
Friska dan Tiger pergi, menjelajahi ruang demi ruang. Mereka mencari keberadaan Arina, masih berharap untuk menemukannya.
"Friska, please keluar dulu dari gedung markas ini. Aku merasa sangat lapar, butuh sekali asupan makanan." ujar Tiger.
"Tapi, bagaimana dengan Qin. Dia disiksa oleh bos Joy. Semua tawanan eksekusi, tidak ada yang mendapat perlakuan spesial." jawab Friska, dengan panik.
"Baiklah, kita coba cari sekali lagi." ajak Tiger.
"Iya Tiger." jawabnya.
Mereka berjalan ke arah belakang gedung, dengan pandangan yang awas. Takut, bila para mafia itu tiba-tiba muncul. Langkah kaki Friska terhenti, tatkala menginjak sesuatu. Ternyata penutup besi, yang menghubungkan dengan ruang bawah tanah.
"Tiger, ayo kita turun ke bawah. Ada ruangan di sini." ujar Friska.
"Iya Friska." jawab Tiger.
Friska dan Tiger mengangkat penutup ruangan itu, dengan pelan-pelan. Mereka turun ke bawah, dan melihat banyak berkas catatan.
"Ruang ini diberi lampu, apa bos Joy akan sering ke sini?" tanya Friska.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, kita harus hati-hati." jawab Tiger.
Mereka membuka buku-buku yang tertata pada rak. Friska sangat terkejut, saat membaca penjualan organ tubuh. Buku yang dipegangnya, sampai terlempar ke lantai.
"Friska, ayo kita keluar dari sini." ajak Tiger.
"Iya, sepertinya tempat ini tidak aman." Friska menyetujui ajakannya.
Baru saja mau keluar, tiba-tiba mendengar seseorang berbicara. Dua orang itu berbincang, menuruni anak tangga bawah tanah. Beruntung saja, Fredy dan Friska telah bersembunyi.
"Hei kepala botak, kenapa ada buku di lantai?" tanya pria gondrong.
"Apa ada orang yang menyelinap ke sini?" Pria botak melihat debu, yang menempel pada lantai. Jejaknya sama persis, seperti alas sepatu.
"Bukan apa-apa, ayo segera keluar." Menjawab, sambil tersenyum.
Mereka segera menapaki anak tangga, untuk keluar dari ruangan bawah tanah. Friska dan Tiger segera keluar dari persembunyiannya, dengan nafas ngos-ngosan. Rasanya masih memburu dalam ingatan, semua bayangan tentang tindakan sadis mereka. Semuanya tercatat, dalam ruangan bawah tanah tersebut.
Joy hendak melayangkan cambuk besi panas pada Qin, namun ayunannya terhenti tatkala mendengar ponselnya berbunyi. Kali ini, nasib baik masih memihak pada Qin. Joy membelakanginya sambil terus berbicara, dengan orang di seberang telepon.
__ADS_1
”Ternyata, di sini ada sinyal. Buktinya saja, dia bisa menghubungi seseorang.” batin Qin.
Tiger dan Friska menapaki anak tangga, dan membulatkan kedua mata. Mereka melihat para penjahat itu, berdiri di arah pintu masuk. Pria botak dan gondrong itu, tidak benar-benar pergi. Namun, hanya memancing keduanya untuk keluar.
"Berhenti di tempat, atau akan kami tembak." ancam pria gondrong.
Tiger berbisik lirih pada Friska, tentang siasat yang akan dia rencanakan. Friska mengangguk paham, lalu membalikkan badan bersaman dengan Tiger. Mereka berdua kompakan mengangkat tangan, di atas kepala. Dalam hitungan tiga, aba-aba telah dimulai.
Bugh!
Tiger dan Friska menendang kedua orang itu, lalu berlari secara bersamaan. Pria gondrong berhasil mengangkat pistolnya, hingga menembak betis Tiger.
"Tiger, ayo bangun." Friska hendak membantunya.
"Sudahlah, cepat pergi. Kamu jangan hiraukan aku di sini." jawab Tiger.
"Tapi, aku tidak mungkin meninggalkan kamu." ucap Friska.
"Cepat pergi, aku tidak apa-apa." Tiger cemas, tatkala melihat mereka mendekat.
__ADS_1
Friska merasa keberatan, jika disuruh melangkah pergi. Semacam egois yang memikirkan diri sendiri.