Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Panik


__ADS_3

Mereka semakin mempercepat langkah kaki, agar bisa keluar dari markas Joy secepatnya. Gedung seluas itu, merupakan kediaman Joy bersembunyi. Di sana dia bebas melakukan aksi kejahatan, karena jauh dari masyarakat sekitar.


Mereka bingung harus berbelok kemana, melihat lorong yang banyak tempat berbelok. Sisil menunjuk sebelah kanan, namun Fernan menunjuk sebelah kiri. Keduanya sama-sama fokus ingin pergi, tanpa harus kembali lagi.


"Kak, kita ke arah mana?" tanya Fernan.


"Yang kamu pilih tadi saja." jawab Sisil.


Mereka segera berlari melewati lorong sebelah kiri. Setelah itu keduanya berhasil keluar, dari gedung besar tersebut. Mereka terpaksa bersembunyi di kandang ayam.


"Haduh, ada para pekerja taman hiburan lagi." bisik Fernan.


"Iya, kita harus sembunyi di tempat binatang-binatang ini, untuk sementara waktu." jawab Sisil lirih.


Setelah cukup lama pingsan, akhirnya Qin sadar juga. Kedua bola matanya melihat seorang pria, yang masih setia menunggunya.


"Qin, rasanya tanganku sakit sekali." ucap Fredy.


"Kenapa kamu ikut lompat juga." jawab Qin.


"Lompat atau gak lompat, itu tuh sama aja Qin. Aku juga terpaksa, karena mereka menyodorkan tembakan." ujar Fredy.

__ADS_1


"Alasanku lompat ke tebing ini sangat sederhana, bukan karena aku takut mati. Tapi, karena aku harus menemukan Kakak terlebih dulu. Aku harus membawanya keluar dari tawanan bos Joy. Mamaku sampai sakit-sakitan, karena terlalu merindukannya. Setiap hari dia sering termenung, memikirkan Kakak yang menghilang. Sejak itu, aku memutuskan untuk menjadi detektif." jelas Qin, panjang dan lebar.


"Kamu yang sabar iya, semoga kita masih dipertemukan dengan Kak Arina." ujar Fredy.


"Iya, meskipun harapan itu terlihat kecil sekali." jawab Qin.


"Semangat Qin, karena di dunia ini adalah Qun Fayakun." jawab Fredy.


Qin tersenyum, sambil memegang kepalanya. Kini dia benar-benar merasa pusing, dan memerlukan pemulihan sementara waktu.


"Qin, lebih baik kita tinggal sementara di gua." ujar Fredy.


"Aku takut ada kelelawar lagi, nanti kita tidak bisa tidur." jawab Qin.


"Baiklah, hari sudah gelap juga." jawab Qin.


Mereka melangkahkan kaki, menuju ke area gua. Batu-batuannya yang kokoh, menambah kesan tersendiri bagi mereka. Sepertinya gua itu sudah cukup lama, berada di tengah hutan tersebut.


"Qin, kamu tunggu di dalam. Aku akan mencari kayu bakar." ujar Fredy.


"Iya Fredy, aku akan menyiapkan batu-batuan untuk kita bersandar." jawab Qin.

__ADS_1


Mereka berdua memang benar-benar kompak, dalam menyusun pembagian tugas. Keduanya melangkahkan kaki masing-masing, dengan berbeda tindakan yang dilakukan.


"Qin, apa ponsel kamu ada sinyal?" tanya Fredy.


"Seharusnya kamu lihat ponselmu." jawab Qin.


"Ponselku drop baterainya." ujar Fredy.


"Sangat disayangkan, berarti kita satu paket." jawab Qin.


Fredy megambil dua jagung, yang dia bawa dalam tasnya. Qin tabu, bahwa Fredy telah membawa persiapan.


"Sekarang juga, ayo kita bakar jagung." ajak Fredy bersemangat.


Qin terlihat semringah. "Iya, sampai masak."


Beberapa menit kemudian, jagung sudah bisa dikonsumsi. Jagung itu sudah bisa dinikmati bijinya.


"Punyaku sedikit gosong." keluh Fredy.


"Kamu kelamaan meletakkannya di atas api." jawab Qin.

__ADS_1


Qin mencubit-cubit biji jagung, lalu memberikan pada telapak tangan Fredy. Dia sudah seperti pengemis yang meminta, dengan menengadahkan tangannya pada target. Qin dan Fredy akhirnya sedikit kenyang, karena perut mereka terisi.


__ADS_2