
Bos Rudal memeriksa satu persatu lorong kebun mangga, namun hasilnya tetap nihil. Sampai pada akhirnya, dia bertemu dengan Timon.
"Sudah diperiksa dari ujung?" tanya bos Rudal.
"Iya, namun tidak ada siapapun." jawab Timon.
"Sepertinya, kita harus menunggu waktu malam hari. Menangkap mereka di tengah gelap lebih mudah." ujar bos Rudal.
"Iya sudah, ayo kita kembali. Joy sendirian di rumah itu, semakin mudah untuk diserang." jawab Timon.
Joy hendak memeriksa tikar bekas, di mana tempat Anyi bersembunyi. Tiba-tiba Lucky muncul dan berteriak, hingga perhatian Joy teralihkan.
"Woy, bunuh aku kalau bisa." Lucky memancingnya.
Joy merasa ada yang tidak beres, lalu mengangkat tikar. "Nah, bersembunyi di sini kamu." Menjambak rambut Anyi.
Anyi berusaha melakukan perlawanan, namun diserang dengan sebuah pukulan. Lucky tidak tinggal diam, dia memukul kepala Joy dengan kayu balok. Lucky menarik Anyi buru-buru, agar berhasil keluar dari tempat tersebut.
Joy berlari mengejar mereka, namun sesuatu membelit kakinya dadakan. Joy benar-benar sangat kesal, dengan yang terjadi barusan. Dia tahu, bahwa Anyi dan Lucky yang memasang jebakan.
"Cepat, kita harus cari jalan keluar." ajak Anyi.
__ADS_1
"Iya, tapi lewat mana. Pintu terkunci, jendela pun tidak ada." jawab Lucky.
"Berlari ke lantai atas, kita harus cari loteng. Nanti kita sembunyi di atas atap." Anyi berlari tergesa-gesa.
"Iya, cepat kabur lewat atas." ajak Lucky.
Bos Rudal dan Timon telah kembali, bersamaan dengan mereka yang sampai lantai atas. Anyi dan Lucky hanya melihat drum besar, namun tidak ada alat apapun yang bisa dipakai untuk turun.
"Apa yang harus kita lakukan untuk sembunyi?" tanya Lucky.
Anyi melihat ke arah bawah. "Iya, tadi aku melihat mereka baru saja lewat pintu."
"Tidak cukup, harus kita sambung dulu." jawab Anyi.
Bos Rudal memencet tombol pemutar struktur bangunan rumah, hingga mengejutkan Anyi sampai berpegangan erat. Bersamaan dengan Lucky yang terburu-buru, memeluk drum besar juga.
"Lucky, aku sudah tidak tahan lagi." Anyi berteriak, dengan kaki yang terus bergerak.
"Lantai ini mempermainkan kita, pasti bos Rudal sengaja melakukannya."
"Aku tidak mau mati, terlempar di lantai atas tidak ada harapan hidup." Anyi hampir menangis.
__ADS_1
"Mereka benar-benar mafia keji, sangat tidak berperasaan." Lucky masih sempatnya mengumpat.
Bruk!
Lucky terjatuh hingga drum plastik menimpa, lalu mendorong tubuhnya. Anyi berteriak memanggil Lucky, hingga konsentrasinya untuk berpegangan mulai menghilang.
Bruk!
Anyi ikut jatuh tersungkur, bersamaan dengan lantai terguling. Anyi terjatuh ke bawah dan menimpa tubuh Lucky. Anyi menangis melihat Lucky kejang-kejang, darah bercucuran dari kepala belakangnya.
"Lucky, ayo kita pergi! Kamu bertahanlah, aku membawa kamu menjauh dari tempat ini." ujar Anyi.
"Jangan, aku sudah tidak sanggup lagi. Cepat kamu selamatkan diri kamu, sebelum mereka menyadari keberadaan kita." jawab Lucky.
Bos Rudal dan Timon melepaskan jebakan yang berhasil mengikat Joy. Mereka merasa emosi, karena tindakan perlawanan yang telah dilakukan.
"Ini permainan menarik, apalagi melihat mereka melawan dengan raut wajah ketakutan." ucap Timon.
"Iya sudah, sekarang cepat kita cari mereka." jawab bos Rudal.
Joy tiba-tiba muncul di depan pintu, lalu Anyi berlari sekencang-kencangnya. Lucky telah menghembuskan nafas terakhir, dari beberapa menit yang lalu.
__ADS_1