Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Berhasil Membebaskan Diri


__ADS_3

Saat menghidupkan mesin mobil, namun tidak mau menyala. Fredy terus berusaha, sampai bos Rudal dan Timon hampir mendekati mobil. Qin tidak tahu siapa orang yang mengenakan penutup kepala, yang pasti dia ingin memancing mereka.


"Anyi, Limuq, aku pancing mereka, supaya Fredy tidak ketahuan. Nanti susul aku di ujung perbatasan lorong pertama, bila kalian sudah berhasil menyalakan mobilnya." ujar Qin.


"Siap Qin, kamu hati-hati." Anyi lumayan khawatir.


"Hei, aku di sini!" Qin berteriak.


Timon dan bos Rudal berlari mengejar Qin secara bersamaan, tidak segan melemparkan tombak. Sayangnya alat tersebut malah menancap ke pohon besar. Qin berjalan melenggak-lenggok mengitari pohon, membuat yang mengejar merasa pusing sekaligus emosi.


"Cepat, kamu hadang dia lewat jalan ini." Bos Rudal menunjuk jalan pintas.


"Ayo Qin, kamu pasti bisa selamat." Qin menyemangati diri sendiri.


Qin berlari tanpa menoleh ke belakang lagi, dan tiba-tiba mendapat dorongan dari samping jalan. Timon memegangi parang sambil tertawa-tawa, sudah siap dilayangkan ke arah Qin. Namun, tertahan dengan kayu besar yang menjadi penghalang. Kedua tangan Qin berusaha menahan pisau panjang, yang terus memberikan tekanan.


"Aduh, aku hampir tidak sanggup." Qin meringis, tangannya terasa pegal.

__ADS_1


"Sudahlah, lebih baik kamu menyerah saja." Timon merasa hampir mendapatkan kemenangan.


Bugh!


Qin berhasil menendang tungkai kaki depannya, lalu segera berlari tunggang langgang. Qin melangkahkan kaki secara sembarangan, benar-benar tidak tentu arah.


Fredy, Anyi, dan Limuq sudah berada di dalam mobil. Mereka menunggu di perbatasan, berharap Qin segera muncul. Qin mengejutkan mereka, saat melompat dari balik semak. Wajahnya dipenuhi taburan daun kering, dan juga daun yang masih hijau.


"Qin, kamu tidak apa-apa?" tanya Anyi dan Limuq secara bersamaan.


Fredy membukakan pintu mobil, lalu Qin masuk ke dalam dengan berlari. Mobil melaju dengan kencang, bersamaan dengan dua manusia muncul dari balik semak.


"Bagaimana cara kamu membebaskan diri?" tanya Qin.


"Aku tadi sembunyi lebih dulu, sebelum Joy mengetahui keberadaan aku. Lalu setelahnya, baru aku atur siasat kabur. Beruntung saja, mobilnya bisa menyala. Dia sangat emosi saat melihat mobil di parkiran bergerak, lalu melemparkan parang namun hanya terkena kaca mobil." jelas Fredy. "Oh iya, kamu sendiri bagaimana bisa melarikan diri?"


"Aku menendang bos Rudal, saat dia mengarahkan parang padaku." jawab Qin.

__ADS_1


"Ya Allah, aku khawatir sekali awalnya. Kamu nekat sekali memancing mereka, aku sampai gemetar melihat reaksi mendadak tadi." ujar Fredy.


"Iya, sebenarnya aku juga cemas. Hanya saja, aku berusaha melawan perasaan takut." Qin nyengir.


"Selama mereka hidup kita tidak akan tenang." sahut Anyi.


"Kita laporkan ke polisi saja, suruh mereka membuat tim gabungan." jawab Qin.


"Sudah berapa banyak polisi yang bertugas namun mati, tentara saja mereka lawan." ucap Anyi.


"Sudahlah, aku akan memikirkan solusinya." Qin malas berdebat lebih lama.


Tiga jam kemudian, mereka baru sampai ke kota. Qin pulang ke rumahnya, begitu pun dengan teman-teman yang lain. Fredy masih menunggu Qin di masuk ke dalam rumah.


"Qin, kamu hati-hati iya." ucap Fredy.


"Kamu yang hati-hati, perjalanan masih panjang. Aku 'kan sudah sampai, tinggal teriak depan pintu." jawab Qin.

__ADS_1


__ADS_2