Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Bertugas Ke Hutan Wilayah


__ADS_3

Selain membuat Qin tidak bisa lembur tenang, dia juga tidak selera untuk tidur malam. Jenny terlihat memusuhinya, sengaja mencari cara agar dia keluar. Qin tidak bisa berhenti berpikir, karena diberikan tugas ke hutan wilayah. Memilih mengistirahatkan diri di kantor, bersama teman-temannya.


"Tempat bertugas itu di mana?" tanya Friska.


"Berada di lereng gunung Kiwochi." jawab Qin.


"Kok sepertinya mereka mau membuat kamu sendiri iya. Apa sudah direncanakan Kak Jenny, agar lebih mudah membunuhmu." ujar Friska.


"Aku tidak sendirian kok, karena Mama dan Papa akan menemani." jelas Qin.


"Sebenarnya aku ingin membantumu." sahut Fredy.


"Jangan bersedih gitu Fredy, aku sudah terbiasa mandiri. insyaAllah, semuanya akan baik-baik saja." jawab Qin.


Beberapa hari kemudian, Qin pergi bersama Arka dan Karina. Fredy sebenarnya ingin ikut, agar memastikan keselamatan Qin terjamin. Namun apalah daya, situasinya tidak mengizinkan pergi. Dia diberi tugas yang berbeda dengan Qin. Harus tetap mengerjakan tugas pokok, di kantor perusahaan tersebut.

__ADS_1


"Kamu baru ditinggal sebentar sudah gelisah." ledek Tiger, menepuk pundak Fredy.


"Tentu saja, sekarang situasi sedang tidak memihak padanya. Kalau ada yang mau mencelakainya bagaimana." jawab Fredy.


"Bukankah orangtuanya membawa banyak pengawal, mereka bisa apa?" Tiger tidak berpikir menyeluruh.


"Pengawal itu bisa saja ceroboh, lalu dilenyapkan musuh secara perlahan." Memijat pelipisnya sendiri.


Qin merasa udara di sana sejuk juga, meski ditemani oleh teman-temannya. Kalau rindu, dia masih bisa melakukan panggilan video. Sinyal di ponselnya membaik, jadi dia mulai menghubungi Friska terlebih dulu. Mengucapkan salam terlebih dulu, baru memulai obrolan.


"Friska, hubungkan kameranya ke arah Fredy." ucap Qin.


Fredy mulai memasang gaya, lambai-lambai tangan segala. Qin tersenyum melihat Friska di layar kaca.


"Kamu di sana baik-baik iya, kami menunggu kamu pulang." ujar Friska.

__ADS_1


"Iya, kalian juga harus jaga diri. Aku di sini nyaman kok, udaranya sangat sejuk. Banyak pengawal yang berjaga-jaga di sekitar penginapan villa." jawab Qin.


Qin mengarahkan kameranya ke jendela, angin sepoi-sepoi terlihat menabrak pepohonan. Daun-daun tersandung ranting saat bergerak, indah sekali sulit untuk Qin jelaskan detail. Intinya, ke sana juga bukanlah hal buruk. Anggap saja berlibur dengan keluarganya, setelah sekian tahun terlewatkan. Mereka sibuk urusan masing-masing, dan Karina suka menyendiri sejak kepergian kakak pertama. Bertahun-tahun lamanya, dia meninju samsak di dalam ruangan beladiri.


"Baguslah, kalau kamu merasa senang kami ikut lega. Awalnya aku takut, bahwa kamu tidak akan ada teman mengobrol." ucap Tiger.


"Kamu jaga sahabatku baik-baik, jangan biarkan dia kesepian. Dia suka menangis di pojokan, kalau tidak diajak bicara." Qin tertawa, sambil melirik ke arah Friska.


"Aku tidak manja, kamu terlalu meledekku." ujar Friska.


"Maaf, maaf." Qin mengatupkan kedua telapak tangannya.


Friska memasang wajah cemberut sambil tertawa. "Aku tidak akan memaafkan mu."


Qin mematikan sambungan telepon setelah berpamitan. Sebenarnya tidak buru-buru berpisah, namun mendengar suara jendela ditabrak sesuatu. Qin berjalan perlahan, mengira ada yang melempar kerikil. Ternyata, hanya paruh burung pelatuk.

__ADS_1


"Hei, kamu hewan berbulu yang lucu. Sengaja mengetuk jendela, agar dapat perhatian dariku iya." Qin menatap burung, yang tak bergeming itu.


Tiba-tiba saja, ingin keluar menelusuri hutan. Tempat itu terlalu alami, sayang dilewatkan untuk mengunjungi.


__ADS_2