Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Lamaran Dadakan


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit, disambut dengan makan besar. Semuanya sudah berkumpul di maja makan, termasuk Arka dan juga Deni serta Dita.


"Oma, Qin rindu sekali." Memeluk erat omanya.


"Iya, Oma juga rindu kamu." Membalas pelukan Qin.


"Kenapa kamu tidak memberi kami kabar, menghilang begitu saja." sahut Deni.


"Eh iya, aku belum menjelaskannya. Sinyal payah dicari Opa, di sana tempat kriminalitas ilegal." jawab Qin.


"Nah, lain kali kamu jangan membuat kami khawatir lagi. Setiap saat kalau berkumpul, kami pasti bercerita tentang kepergian mu." Deni mengingat masa-masa sulit, tatkala Arka menangisi putrinya yang tidak kembali.


"Kamu tahu tidak, Papa menangis saat kamu pergi dari rumah." ungkap Arka jujur.


"Ah Papa, romantis sekali." Qin merasa senang, mendengar penuturan Arka.


Seminggu kemudian, keadaan Qin semakin membaik. Kali ini dia jalan dengan Fredy, bersama dengan Friska dan Tiger. Friska dan Tiger sudah merencanakan pernikahan.


"Kapan kita akan menikah?" tanya Tiger.


"Tahun depan saja, sekarang masih fokus mau kuliah." jawab Friska.

__ADS_1


"Qin, ada yang ingin aku bicarakan." ucap Fredy.


"Iya, bicarakan saja." jawab Qin.


"Aku ingin melamar kamu, bersediakah menjadi calon istriku?" tawar Fredy.


"Hmmm... insyaAllah aku bersedia, tapi menikahnya menunggu waktu yang tepat." jawab Qin, mengajukan keinginannya.


Fredy mengangguk-angguk sambil tersenyum, lalu Friska dan Tiger tepuk tangan. Mereka melihat serbuk bunga yang dibawa oleh kumbang. Benar-benar indah pagi itu, di puncak gunung menghirup udara segar.


"Kalau mau berkemah kalian trauma ada mafia tidak?" canda Friska.


"Iya, kejadian menyeramkan waktu itu masih membekas." jawab Tiger.


"Hah? Hampir dimulai sebentar lagi iya?" Terkejut, padahal dia pun sudah mendapatkan informasi dari dosen.


Keesokan paginya, Qin menemui dosen pembimbing. Friska pun begitu, dia ingin menanyakan perihal surat pengajuan.


"Bu, bagaimana cara membuat surat permohonan magang?" tanya Friska.


"Buat dengan kalimat kalian sendiri, yang terpenting sopan. Nanti dikirimkan ke alamat perusahaan Kharuga." jawab Serna.

__ADS_1


Hari pertama praktik dunia kerja tiba, setelah kemarin mengusulkan permohonan magang secara online. Qin menatap gedung yang menjulang tinggi tersebut. Ada harapan hari ini semua berjalan lancar, agar menjadi sebuah kenangan sebagai bagian pengalaman hidupnya.


Bruk!


Tidak sengaja mempertemukan pundaknya, dengan pundak seorang perempuan berkacamata. Bertabrakan itu artinya memperkenalkan diri yang awalnya asing.


"Maaf!" Qin yang memulai, karena dia sadar tidak fokus.


"Iya, tidak apa-apa." jawabnya datar saja.


”Eh, tumben ada yang seperti ini. Biasanya pada ngegas semua.” Gumam Qin di dalam batin.


Berjalan dengan pelan-pelan, meninggalkan Qin dan teman-teman. Anyi yang paling tercengang, melihat perempuan berwajah dingin tadi.


"Eh, kok serem banget iya orang itu." ujar Anyi.


"Iya, aku juga tidak tahu." jawab Qin.


Pada tengah malam saat angin berdesir, menyapu daun-daun yang rontok di jalanan. Qin berjalan kaki dengan mengenakan penyamaran lengkap. Qin ingin menyelidiki diam-diam, tentang menghilangnya salah satu karyawati kantor. Itu adalah kejadian berulang, dengan penyebab yang sama. Sebelumnya juga banyak korban yang tidak diketahui mayatnya. Qin tidak sendirian, dia bersama Fredy menelusuri kelembaban udara.


"Qin, mau mulai darimana?" tanya Fredy.

__ADS_1


"Aku mau mulai mengikuti rute perjalanan pulang, ke alamat karyawati bernama Desmati tersebut." Qin tampak sudah menemukan jalan pikiran yang dituju.


Beberapa hari lalu masih buntu, memikirkan kasus yang berterbangan di sosial media. Tentang perusahaan yang menjadi tempat praktik kuliahnya, banyak kehilangan karyawati secara misterius.


__ADS_2