Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Uji Kompetensi


__ADS_3

Qin menyiapkan buku untuk dibawa ke kampus, karena sebentar lagi waktunya tiba. Dia melihat jam di tangan, harus melakukan gerakan dengan cepat.


"Buru-buru pergi kuliah, tidak makan siang dulu?" tanya Karina.


"Sudah sarapan Ma, tidak masalah kalau tidak makan. Nanti saja di kampus, beli makanan untuk mengisi perutku." jawab Qin.


"Hati-hati di jalan iya sayang Mama." Karina mengusap kepala putrinya.


"Iya Ma, Qin pergi dulu." Melangkahkan kaki keluar dari rumah.


Karina mengejar Qin yang hendak pergi. "Ini untuk kamu, bawa sebagai pelindung diri."


"Terima kasih Ma." Qin mengambil botol dengan cepat.


Bertemu Timon di kampus, ternyata anak bos Rudal. Mereka akan menjadi tim penguji dalam kompetisi tiap kejuruan.


"Eh, kamu laki-laki yang kemarin 'kan?" tanya Qin.


"Iya, kamu perempuan yang aku serempet waktu itu." Timon tersenyum padanya.

__ADS_1


"Iya, tapi sudah tidak apa-apa." ujar Qin.


"Masih bisa bilang tidak apa-apa, jalan pun pincang seperti itu." Timon menoleh ke arah kedua kaki Qin.


"Sudah biasa, aku bukan anak manja. Aku sangat menyukai petualangan, daripada berdiam diri di rumah." ucap Qin berterus-terang.


"Oh gitu, pantasan saja." jawab Timon.


Qin, Friska, dan Tiger memilih makan di kantin, supaya mendapatkan hasil memuaskan. Diperlukan otak cemerlang untuk berpikir, agar perjalanan mereka mudah.


"Qin, aku tidak sempat sarapan, gara-gara terburu ke kampus." ujar Friska.


"Iya, aku juga. Mau bagaimana lagi, sekarang kita ujian kompetensi." jawab Qin.


"Aku sudah bangun sejak pagi, hanya saja aku tidak selera makan. Tenagaku habis untuk belajar, aku rasanya masih ingin terlelap." jawab Qin, sambil menundukkan kepala di meja.


Uji kompetensi dimulai oleh Timon dan bos Rudal. Qin merasa lebih tenang sekarang, daripada waktu magang di perusahaan Kharuga. Beberapa menit saja, Qin sudah bisa mengerjakannya dengan lancar. Disusul dengan Fredy setelahnya, dan mereka diizinkan keluar. Fredy Dan Qin menunggu Friska sampai keluar dari ruangan.


"Sudah ini kita ada kelas dengan Ibu Mhika." ujar Fredy.

__ADS_1


"Iya, terima sajalah. Lagipula, bukan hal yang sulit." jawab Qin.


Pelajaran dimulai oleh ibu dosen Mhika, dia membagikan kertas contoh-contoh soal ujian Nasional. Friska bisa fokus setelah meneguk air minum, dari tadi kerongkongannya terasa kering. Padahal baru melewati uji kompetensi saja, sudah seperti disuruh pergi ke medan perang.


"Kalian mengerjakan ini jangan sembarangan. Meskipun tidak dinilai, namun bisa menjadi contoh pembelajaran. Sering-seringlah membuka buku, supaya kalian tidak kesulitan saat ujian berlangsung." Mhika mengingatkan semua muridnya.


"Baik Ibu dosen, kami akan mengulanginya sambil beraktivitas." Friska menjawab, sambil senyum ceria.


"Ibu tunggu kamu mengalahkan Qin Syatum." Ibu Mhika menantangnya.


"Mana mungkin Bu, dia juara kelas." Friska nyengir.


"Tenang, Ibu tidak membiarkan kemenangan mu sia-sia. Ada hadiah khusus yang akan diberikan." Mhika merayu Friska.


"Hahah...!"


"Friska mana berani Bu, dia 'kan sudah menduga bakalan kalah."


Suara teman-teman sekelasnya heboh, karena Friska pesimis untuk mencoba. Qin tersenyum ke arah Friska, lalu berbisik lirih dengan kalimat ayo coba temanku.

__ADS_1


"Aku setuju, jika aku bisa banyak waktu luang. Aku akan mencoba belajar sampai larut malam. Namun jika menang, tolong Ibu bersedia memberikan aku jaminan naik kapal sangat besar." Friska mengajukan persyaratannya.


"Baiklah, Ibu setuju." jawab Mhika.


__ADS_2