
Mereka berjalan cepat dengan jongkok, karena bos Rudal dan yang lain memanjat lorong langit-langit ruangan. Qin segera meninju garis pembatas triplek dengan sangat kuat. Berharap segera bebas dari tempat yang mengurung mereka.
"Eh, sepertinya mereka mengejar kita." ujar Limuq.
"Kalau gitu, kita coblos saja papan triplek ini." jawab Qin.
"Siapa yang membawa pisau disaat seperti ini." ujar Anyi.
"Tenang, aku ada mengantongi pisau dalam saku celana." jawab Fredy.
Fredy mencoblos sela garis triplek, lalu mencongkelnya hingga terbuka. Mereka segera melompat ke bawah, kebetulan selurus dengan mobil bekas.
"Cepat sembunyikan diri masing-masing, mumpung mereka masih di atas." ujar Fredy.
"Sembunyi dalam ruangan saja." Qin berlari duluan, agar mereka mengikuti idenya.
Seorang pria tinggi besar membuka peti, tempat di mana Qin bersembunyi. Qin melakukan persiapan untuk menyerang. Saat tangan membukanya, Qin sengaja mendorong dengan kuat. Papan penutup menabrak badan pria tersebut, dan Qin mengambil kesempatan menembaknya.
Dor!
__ADS_1
Dor!
Menyerang dua orang sekaligus, ternyata memancing teman-teman mafia datang. Qin melihat ke arah pintu, langsung menerima serangan peluru dadakan.
Dor!
Tepat menancap di lengannya, dan pistol terlempar dari tangan Qin. Qin cepat-cepat bersembunyi, di balik drum besi. Qin memegangi lukanya, yang terasa pedih.
"Berhenti menyerang, atau kami bunuh dia." Seorang laki-laki berambut keriting mencegah Fredy.
"Baiklah, aku akan menuruti keinginan kalian." Fredy angkat tangan.
Qin diseret menjauh dari Fredy, lalu dibawa ke ruangan yang gelap. Di sana sangat kedap suara, tidak ada yang bisa mendengar. Hanya dua manusia saja yang akan berbicara, dan saling menggunakan indera pendengaran.
"Jika aku kejam, lantas keluargamu bagaimana?" Joy ingin tertawa, mendengar pernyataan Qin.
"Apa hubungannya keluargaku dalam hal ini." ujar Qin.
"Sudahlah, aku pernah menyukai kakakmu. Tentu saja, latar belakang keluarga aku awasi. Tidak ada satupun yang lepas dari pengawasan detail." jawab Joy.
__ADS_1
"Meski keluargaku pernah menjadi seorang pembunuh, tidak ada salahnya juga merubah dunia masa depan. Tidak ada yang menjamin, bahwa kegelapan hutan akan abadi. Begitupun kehidupanku yang sekarang, mengalami perubahan besar juga wajar." jelas Qin.
"Pintar bicara, belum tahu rasanya lidah dipotong." jawab Joy.
"Kamu sedang mengancam ku, aku sangat tahu. Tidak aku sangka berhasil melarikan diri dari pulau seberang laut, namun bertemu denganmu lagi." Qin merasa malas, namun memaksa diri tetap tenang.
"Qin, inilah yang disebut takdir. Mungkin, kamu akan berjodoh dengan derita." Joy mengangkat pisaunya di atas udara, untuk membuat Qin merasa takut.
Tiba-tiba saja, sebuah papan melayang ke kepala Joy. Serangan yang dilakukan Fredy tepat sasaran, membuat murka orang yang dimusuhi. Pistol dilayangkan ke arah kepala Fredy, lalu ditangkap oleh kedua telapak tangannya. Fredy hendak menembaknya, namun tidak bisa ditekan.
"Hahah... itu adalah pistol yang kosong pelurunya. Jika ingin mencoba rasanya, lihatlah serangan dariku." Joy mengarahkan lubang pistol ke pelipis Fredy.
Dor!
Fredy segera mengelak, hingga peluru mengenai dinding. Joy terus menembaknya, meski dari jarak jauh. Tidak sengaja telapak kaki Fredy terkena peluru pistol.
"Ayo dong tali, cepat lepas!" Qin bergerak-gerak di atas kursi, mencari cara agar ikatan mengendur.
Dor!
__ADS_1
Dor!
Fredy mengelak lagi dan dilakukan secara berulang. Sekarang giliran dia memberikan serangan melempar besi.