Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Ditembak Mati Atau Lompat


__ADS_3

Qin dan Fredy duduk di atas bukit, setelah menaikinya dengan susah payah. Fredy sedikit mencari kesempatan, untuk menyatakan perasaannya. Daripada dia mati, dengan membawa cinta yang terpendam.


"Qin, sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu. Aku ingin, kamu menikah denganku. Bila kamu setuju, aku akan melamar ke rumah." ungkap Fredy.


Qin melihat bunga mawar di tangan Fredy. "Aku mau menikah sama kamu."


"Terima kasih Qin, karena sudah menerima aku." ujar Fredy.


"Eits, aku hanya menerima tawaran menikah. Namun, tidak untuk pacaran iya." jawab Qin.


"Iya, aku juga tidak mengajak untuk itu." ucap Fredy.


"Baguslah heheh..." jawab Qin, terkekeh.


Pria berseragam serba hitam itu segera melangkahkan kakinya, mendekati Qin dan Fredy. Alat pistol telah disodorkan, pada mereka berdua.


"Ditembak mati, atau lompat?" tanya Fredy.


"Aku memilih lompat." Qin menjawab lirih, lalu menjatuhkan dirinya ke bawah tebing.


Tak berselang lama, Fredy pun juga menyusulnya dengan cepat. Qin tidak sadarkan diri, karena kepalanya terbentur batu. Fredy susah untuk menggerakkan kakinya, karena keseleo saat menabrak batu.

__ADS_1


"Qin, bangun!" Fredy melihat perempuan itu, masih memejamkan matanya.


Sementara di sisi lain, ada Friska dan Tiger yang berlarian. Mereka takut tertangkap, oleh orang-orang jahat itu. Melangkahkan kaki dengan pelan-pelan, karena Tiger sedang menahan rasa sakit.


"Tiger, kamu sedang terluka. Sebaiknya, kita sembunyi aja dulu." ujar Friska.


"Ayo, kita sembunyi di wahana permainan itu." ajak Tiger.


Friska berlari dengan cepat, sementara Tiger berjalan terseok-seok. Harap maklum saja, kakinya terluka parah. Mereka berdua sudah sampai, pada permainan terowongan. Keduanya menunduk tanpa ingin menunjukkan diri, pada siapapun manusia di sana.


"Bagaimana iya keadaan Sisil dan Fernan sekarang?" tanya Friska.


"Aku juga gak tau Friska." jawab Tiger.


"Semoga saja, mereka aman." jawab Tiger.


"Aku merasa, bahwa mereka sekarang masih bersembunyi." ucap Friska.


"Harusnya si mereka keluar." jawab Tiger.


Sekelompok pria berseragam hitam, masih saja berada di dalam kamar. Sebagiannya tadi memeriksa loteng, namun Friska dan Tiger malah berhasil kabur. Mereka masuk ke dalam untuk memberi laporan, pada orang yang berjaga di ruang kamar tersebut.

__ADS_1


"Coba kalian pikir, apa mungkin sudah tidak ada orang lagi di sini."


"Bisa jadi si, mereka sudah kabur semua."


"Pastikan lagi, aku tidak ingin ada yang tertinggal."


"Baiklah, kami akan memeriksa ulang kamar ini."


Mereka menggeledah kamar, sampai seseorang menunduk. Dia tersenyum jahat, saat melihat Fernan. Anak kecil itu sangat ketakutan, sambil menutup mulutnya. Sisil merasa cepat atau lambat, lemari pakaian juga akan diperiksa. Dia memilih keluar meski takut, namun memberanikan tubuhnya yang bergemetar.


Duar! Duar!


Sisil menembak mereka dan begitupun sebaliknya. Lengan Sisil terkena tembakan, dan dia melemparkan tembakan pada Fernan. Anak kecil itu memberanikan diri, untuk melakukan perlawanan pada mafia.


Duar!


Pyar!


Tiba-tiba saja kaca kamar pecah, ternyata itu ulah Friska. Dia menembak kaca, supaya teman-temannya bisa keluar. Tiger juga membantu menyerang dari luar.


Sisil dan Fernan segera pergi, setelah tinggal beberapa orang. Mereka sibuk melawan Friska dan Tiger, yang bersembunyi pada batang pohon.

__ADS_1


"Kak, lengan Kakak terluka." ucap Fernan.


"Nanti bisa kita obati, yang paling terpenting kita harus keluar dulu." jawab Sisil.


__ADS_2