oksigen. Manusia mana yang tidak mati, bila tubuhnya dihimpit paksa benda berat.
Setelah semua lemari saling tabrak, tidak ada juga suara teriakan. Jenny semakin kesal, karena tidak tahu siapa penyusup tersebut. Lain kali aku pasti menemukanmu, ancamannya yang masih terpendam dalam naluri.
Kunci sudah dimainkan olehnya, dia segera mengunci ruangan yang sempat terbuka. Qin menghela nafas lega, meski dia tidak tahu bagaimana caranya keluar. Fredy mondar-mandir di parkiran, menunggu Qin yang katanya mau pulang bersama.
__ADS_1
"Qin, kamu di mana si. Tadi katanya cuma sebentar, ternyata sangat lama."
Bersamaan dengan itu Jenny muncul, mengejutkan Fredy yang lagi melamun. Fredy menghembuskan nafas panjang, sambil mengelus-elus dadanya yang terkejut.
"Menunggu siapa?" tanya Jenny.
"Aku menunggu Qin." jawab Fredy.
"Memangnya dia masih ada dalam perusahaan?" Jenny tersenyum seperti biasa, namun Fredy tahu bahwa dia sedang selidik.
"Mana mungkin, dia tadi pergi ke mall di seberang jalan." Fredy menunjuk gedung yang sangat besar, tidak jauh dari pedagang kaki lima bertengger.
"Aku kira, dia masih mengerjakan sesuatu." ucap Jenny.
"Tidak, tidak, ini sudah terlalu larut." jawab Fredy.
__ADS_1
Kota benar-benar padat, dengan aktivitas manusia. Ada yang menuntut ilmu, mencari nafkah, atau mungkin aktivitas penting lainnya. Hari ini, ada satu karyawan yang pulang paling terakhir. Qin mengirim pesan pada Fredy, bahwa dia terkurung di sebuah ruangan. Fredy segera berlari masuk ke dalam, setelah kepergian Jenny. Fredy bertegur sapa dengan pria tersebut, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu lift. Kelihatannya, pria itu baru saja menyelesaikan lembur.