
Qin menggerakkan otot-otot pergerakan lengannya, kali ini dia benar-benar lelah. Bersandar sejenak pada kursi, lalu meraih gelas yang berisi kopi. Qin meminumnya dengan santai, meski sekarang seorang diri. Tiba-tiba saja listrik padam, dan lampu ruangan mati.
Qin menghentikan gerakan gelas minumnya. "Tidak biasanya seperti ini." Qin membuka tasnya, lalu mengeluarkan pistol tembak. "Siapa di sana?" Berteriak karena mendengar suara.
Qin melangkahkan kaki dengan sangat hati-hati, karena suara berisik terdengar dari luar. Qin diserang tembakan tiba-tiba, lalu bersembunyi di balik tembok pembatas. Beberapa menit untuk jeda, barulah kepalanya berani nongol.
Tidak ada siapa-siapa, namun insiden barusan seperti menyerang dengan sengaja. Qin memikirkan Friska dan Tiger yang belum kembali ke perusahaan. Sedikit berharap ditemani, karena itu hal yang mereka janjikan.
Sekelompok berjubah hitam menembak dinding tempat Qin sembunyi. Qin mengelak dengan gerakan jungkir balik, karena tembok rubuh begitu saja. Sekarang lantai tempatnya berpijak, yang diserbu peluru bom.
Duar!
Duar!
Lantai akhirnya runtuh dan tubuh Qin hampir terjatuh, tangannya masih bergantung pada lantai yang utuh. Dia benar-benar terjebak tidak bisa lari, namun tetap berusaha membuat tubuhnya kembali berdiri tegak. Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan, yang dilakukan Friska dan juga Tiger. Mereka berdiri dengan berani, di belakang kelompok mafia tersebut.
__ADS_1
"Hei, jangan kabur kalian." teriak Tiger.
Anehnya, mereka berlarian lewat sebuah pintu lift. Seolah akan ada jalan yang cepat terhubung keluar.
"Sudahlah, biarkan saja mereka pergi. Yang paling utama, kita bantu Qin dulu." Friska segera berlari, membantu tubuh Qin naik ke atas.
"Sepertinya ada yang aneh, lampu bisa mati mendadak, mereka juga bisa muncul. Apa perusahaan ini terlibat dalam tindak kriminalitas iya?" Qin malah curiga menjadi-jadi.
"Mungkin saja, mereka yang mematikan saklar listriknya." jawab Friska, yang berpikir positif.
"Gawat, di toilet ada buaya." ujar Qin.
"Apa? Kok bisa?" tanya Friska.
"Tidak tahu juga, lebih baik segera menyingkir." Qin menarik Friska, mengajaknya cepat berlari.
__ADS_1
"Begitu melelahkan sekali, seperti berpetualang waktu lalu." Teringat peristiwa di seberang laut.
Tiba-tiba langkah Qin terhenti, karena ada buaya lain yang menghadang di depan. Mata buaya sedang terpejam, artinya sedang tidur pulas.
"Ayo, melangkah pelan-pelan." bisik Qin.
"Hmmm... takut ah, bagaimana bila mereka bangun." jawab Friska.
"Kamu pilih mencoba, atau terjebak di sini selamanya?" Qin menatap kedua bola mata temannya.
"Baiklah, aku ikut saran darimu." jawab Friska.
Saat berhasil melewati diam-diam, malah Tiger ditarik bajunya dari belakang. Tiger berlari tunggang langgang juga tak bisa menyelamatkannya. Qin membantu menembak kepala buaya, sehingga melepaskan gigitan Tiger.
Buaya masuk ke dalam ruangan alat berat, lalu kepalanya ditutup ember oleh Qin. Buaya menggoyangkannya berkali-kali, namun tidak mau lepas. Tiger dan Friska mengambil besi, untuk siap-siap memukulnya.
__ADS_1
Ember berhasil lepas dari kepala, lalu Tiger berteriak memancingnya. Qin mendorong sebuah mesin besar, hingga berjalan bannya ke arah buaya. Ingin melindasnya, hingga berhasil tewas.