Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Bendungan


__ADS_3

Anyi berlari dengan raut wajah sangat ketakutan, bahkan hampir saja menabrak pohon mangga. Tiba-tiba saja, punggungnya menabrak punggung seseorang. Sudah berlarian tidak tentu arah, membuatnya tidak mengingat siapapun lagi. Dia mengambil pisau dalam sakunya, hampir menusuk orang yang ada di belakangnya.


Limuq menangkis tangannya. "Anyi, ini aku."


Anyi segera memeluk Limuq, hingga pisau terjatuh. "Aku benar-benar takut, mengapa kita harus berpisah."


Limuq membalas pelukan Anyi. "Maafkan aku, tidak seharusnya aku tinggalkan kamu."


"Aku tahu kamu tidak sengaja." jawabnya.


"Tapi di mana Qin dan Fredy?" Anyi bingung, karena dari tadi tidak melihat mereka.


"Qin dan Fredy sudah menunggu di tempat dekat sungai. Sebaiknya harus cepat kembali ke rumah, agar keadaan jauh lebih nyaman." ajak Limuq.


"Benar, ayo kabur sebelum ditangkap." Anyi sudah tidak sabar lagi.


"Sekarang juga, kita cepat lari dari sini." Limuq segera menarik tangan Anyi.


Anyi mempercepat langkahnya. "Mereka sudah membunuh Lucky, dan pastinya tidak membiarkan kita bebas begitu saja."

__ADS_1


Tanpa terasa hari sudah semakin gelap, malam mencekam telah tiba. Qin mengajak Limuq dan Anyi sembunyi di bendungan, karena melihat senter menyala di kejauhan.


"Bendungan itu airnya deras, aku takut hanyut." ujar Anyi.


"Sama, aku juga takut. Tapi ini satu-satunya cara, supaya tidak dibunuh hidup-hidup." jawab Qin.


Qin dan Fredy menunduk di bendungan dengan menutup mulut rapat-rapat. Mata masing-masing memperhatikan air yang terkuras, namun menghempas tubuh mereka hingga basah kuyup.


Tangan tetap setia berpegangan, meskipun hampir tidak sanggup. Air yang sangat dingin, ditambah pula dorongan yang deras.


"Di mana iya kira-kira mereka?" tanya bos Rudal.


"Benar juga, tadi perempuan sialan itu masih hidup." ujar Timon.


"Nah itu dia, pasti sekarang mereka telah berkumpul kembali. Apa dia punya seribu nyawa, hingga sulit dibuat mati." Joy merasa pesimis, karena gagal membunuh Qin berkali-kali.


"Asal berhasil ditemukan, maka tidak ada hari selamat lagi." ujar bos Rudal.


"Baiklah, kita bunuh sekarang juga. Mari beraksi cepat!" ajak Joy.

__ADS_1


Qin dan Fredy berusaha tetap bertahan, di tengah derasnya dorongan air. Bendungan itu terus bergemuruh, hingga Qin hampir jatuh. Fredy berusaha menariknya, sambil terus berpegangan.


”Aku tidak kuat lagi, airnya deras. Aku bisa-bisa jatuh ke dalam waduk.” batin Qin berbicara, sudah merasa ngeri.


Setelah kepergian Joy dan teman-temannya, baru mereka keluar dari persembunyian. Anyi merogoh ponsel dalam tasnya, namun tidak mau menyala juga. Sudah ditepuk dengan lembut, masih tidak bisa dihidupkan.


"Kelihatannya, ponsel kamu mati kena air." ujar Limuq.


"Kita kalau pulang tidak perlu menghubungi siapapun. Hanya butuh mengambil kendaraan, yang terparkir di halaman rumah tersebut." Qin mengusulkan idenya.


"Kenapa tidak boleh menghubungi seseorang? Bukankah itu dapat memperlambat dapat pertolongan?" Anyi tidak mengerti, dengan yang Qin pikirkan.


"Nanti siapapun yang datang malah tidak tahu, kalau ada pembunuh berantai yang menggila dengan organ tubuh manusia." jawab Qin.


"Benar juga, itu dapat membahayakan orang lain." sahut Fredy.


"Iya sudah, sekarang juga kita pergi." ajak Limuq.


Mereka memberanikan diri datang mengendap-endap, ke area rumah yang sebelumnya menjadi tempat menjebak. Setelah dirasa aman, Fredy berlari secepatnya. Dia membuka mobil dengan cara mencongkel, kebetulan kendaraan tersebut ada depan gerbang.

__ADS_1


__ADS_2