Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Sedih Setelah Membunuh


__ADS_3

Dikepung oleh Joy, rumah itu tetap tidak ada tanda pergerakan. Qin melihat ke arah dinding yang berlubang, lalu segera menyuruh mereka menyingkir.


"Shhht... jangan bersuara, cepat bersembunyi. Ada bos Joy dan anak buahnya." titah Qin.


"Baiklah Qin." jawab Friska lirih.


Anyi membantu Friska berdiri, dari posisinya yang terbaring. Qin tidak bisa mengajak lewat belakang, karena ada anak buah Joy juga.


"Bersembunyi di mana?" tanya Tiger.


"Cari cara yang cepat, sebelum terlambat." jawab Fredy.


Brak!


Suara pintu didobrak, dan begitu mudahnya ambruk. Harap maklum, pintunya sudah tidak kokoh lagi. Joy dan anak buahnya sudah berkeliling, namun tidak menemukan Qin dan teman-temannya.


"Sia-sia aku turuti saran darimu, ternyata tidak ada mereka di sini." Joy mencengkeram kerah baju anak buahnya.


"Maaf bos, tadi aku melihat cahaya seperti senter." jawabnya, dengan takut-takut.

__ADS_1


"Hah, baiklah. Kita bisa menjadikan tempat ini markas sementara, kita berisitirahat saja di sini. Pikirkan cara, untuk membunuh para tentara itu." ujar Joy.


"Mereka berhasil mengebom markas kita bos. Kurang ajar sekali, tidak tahu mereka bagaimana kejamnya kita." Menghardik para tentara, yang dianggapnya pembawa musibah.


"Kalau begitu, tunjukkan bagaimana kejamnya kita. Pasang jebakan di seluruh tempat ini." titah Joy.


"Baik bos." jawab semuanya.


”Jadi, para tentara sudah datang. Bertepatan sekali, aku ingin keluar dari tempat ini. Aku sudah pasrah, bahwa ternyata Kak Arina telah mati.” batin Qin.


Qin menutup mulutnya sendiri, sedangkan Anyi sibuk menyenggol lengan Qin. Ada seekor cicak, yang bertengger dengan santai. Limuq segera mengibaskan cicak itu, khawatir bila Anyi akan berteriak.


"Ingat iya, dalam hitungan ketiga kita harus berpencar." ujar Fredy.


"Untuk apa? Bukankah semakin mengurangi jumlah kekuatan." jawab Anyi.


"Justru itu, kita akan menghabisi mereka perlahan. Mereka sedang membuat jebakan sana-sini, pasti sedang berpencar. Ini kesempatan kita, ayolah semuanya mohon bekerjasama." pinta Fredy.


"Baiklah, aku akan pergi dengan Friska." jawab Tiger.

__ADS_1


Usai kesepakatan, semuanya keluar dari persembunyian. Tidak serentak, namun secara bergiliran. Kalau terlalu ramai, bisa saja menimbulkan suara.


Friska dan Tiger sudah sampai di kamar mandi. Mereka memukuli anak buah mafia itu dengan kayu besar. Mereka berdua tergeletak, dengan darah bercucuran di mana-mana.


"Ada yang mau datang, ayo segera sembunyi." ajak Tiger.


"Iya, iya." Friska berjalan dengan cepat, bersembunyi di balik bak mandi.


Joy tercengang melihat kondisi anak buahnya, kemurkaannya semakin menjadi-jadi. Dia menembakkan senjata sekeliling, memaksa yang bersembunyi agar keluar. Friska tetap tidak ingin keluar, karena dia bisa mati tertembak.


"Cepat keluar kalian, jangan gunakan cara seperti ini." Teriakannya memenuhi seisi ruangan.


Qin dan Fredy menendang para mafia, yang sedang berada di ruang tamu. Setelah berhasil membuat mereka terjatuh, Qin dan Fredy mengambil senjata pistol mereka.


Duar! Duar!


Tembakan berhasil melayangkan pelurunya di pelipis, dan bagian anggota tubuh yang lainnya. Mereka langsung tewas, karena tidak berdaya lagi.


"Maafkan aku, sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini." Qin menangis, tatkala melihat pertumpahan darah.

__ADS_1


"Sudahlah, ini bukan salah kita. Mereka yang mengejar-ngejar kita, untuk mencari serangan kematian." Fredy menenangkannya.


__ADS_2