Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Menerobos Kebun


__ADS_3

Brak!


Suara kaki Fredy yang lompat, telah membuat murka. Anak buah Joy segera berlari mengejar mereka, yang sudah berlari duluan.


"Ayo cepat Fredy, waktu kita tidak banyak lagi." ujar Qin.


"Iya Qin, aku mengerti kok." jawab Fredy.


Fredy segera berlari menerobos semak, tidak peduli dengan rumput liar berduri. Pikiran mereka berdua kini ingin lepas, dari kejaran mereka. Terutama Qin yang ingin mencari Arina, tanpa merasa was-was lagi.


"Mereka masih mengejar di belakang." teriak Qin.


"Iya, aku bisa melihat cahaya senternya. Cepatlah, kau saja yang berada di depan." titah Fredy.


"Tidak, tidak, jangan banyak tukar posisi. Itu hanya akan memperlambat waktu." Qin terengah-engah.


"Iya kamu benar, ayo terobos kebun semangka itu." Fredy menunjuk tumbuhan di depannya.

__ADS_1


Qin menerobosnya, bersama langkah kaki Fredy. Kini mereka berdua memasuki tumbuhan jagung, yang benar-benar sudah tinggi.


"Qin, sepertinya kita harus keluar dulu dari sini." ucap Fredy.


"Kamu niat gak si, untuk bantuin aku. Kak Arina belum ditemukan, gimana coba mau keluar." jawab Qin.


"Aku tahu, tapi ini sudah lama banget. Bagaimana kalau semakin banyak korban." ucap Fredy, yang berusaha membujuk.


"Kalau kamu merasa mereka mati karena proses pencarian, lebih baik kamu pergi saja sana. Aku bisa kok, tetap berusaha cari Kakak." jawab Qin.


"Bukan seperti itu maksudku Qin, kau hanya salah paham padaku." ujar Fredy.


"Intinya, kau salah mengartikan ucapanku ini." ucap Fredy.


"Baiklah, hentikan perdebatan kita. Aku ingin mencari Kakak sampai ketemu, meskipun hanya ada tulang belulangnya saja. Kalau kau ingin pergi, aku persilakan." jelas Qin, panjang dan lebar.


"Tidak, aku akan tetap menemani kamu." ujar Fredy.

__ADS_1


"Baiklah, ayo pergi sekarang juga." jawab Qin.


Tiger bersembunyi di dalam lorong, yang terdapat pintu masuk terowongan. Dia tidak ingin, bila orang-orang itu menangkapnya. Dia pasti akan sangat tersiksa, tanpa sebuah pertolongan sama sekali. Pikirannya masih teringat Qin, yang berjuang di sana seorang diri.


”Qin selamat tidak iya, atau sekarang tubuhnya sudah dicincang-cincang.” batin Fredy.


Friska terbangun dari pingsannya, lalu mendapati tubuhnya yang terikat. Dia juga merasakan mulutnya sulit bicara. Wajar saja, karena mulutnya tertutup dengan lakban. Terakhir kali dia ingat, bahwa dirinya terjatuh pingsan.


”Oh iya, waktu itu aku dipukul. Lalu aku pingsan, dan orang-orang jahat itu pasti membawaku ke sini. Bagaimana iya dengan Tiger, apa dia berhasil selamat. Kenapa si aku harus tertangkap, sekarang bagaimana caranya lepas.” batin Friska.


Qin dan Fredy melihat helikopter, yang hangus terbakar. Tinggal tersisa rontokan besi, yang tampak hitam pekat. Hangus terbakar api yang menyala-nyala. Qin merasa sedih, seolah harapannya akan kandas.


"Aku tidak ingin, bila kalian menjadi korban. Lebih baik, kalian pergi saja." ujar Qin.


"Ah tidak, aku pasti akan tetap memperjuangkannya." jawab Fredy.


"Aku tahu, kau melakukan ini untuk membantu. Namun aku semakin sadar, bahwa kematian mereka karena niat baik dalam hal ini." ungkap Qin, dengan lantang.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan terus menyalahkan diri sendiri." jawab Fredy.


Qin semakin tak berdaya, lalu menangis tersedu-sedu. Dia tidak tahu, harus bagaimana cara melawannya. Jika dapat menghentikan lebih cepat, tentu saja dia sangat ingin. Sebelum, lebih banyak lagi korban yang berjatuhan.


__ADS_2