
Qin dimarahi bos Rudal saat apel pagi, karena bajunya tidak sama dengan yang lain. Padahal selama praktik kerja, disuruh mengenakan jas dari kampus.
"Qin, sebagai hukumannya kamu harus lembur." titah bos.
"Apa?" Malah Tiger yang berteriak sampai menutup mulut sendiri, saat semua orang melihat ke arahnya.
"Kenapa? Kamu keberatan?" Kini giliran dia yang ditatap bos Rudal.
Hanya berani bergeleng-geleng, tidak mungkin juga jujur. Melihat tampang bos yang terlalu galak, nyalinya malah semakin menciut. "Terserah bos saja, yang penting aku tidak lembur." Mencari cara menyelamatkan diri.
Friska menyenggol lengan Tiger. "Kamu pikir, Qin akan baik-baik saja. Kita harus menemani dia, aku tidak ingin dia jadi korban."
"Tapi, aku takut terjadi sesuatu." Terlintas hal menyeramkan di kepalanya, seperti diculik, dibantai, dicincang, dan lain sebagainya mengenai kegiatan pembunuhan.
__ADS_1
Jenny si jutek menatap sekeliling sambil cemberut, lalu segera masuk ke dalam perusahaan. Dia pergi ke pantry, lagi pula apel pagi sudah diakhiri juga.
"Kakak, aku mau masak mie, apa Kakak mau juga?" tawar Tiger.
"Hmmm... antar saja ke ruangan." Jenny berjalan santai, tanpa menoleh orang yang mengajaknya bicara.
”Kalau tidak karena tugas dari Fredy, aku tidak bakalan mau menawari perempuan culas sepertimu.” batin Tiger.
Fredy kepikiran dengan Qin, yang akan melaksanakan lembur nanti malam. Baru kemarin berita heboh tentang menghilangnya Theno, sekarang malah Qin lagi yang ditargetkan.
Qin malah tersenyum dengan santainya. "Bukankah ini kesempatan kita, untuk mengetahui apa yang terjadi." jawabnya elegan.
"Eh, maksudnya kamu berencana?" Fredy masih belum mengerti.
__ADS_1
"Tidak juga, ini ada unsur ketidaksengajaan. Semalam waktu kamu telepon langsung aku angkat, sampai aku lupa kalau lagi menyetrika." jawab Qin jujur.
Waktu terus bergulir, makan siang telah berlalu, sampai tiba senja menghilang kembali dipingit langit. Setelah sibuk menggeledah ruangan Jenny, barulah Tiger menemukan sebuah boneka unik. Warnanya bisa berubah-ubah seperti bunglon, bersamaan dengan itu berbunyi suara "masuk dan keluarlah sesuka hati."
Tiger melihat kursi sofa, Jenny masih tertidur pulas. Akibat obat tidur yang diberikannya, semua aksi berjalan dengan lancar. Tiger segera keluar dari ruangan, agar tidak ada yang mencurigainya. Betapa bosan dirinya, keluar masuk ruangan. Mengimbangi waktu mengerjakan tugas laporan, dan juga membantu Fredy.
Burung hantu terdengar bersuara nyaring, menambah kesan seram malam itu. Jenny keluar dari perusahaan, lalu melihat Fredy, Tiger, dan Friska yang berdiri di luar. Jenny kembali masuk ke dalam, mengejutkan Qin yang sedang menunduk.
"Qin, apa kamu tidak kasian merepotkan teman-teman? Aku lihat mereka menunggu di teras kantor? Tidak beranikah kalau lembur sendirian?" Jenny menyerang pertanyaan bertubi-tubi.
"Mereka terlalu peduli, jadi Kakak tidak perlu khawatir. Aku tidak memintanya, mereka yang bersedia sendiri. Mungkin, mereka kasian padaku. Inilah yang disebut persahabatan sejati. Saling peduli satu dengan yang lain." jawab Qin.
"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan merepotkan orang lain begitu lama." Jenny berbicara dengan aura dinginnya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu suruh mereka pulang saja." Qin seolah tidak khawatir apapun, padahal berita tentang perusahaan itu sedang tersohor.
Jenny pergi begitu saja, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sampai di tempat parkir, dia menghidupkan remote mobilnya.