
Ketua adat desa menyuruh dua orang itu berada di sampingnya. Pak Samri berniat memberitahu apa yang dia lihat, tentang kejadian detailnya pun tidak tahu.
"Pak Samri, apa benar kamu melihat perempuan ini jatuh dari tebing?" Menunjuk Qin.
"Iya benar, namun tidak tahu penyebabnya." jawab pak Samri.
"Wasli, apa kamu membunuh pengawal orang-orang ini?"
"Mana mungkin Paman, ini hanya fitnah." jawab Wasli.
"Aku melihat langsung dengan kedua bola mataku, bahwa kamu membunuh seorang laki-laki. Mengaku saja, jangan mengelak." sahut Qin.
"Hei nona kota, kamu jangan sembarangan bicara. Tidak ada bukti, sama saja menjelekkan kampung ini. Seolah desa kami membiarkan bandit berkeliaran." Berpangku tangan.
"Benar, kalau mereka masih sibuk bakar saja hidup-hidup." sahut salah satu anak buah bandit.
"Benar, orang pendatang baru mencari sensasi." timpal orang di sebelahnya.
Arka, Karina, dan Qin hendak dihakimi warga, karena disangka menuduh ponakan orang terhormat. Arka segera mengedipkan mata sambil menarik lengan Karina. Qin mengikuti mereka memilih melarikan diri, daripada akhirnya mati dengan mengenaskan.
__ADS_1
"Cepat, sebelum kita tertangkap." ujar Arka.
"Bersembunyi di mana? Aku tidak tahu." jawab Karina.
Qin melihat sebuah gedung besar. "Ayo bersembunyi di pabrik gas itu." ajak Qin, terburu-buru.
"Iya sudah, tidak ada pilihan lain." Arka menuruti langkah kaki Qin, yang sudah duluan.
Mereka berada di dalam cukup lama, sambil mengawasi dari lubang kecil. Tidak ada tanda-tanda pergerakan selama setengah jam. Hanya terdengar suara burung yang bersahut-sahutan.
"Mengapa hal sebesar ini, kalian sembunyikan dari Mama." Karina merasa tidak terima.
"Tahu di akhir seperti ini juga, lebih membuat gelisah. Siapa yang akan tenang, dikejar-kejar seperti buronan." Karina memikirkan cara untuk cepat kabur.
"Maaf, ini sebenarnya ide Papa." Arka menunjukkan raut wajah merasa bersalah.
"Tapi ngomong-ngomong, di mana para pengawal?" tanya Qin.
"Mereka belum tentu berhasil kabur, biar Papa hubungi saja." Arka mulai memencet papan tombol nomor.
__ADS_1
Telepon tersambung. "Tuan, sekarang kami sedang bersembunyi. Jangan telepon lagi, nanti ketahuan."
"Siapa yang mengejar kalian?" Memutarbalikkan bertanya.
"Sekelompok pria seperti bandit, mengenakan kalung rantai." jawab laki-laki bertubuh ideal.
Brak!
Pintu pabrik gas didobrak oleh sekelompok bandit, memastikan ada orang atau tidak. Arka, Karina, dan Qin berhasil sembunyi pada saluran pipa. Qin memikirkan cara untuk menyelamatkan kedua orangtuanya.
"Pa, izinkan aku keluar iya. Aku bisa bilang, kalau kalian sudah pulang ke kota. Mereka tidak akan mencari kalian, karena aku yang membuat masalah dengan ponakan ketua adat." Qin menjelaskan, sambil berbisik.
"Papa tidak setuju, kita berjuang bersama untuk keluar." jawab Arka.
"Tugas magangku berantakan, tidak bisa mengerjakan bila terus seperti ini. Bos Rudal pasti mengira aku main-main, dan mengadukan perbuatan aku ke kampus." Qin malah bingung sendiri, bagaimana membuktikan dia tidak bersalah.
"Kamu harus meminta bantuan Fredy, Friska, dan Tiger. Biarkan mereka menemanimu, agar tidak sendirian di villa. Namun setelah kejadian ini, aku jadi ragu menginginkan situasi ramai." jawab Arka, dengan lirih.
Cus!
__ADS_1
Suara coblosan dari pipet ke botol plastik, ketua bandit minum dengan santainya. Setelah selesai, bekas minumnya ditendang begitu saja. Matanya kembali menatap sekeliling, lama-lama bosan mencari yang tidak ditemukan.