
Qin akhirnya berhasil melepaskan talinya, saat pertengkaran sengit telah terjadi setengah jam. Pisau berhasil melukai Fredy berkali-kali, dan sekarang Joy ingin memukulnya dengan tombak. Qin berjalan pelan-pelan, lalu memukul kepala Joy dengan kayu balok.
"Ayo Fredy, cepat kabur dari sini. Sebelum anak buahnya pada datang." Qin membantu Fredy berdiri, dengan terburu-buru.
"Iya Qin, tunggu sebentar. Aku tidak bisa berjalan cepat, hanya bisa tertatih dengan lamban." jawab Fredy.
Anyi dan Limuq mengikuti langkah kaki Lucky, yang muncul dari persembunyian. Mereka segera mencari Qin dan Fredy, yang menghilang ntah kemana.
"Mereka belum tertangkap 'kan?" tanya Lucky.
"Melihat dari kemampuannya, aku yakin dia bisa selamat. Qin ini detektif, pasti dia cerdas." Anyi keceplosan.
"Aku kok tidak tahu kalau dia detektif. Selama ini tiga bulan magang di perusahaan Kharuga." Lucky terkejut, dan heran pada dirinya sendiri.
"Kamu beruntung, berarti tidak hobi jadi pembajak privasi. Senang berteman denganmu, meski baru beberapa kali bertemu." Limuq ikutan buka suara.
Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan, yang terdapat banyak rak susun ke atas. Rata-rata isinya barang bekas elektronik yang sudah rusak. Anyi memegang antena televisi, yang terbengkalai hingga berdebu.
__ADS_1
"Jorok sekali tempat ini, meskipun cocok untuk bersembunyi." ujar Anyi.
Limuq mendengar suara berisik antara lantai dan telapak sepatu manusia. "Shhtt... ada yang mau berjalan mendekat." Meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
"Cepat lari dengan pelan, jangan sampai kedengaran bunyi sepatunya." Anyi menarik lengan Limuq.
Limuq mengintip dari balik celah rak. "Aduh, dia meneliti semua sela-sela."
"Di mana kalian, jangan terus bersembunyi." Joy sengaja berteriak menakuti.
"Dia membawa sekop penggali tanah, ayo cepat naikkan ke atas rak."
"Jangan sampai ketahuan, aku takut." ujar Anyi.
"Kita pasti bisa menyerang balik. Secara satu lawan dua, eh jangan lupakan Lucky." Limuq teringat tiba-tiba.
"Dia bersembunyi di mana, mengapa tiba-tiba menghilang di belakang kita." ucap Anyi.
__ADS_1
"Pasti dia ada di tempat yang menurutnya aman." jawab Limuq.
"Aaa!"
Tiba-tiba terdengar suara Lucky berteriak, dia ditarik paksa keluar dari persembunyiannya. Lucky didorong ke lantai hingga jatuh, lalu mengelak saat hendak dipukul gagang sekop penggali tanah.
Brak!
Sekop besi membentur lantai, dan jantung Lucky berdegup kencang. Joy mengarahkan gagang besi lagi, dan Lucky menendang kaki Joy. Setelah Joy terjatuh Lucky segera berlari, dan tangan Joy meraih sekop. Limuq menarik tubuh Lucky, saat hendak dilempar alat tajam tersebut.
"Cepat keluar dari ruangan ini, sebelum dia mengejar kita." ajak Anyi.
"Aku sudah mempersiapkan, supaya kita bersembunyi di ember jumbo." Limuq mengusulkan idenya.
Fredy dan Qin segera bersembunyi dalam kurungan ayam. Terdengar suara hewan kaki dua itu sibuk, karena terganggu oleh kehadiran mereka berdua.
"Aduh, ayam ini berisik sekali. Nanti kita ketahuan, kalau dia terus berbunyi." bisik Fredy.
__ADS_1
"Pegangin saja paruh mereka, dengan seperti itu tidak merepotkan." Qin ikut kesal, dengan situasi darurat tersebut.
Bos Rudal dan Timon heran dengan ayam yang tidak mau diam, mereka berjalan hendak memeriksa kurungan. Tiba-tiba dikejutkan dengan Joy yang muncul mendadak.