Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Mencari Tempat Bersembunyi


__ADS_3

Tiger membaca tulisan pada kertas, yang membungkus batu tersebut. Dia segera menyenggol lengan Fernan, merapatkan tubuhnya agar yang dilakukan tidak terlihat. Dalam hitungan tiga, mereka bertiga segera berlari.


Para mafia itu mengejar mereka, dengan terbagi jadi dua kelompok. Mafia itu sengaja berpencar, agar semakin mudah menangkap mereka. Qin dan Friska berlari, sambil bergandengan tangan.


"Ayo kita masuk gua, Fredy masih di sana." ajak Qin.


"Iya, ayo lari sekarang." Friska sudah lari duluan.


Duar! Duar! Duar!


Terdengar suara tembakan di sana-sini. Qin dan Friska segera masuk ke dalam gua. Fredy sedang tertidur pulas, hingga Qin tidak tega untuk membangunkannya. Sekelompok semut besar tiba-tiba datang.


Friska segera membangunkan Fredy, sedangkan Qin sibuk mengusir semut. Kobaran api obor yang menyala, membuat kelompok semut pergi.


"Fredy, kita harus pergi dari sini. Para mafia itu, tadi mengejar kami." ajak Friska.


"Iya." jawab Fredy singkat.


Mereka berjalan pelan-pelan, karena tidak ada mafia juga. Kaki Fredy benar-benar terasa sakit, lalu Qin mengajaknya ke arah menara.


"Eh di sana ada menara API, ayo kita sembunyi di sana aja. Sekalian kita istirahat, kaki Fredy juga sakit." ajak Qin.


"Iya, ayo cepat jalan." jawab Friska.

__ADS_1


Mereka melangkahkan kaki, menapaki tangga menara. Mereka sudah sampai masuk ke dalam, lalu menutup arah tangga. Saat malam hari, mereka menyalakan senter. Untuk sementara saja, sampai mereka menemukan telepon.


"Bagaimana, apa ada telepon di menara ini?" tanya Fredy.


"Gak ada Fredy, tapi Qin sudah menyuruh orang untuk menjemput kita." jawab Friska.


"Kapan kita akan keluar dari sini Qin, aku sudah tidak tahan lagi." ucap Fredy jujur.


"Kalau kamu mau keluar secepatnya, gak apa-apa kok Fredy. Jujur, aku masih ingin mencari Kakak." jawab Qin.


"Aku tidak akan kembali, tanpa dirimu ikut." ujar Fredy.


"Aku lihat, kalian sudah tidak tahan lagi. Aku menjadi tidak tega, membiarkan kalian berpetualang di dunia seram ini." jawab Qin.


"Iya Friska, terima kasih masih setia. Aku akan berusaha membawa kalian semua keluar. Tapi, hanya sebatas yang aku mampu." ujar Qin.


"Iya Qin, aku sudah membawa bekal kok. Aku tahu, perjalanan kali ini tidak mudah." jawab Friska.


Tiba-tiba saja, ada sebuah cahaya bersinar. Qin dapat melihatnya, dari kaca menara. Qin segera memberitahu mereka dengan berbisik.


"Eh, ada sekelompok orang ke sini. Cepat matikan senternya." titah Qin.


"Iya Qin." Friska dan Fredy, menjawab secara bersamaan.

__ADS_1


Para mafia itu berhenti, tepat di bawah menara. Qin, Fredy, dan Friska mendorong meja, supaya menutup pintu yang ada pada lantai kayu.


"Ayo periksa menara ini."


"Iya, tidak boleh ada yang terlewat."


"Semua tempat harus kita jelajahi."


"Setelah mereka ditemukan, kita akan membunuh mereka."


"Jangan, kita harus melakukan pemerasan terlebih dulu."


"Hahah... baru ini seru, permainan lebih licik. Setelah anggota keluarganya datang, kita tidak akan memberikan anaknya."


Beberapa dari mereka menapaki tangga menara. Qin, Fredy, dan Friska menutup mulut rapat-rapat.


"Gawat, bisa ketahuan kalau kita di sini." bisik Friska.


"Mau bagaimana lagi, kalau kita keluar artinya cari mati." jawab Fredy.


"Jangan gugup, kalian harus tenang." Qin menghembuskan nafas secara perlahan, setelah menariknya dalam-dalam.


"Iya Qin." jawab keduanya, hampir bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2