Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Mengalami Kesulitan


__ADS_3

Qin dan Fredy menutup lubang hidung masing-masing, karena tidak tahan dengan bau menyengat. Lalat-lalat mengerubungi tubuh para mayat. Lantai kembali normal, hingga sekarang giliran dinding yang bergerak.


"Sepertinya, ada yang tidak beres dengan kereta ini." ujar Fredy.


"Tentu saja, setelah kita lihat mayat bergelimpangan di mana-mana. Nah, berarti kereta ini dikhususkan untuk membantai mayat." Qin mengambil kesimpulan sendiri.


Minyak-minyak dan oli tertumpah, tidak tahu siapa yang menggerakkannya. Begitu banyak lubang-lubang, yang secara khusus mengalirkannya.


"Qin, kamu harus berhasil keluar duluan. Aku mohon, selamatkan diri kamu." pinta Fredy.


"Iya, aku akan mencobanya." Qin menjatuhkan tubuh mayat, sebagai pijakan kaki agar tidak terpeleset.


Sementara di sisi lain, Karina mondar-mandir di rumah. Tidak ada kabar dari Qin, bahkan sekarang ponselnya mati. Tidak bisa dihubungi lagi, sejak memberitahukan kabar bahwa dia akan lembur malam.

__ADS_1


"Pa, apa keputusan ini yang terbaik untuk Qin? Aku sebenarnya takut dia menjadi detektif. Meskipun putri kita pahlawan kriminalitas, tetap saja keselamatannya menjadi bagian penting di hatiku. Dia begitu nekat sekali, padahal sejak awal aku tidak setuju." Karina trauma kehilangan anak pertamanya.


"Tenang iya Ma, ingat kata Qin. Bahwa hidup dan mati itu takdir, mau di tempat aman sekalipun kalau takdirnya mati, manusia tetap tidak bisa memberontak." jelas Arka.


"Pa, Mama tetap khawatir. Sekarang sudah pukul 02.00." Karina melirik jam dinding.


"Iya Ma, Papa mengerti." jawab Arka, seraya mengusap pundak istrinya.


Berhasil keluar dari ruangan, namun mendadak mendapat sambutan kapak tajam. Qin menunduk, hingga kapak menabrak dinding. Kereta mulai bolong sedikit, dan Qin menyuruh Fredy berhati-hati.


"Iya Qin, kita harus keluar bersama-sama." jawab Fredy.


Qin sengaja mengambil gagang besi, yang bersandar di sudut kereta. Dia memecahkan kaca kereta, lalu melemparkan flashdisk ke pinggir jalan. Fredy menarik Qin secara mendadak, hingga jarinya terkena gores kaca.

__ADS_1


"Awww... Ahhh... sakit!" Qin berteriak lantang.


"Maafkan aku, ada paku yang hampir menusuk kepalamu." Fredy menunjuk lingkaran paku, yang baru saja muncul dari langit-langit.


"Kita harus cari supir kereta ini. Tidak mungkin 'kan kereta ini jalan sendiri." Qin mengusulkan idenya.


"Iya, kita obati dulu luka kamu." Fredy membuka resleting tas, lalu mengeluarkan kotak obat.


Setelah luka Qin diperban, barulah mereka melanjutkan perjalanan. Langkah kaki mereka melewati ruangan demi ruangan. Flashdisk yang dilempar Qin tadi dipungut oleh seorang pemulung. Dia berencana untuk menjualnya di sebuah kedai. Dia ingin menukarkannya dengan makanan.


"Semoga saja ini laku, kelihatannya barang masih baru." Pria paruh baya itu tidak tahu apa namanya.


Terdengar Kokok ayam, Friska terbangun pagi sekali. Dia mencoba menghubungi Qin, namun tidak diangkat. Bahkan Fredy juga tidak dapat dihubungi.

__ADS_1


"Maafin aku teman-teman, aku membiarkan kalian naik kereta itu. Sementara aku dan Tiger, tidak ikut dalam bahaya. Tapi kalian tenang saja, aku akan melaporkan ini pada Tante Karina." Friska berbicara sendiri, mencari cara untuk membantu.


Usai sarapan pagi dengan sepotong roti, Friska pergi ke rumah Tiger. Kemudian mobil Tiger menuju rumah Karina dan Arka. Mereka memberitahu orangtua Qin, tentang yang terjadi semalam.


__ADS_2