
Joy tertawa kuat, sambil mengikuti jejak darah kental. Bos Rudal dan Timon mempersiapkan alat pukul, bersamaan dengan Fredy yang mendorong lemari hingga ambruk.
"Hei, jangan lari kamu, atau aku tembak." Joy mengancamnya, sambil memegangi tubuh Fredy yang lemas.
Fredy berusaha menahan pistol, hingga mengarah ke tembok. "Aku tidak takut dengan ancaman mu."
Dor!
Pistol menembak ke arah kuali, karena Fredy terus mengelak lubang pistol berlari ke arahnya. Qin keluar dari persembunyian, lalu menarik kaki Joy. Timon dan bos Rudal baru berhasil melepaskan tubuh lemari, yang dari tadi jatuh menimpa tubuh mereka.
Joy mengamuk, dan Fredy menendang kakinya. Setelah Joy jatuh Qin dan Fredy berlari menjauh. Joy berusaha meraih pistol yang ada di lantai, namun peluru mengenai pintu. Joy terlambat dalam bertindak, karena Qin dan Fredy berhasil kabur.
"Tunggu apalagi, cepat kejar mereka!" ajak Joy.
"Ayo cepat, sekarang berdiri!" Timon menarik saudara sepupunya.
Qin dan Fredy tidak sengaja bertemu Anyi, Limuq, dan Lucky. Nafas mereka ngos-ngosan, saat bertabrakan punggung merasa terkejut.
__ADS_1
"Kalau tahu seperti ini, aku tidak akan mau mengikuti bos Rudal." Lucky mengeluh.
"Iya, aku juga tidak tahu kalau akan terjadi hal seperti ini." jawab Qin datar.
Mereka melanjutkan perjalanan, tidak ingin berlama-lama. Berada di lorong ruangan itu tidak nyaman, karena mereka akan mudah tertangkap.
"Sekarang kita harus kemana lagi. Aku sudah buntu pikiran, sepertinya semua tempat telah dikunjungi." ujar Lucky.
"Paling utama kita bisa mencari jendela arah keluar." jawab Qin.
"Kalau gitu, kita harus bisa kompakan." jawab Fredy.
Tiba-tiba struktur bentuk rumah berubah, mereka pusing sendiri saat tubuh terombang-ambing. Menuruti pergerakan dinding dan lantai, membuat mereka berpegangan tidak tentu arah.
"Eh, ayo melompat keluar dari jendela." ujar Qin.
"Eh iya, dindingnya sudah berubah jadi jendela juga." jawab Anyi.
__ADS_1
Fredy dituntun hingga berhasil keluar jendela. Qin menarik lengan baju Limuq yang tersangkut. Anyi baru saja ingin melompat, namun bajunya malah tersangkut. Lucky di belakangnya menunggu dengan cemas, sambil menggerakkan jari-jarinya sendiri. Bos Rudal dan Timon membanting tombol kursor laptopnya, merasa kesal karena rencananya gagal sejak titik awal.
"Baru saja kita merencanakan untuk mengawasi lewat cctv, dan ada yang bertugas untuk menangkap. Namun lihatlah, mereka sudah keluar duluan lewat jendela." gerutu bos Rudal.
"Eh, masih ada perempuan itu. Dia lamban sekali, sampai bajunya tersangkut di jendela." Joy menunjuk layar komputer.
Timon segera memencet sebuah tombol, untuk mengubah pergerakan bentuk ruangan. Anyi terpaksa menarik bajunya, agar dia tidak terjepit. Limuq yang sudah berada di luar berteriak, karena pisah dengan Anyi.
"Bagaimana ini, aku gagal menyelematkan pacarku." Limuq merasa sedih, membenarkan kacamatanya.
Anyi menangis histeris karena gagal mengeluarkan dirinya sendiri. Sesuai dengan yang ditakutkan sejak awal, dugaannya tidak meleset bahwa akan ada yang berpencar.
"Eh, kita harus cepat keluar dari sini." ujar Lucky.
"Aku ragu ingin melangkah, bagaimana bila mereka meningkatkan pengawasan. Aku takut, kalau mereka akan menyusun strategi pembunuhan baru." Anyi memiliki perasaan yang kuat.
Qin dan Fredy berlari di lorong kebun mangga, lalu mengambil buah segar. Perut mereka sangat lapar, bahkan kerongkongan sangat kering. Limuq tidak tenang, karena Anyi masih di dalam rumah.
__ADS_1