
Fredy menghembuskan nafas lega, lalu segera melangkahkan kakinya. Masih diiringi dengan langkah kaki yang lainnya. Tiba-tiba saja kepala mereka dilempar oleh buah, yang masih berwarna hijau dan ukurannya juga kecil.
"Hei, cepat kembali! Di depan sana ada penjaga." teriak Friska.
"Hah, benarkah?" Anyi yang duluan berlari.
Qin dan Fredy juga tak kalah cepat berlari. Padahal awalnya berniat mengambil kapal, namun berakhir dengan ketakutan.
"Kami sudah melumpuhkan ketua bos mafia." ujar Qin.
"Namun hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Pasti nanti disadari oleh anak buahnya." jawab Friska.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Limuq.
"Mungkin dengan cara menghindar, daripada kita tertangkap." jawab Qin.
Mereka memilih mengistirahatkan tubuh yang lelah, di bawah pohon besar nan rindang. Qin duduk sambil menekuk kedua lututnya, masih terasa sedih karena mendengar kenyataan pahit. Perkataan sadis Joy, masih terngiang-ngiang di telinganya. Tidak semudah itu, untuk menerima dengan lapang. Yang dihilangkan adalah nyawa manusia, bukan nyawa binatang.
__ADS_1
"Qin, bagaimana Kakak kamu? Apa sudah ditemukan mayatnya atau tanda-tanda keberadaannya?" tanya Friska, yang ingin tahu juga.
"Kakak aku tidak ada di sini, mayatnya belum aku temukan. Aku ingin melihatnya langsung, meski yang dikatakan bos Joy dia sudah mati." Qin menjawab, sambil menangis sesenggukan.
Fredy tidak tega melihat Qin yang sangat sedih, jadi mengurungkan niat yang ingin mengungkapkan maksud hati. Fredy hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk masalah, yang sedang Qin hadapi kini.
"Jadi bagaimana, apa kamu sudah siap untuk kabur dari tempat ini?" tanya Limuq.
"Iya, aku siap." Qin berusaha mengikhlaskan kepergian kakaknya.
Tiba-tiba saja hujan turun, mereka semua kebingungan untuk mencari tempat berteduh. Akhirnya mengambil daun pisang, untuk menutup kepala masing-masing.
Tiger dan Fredy segera memotong kayu, lalu membuat rumah-rumahan dari semak ilalang kering. Tiba-tiba semua jadi nostalgia masa kecil, bermain masak-masakan di dalam pondok ala anak kecil. Mereka masuk ke dalam, dan beristirahat dengan sedikit tenang.
"Apa kita tidur di sini?" tanya Anyi, dengan raut wajah takut-takut.
"Tidak, di sini tidak nyaman. Takutnya binatang buas menggigit kita." jawab Qin.
__ADS_1
"Ini untuk berteduh sementara, sambil menunggu hujan reda." sahut Fredy.
"Baiklah, kalau sementara aku setuju saja." jawab Anyi.
"Nanti kita mau menginap di mana?" Friska dari tadi memikirkan tempat berteduh yang nyaman, namun tidak ditemukan satupun dalam pencarian pikirannya.
Angin kencang terasa menembus lubang pori-pori, seakan ingin mengelupas paksa kulit para manusia dari dalam. Bau amis tercium di hidung masing-masing. Tubuh Friska menggigil, dan rasanya kepala pusing. Kini dia memegangi dahinya, sembari mengusap-usap lengan sendiri.
"Kamu kenapa Fris?" tanya Tiger.
"Ntahlah, tubuhku terasa menggigil." jawab Friska.
Qin dan Anyi kompakan melihat wajah pucat Friska. Mereka segera memegang dahi secara bersamaan, sungguh terasa panas di telapak tangan.
"Friska, kamu ternyata demam." ucap Anyi. "Kita harus segera membawa kamu ke suatu tempat yang aman, lalu setelah itu memasak air hangat."
"Kalau gitu, kita terobos saja hujan deras ini. Lagipula, kita sudah terlanjur basah." jawab Friska.
__ADS_1
Kaki masing-masing bergegas, meninggalkan tempat berteduh yang tidak nyaman itu. Masih terlihat air menetes di sana sini.