
Qin dan Fredy berlarian di atas plafon ruangan, lalu dalam hitungan tiga melompat ke bus yang sedang lewat. Qin ternyata tidak melompat dengan tepat, dia hampir terjatuh dan masih tergantung.
"Fredy, tolongin aku." pinta Qin.
"Iya, iya, tenanglah di sana." jawab Fredy.
Fredy berusaha membantu Qin, hingga berhasil naik ke atas plafon. Mereka menatap sekeliling, ternyata tidak berada di terowongan lagi. Berarti bak mayat itu, berada di sebuah ruangan khusus.
"Fredy, mengapa mereka tidak mengejar kita?" tanya Qin.
"Mereka tidak akan membiarkan kita bebas begitu saja, pasti masih berusaha mengejar meski tersembunyi." jawab Fredy.
"Aku takut membahayakan kondisi rumah. Bagaimana bila aku tinggal sendiri saja di kosan." Qin merasa khawatir.
"Tidak, tetaplah tinggal bersama Mama dan Papa kamu." jawab Fredy, berusaha mencegah niat Qin.
__ADS_1
Tiger pingsan di tengah perjalanan, dan ditolong oleh warga sekitar. Dia dibawa ke rumah sakit terdekat, untuk mendapatkan perawatan yang seharusnya.
"Dia seperti dirampok, ada luka tusuk pada perutnya."
"Iya, tidak tahu siapa yang tega melakukannya."
Friska sudah sampai di kantor polisi, setelah perjalanan panjang berlari menyelamatkan diri. Tangan kanannya mengusap peluh, yang bercucuran sejak tadi. Polisi memeriksa video tersebut, ternyata memang rekaman asli.
"Dari mana kamu menemukan asal flash disk ini?" tanya polisi.
"Aku menemukan flash disk ini dari karyawati magang di kantorku. Sepertinya flash disk ini sengaja dijatuhkan di jalan, lihat saja bekas goresannya. Seperti terkena gesekan benda tajam, seolah didorong paksa agar terlempar keluar." Friska menduga-duga saja, dengan yang ada di pikirannya.
"Kalian harus hati-hati, mereka pembunuh terlicik sepanjang sejarah. Harus membawa bantuan Brimob dan ABRI." Friska memberitahu mereka, untuk menyiapkan pasukan yang kuat.
Tiger terbangun dari keadaannya yang tidak sadarkan diri. Dia menatap langit-langit kamar, dan merasa sangat asing. Dia melihat tangannya ada selang infus, dan juga perutnya ada perban. Badannya masih sulit digerakkan, terasa sakit sekali.
__ADS_1
”Friska! Di mana kamu Friska, apa kamu sudah berhasil melaporkan polisi? Atau kamu sedang dalam bahaya, karena dikejar oleh mereka.” batin Tiger.
Bus berbelok-belok saat melewati jalan aspal, Qin dan Fredy berpegangan kuat pada plafon. Banyak darah tembus di perban Qin, dan matanya tiba-tiba saja tertutup. Sepertinya Qin sedang pingsan, tangan Fredy berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Qin, kamu bertahanlah. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu." Fredy menggebrak kaca bus, supaya para penumpang mengetahui ada orang.
Bus berhenti sejenak, dan Fredy berhasil mendapatkan bantuan. Mereka berdua diantar ke rumah sakit oleh supir taksi. Bertepatan dengan itu, Tiger keluar dari ruangan sebelah. Dia duduk di kursi roda, didorong keluar oleh suster.
"Tiger!" panggil Fredy.
Tiger menyuruh suster untuk berhenti mendorong. "Fredy, aku lega melihat kamu tidak kenapa-kenapa." Memeluk tubuh Fredy dengan perlahan.
"Aku juga senang, kita bisa berjumpa kembali." Fredy membalas pelukan Tiger.
"Di mana Qin, dari tadi tidak melihatnya." Tiger takut temannya kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Qin sedang dirawat dalam ruangan, kondisinya lumayan parah. Dia banyak kehabisan darah, karena terlalu lama dalam ruangan kedap udara." jelas Fredy. "Kamu sendiri mau kemana?"
"Aku mau ke toilet lain, karena toilet dalam ruangan rusak." jawab Tiger.