Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Menyelamatkan Diri


__ADS_3

Friska segera berlari, meninggalkan Tiger sendirian. Kedua pria itu berhasil menangkap Tiger, dan membiarkan Friska lolos.


Anyi berjalan-jalan ke hutan bersama Limuq, sedangkan Qiya di penginapan bersama Dirga. Mereka berdua menapaki bukit, menuju ke puncak tertinggi.


"Anyi, nanti kita foto-foto di sana yuk!" ajak Limuq.


"Kalau tidak keburu sore si, kita 'kan niatnya cuma jalan-jalan doang. Lagipula, kelihatannya sebentar lagi akan turun hujan." Anyi melihat cuaca yang mendung.


Mereka sudah sampai di atas, lalu Limuq dan Anyi melihat ada pria sedang berdiri. Dia membelakangi mereka, tanpa bergerak sedikitpun.


"Siapa itu Limuq?" tanya Anyi.


"Aku juga gak tahu." jawab Limuq.


Pria itu membalikkan badannya, lalu Anyi menjerit ketakutan. Pria itu menggunakan topeng seram, lalu Anyi melarikan diri duluan.


Tolong!


Anyi berteriak histeris, disusul langkah kaki Limuq. Mereka berdua menuruni bukit, dengan dikejar-kejar oleh pria tersebut. Tanpa sengaja, Anyi menabrak seorang perempuan.


"Hei cepat berlari, di sana ada pria bertopeng seram." Anyi menepuk pundaknya.


"Pasti itu kelompok mafia itu, ayo cepat ikuti aku." Friska menggandeng tangan Anyi, mengajaknya untuk bersembunyi.


Sementara Limuq diikat lehernya, dengan menggunakan tali. Pria itu merasa kesulitan bernapas, karena lehernya tercekat oleh tali dari belakang. Pria bertopeng mengeluarkan pisau, lalu menggores tangan Limuq.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Limuq, dia itu temanku." Anyi menunjuk Limuq.


"Aku akan membantunya, kamu tunggu di sini." jawab Friska.


Friska keluar dari persembunyiannya, lalu menembak kepala pria bertopeng. Tidak lupa pula, menyerbu perutnya dengan peluru.


Limuq segera melepaskan tali, yang membelit lehernya. Friska dan Limuq berlari, disusul oleh Anyi yang keluar. Friska, Limuq, dan Anyi sudah sampai di gubuk reok. Fredy melihat mereka yang kembali, tanpa membawa Qin dan Tiger.


"Friska, dimana Tiger dan Qin?" tanya Fredy.


"Aku gak tahu di mana Qin, yang jelas Tiger tadi tertangkap. Mereka semakin buas saja, dalam melakukan penjualan organ tubuh di pasar gelap.


"Friska, siapa mereka?" tanya Fredy.


"Eh, kalian berdua temannya Qin iya?" tanya Anyi.


"Iya, kok kamu tahu." jawab Friska.


"Tadi, aku dengar kalian menyebutkan namanya." ucap Anyi.


"Iya, dia tertangkap oleh bos mafia." jawab Friska.


"Aku yakin, Qin bisa lolos. Dia adalah detektif paling cekatan, saat praktik di tempat kursus." ujar Anyi.


"Hah, dia detektif? Kok aku gak tahu." jawab Friska.

__ADS_1


"Friska, apa dia tidak memberitahu dirimu?" tanya Anyi.


"Tidak, aku lihat dia hanya sering pulang cepat, saat sudah pulang dari kampus Next Up." jawab Friska.


"Nah, dia pergi kursus pastinya." ujar Anyi.


"Oh gitu iya." Friska manggut-manggut saja.


"Eh, bagaimana bila kita kabur dengan menggunakan helikopter. Aku dan teman-temanku datang, dengan menggunakan kendaraan udara tersebut." Anyi mengusulkan idenya.


"Aku setuju, tapi sebelum keluar kita harus mencari Kak Arina. Kita juga, harus membawa Qin dan Tiger keluar." jawab Fredy.


Mereka segera pergi, setelah memutuskan kesepakatan bersama. Mereka melangkahkan kaki pelan-pelan, mengingat si nenek tua renta bersama mereka.


"Sebaiknya, si Nenek kita tinggal di helikopter terlebih dulu." ujar Friska.


"Iya juga, dia tidak kuat berlari." jawab Fredy.


"Apa tidak terlalu berbahaya?" tanya Anyi.


"Bukankah, helikopter itu aman-aman saja." jawab Friska.


"Iya, tapi tetap saja mafia bisa mendekati." ucap Anyi.


"Nenek menunduk saja, di bawah kursi penumpang." jawab Friska.

__ADS_1


__ADS_2