
Friska melangkahkan kakinya, lalu Jenny menembak lantai. Friska segera menghindar, sambil menutup wajah dengan telapak tangan.
"Menjauhlah! Aku tidak segan berbuat macam-macam pada sahabatmu." ancam Jenny.
"Baiklah, aku bisa apa." jawab Friska.
"Kenapa Kakak melakukan ini padaku?" tanya Qin.
"Aku ingin mati bersamamu, daripada harus mendekam dalam penjara. Itu tidak adil untukku, selama puluhan tahun aku selamat. Dalam bisnis ilegal ini, pertama kali aku tertangkap. Semua karena kehadiran kamu, dan teman-teman."
"Mungkin saja, masa Kakak licik hanya bisa di batas ini." Qin tersenyum.
"Tutup mulutmu, atau aku akan membunuh sekarang." Jenny tidak terima, melihat senyum Qin berlagak santai.
Fredy memanjat dinding gedung, hanya untuk menyelamatkan calon istrinya. Dimulai dari tangan meraih apapun yang bisa dipegang, sampai tidak sengaja perut Fredy terkena pecahan kaca.
"Haduh, sakit sekali!" Fredy melihat darah keluar, bercucuran dengan lumayan deras.
Fredy tidak mempedulikannya, yang paling terpenting menyelamatkan Qin terlebih dulu. Fredy sudah sampai ke atas, dan mengedipkan mata ke arah Friska. Fredy menembak pelipis Jenny, hingga dia jatuh ke bawah gedung. Qin juga hampir terjatuh karena sulit mengimbangi tubuhnya, yang tidak berdiri tegap sebelumnya. Friska menarik lengan kanan Qin, sampai perempuan itu berhasil diselamatkan.
__ADS_1
"Friska, terima kasih telah menolongku." ucap Qin.
"Hasil kerjasama berdua." Friska menunjuk Fredy.
Fredy dibawa ke ruangan medis, untuk mendapatkan perawatan dari dokter. Tangan dan kakinya terasa lemas, saat peluru di keluarkan dari sarangnya.
"Seram sekali senjata manusia ini." ujar Friska.
"Asalkan kamu menggunakannya dengan bijak, mungkin hanya akan membunuh monyet hutan." jawab Qin.
Beberapa bulan kemudian, Qin dan teman-temannya sudah kembali ke kampus. Qin memandangi sertifikat detektif yang diperolehnya dari tempat kursus.
"Wow, kamu mendapatkannya lebih awal." ujar Friska.
"Mereka belum dapatkah?" tanya Friska.
"Mereka belum berhasil memecahkan misteri perusahaan yang bekerjasama dengan Kharuga." jelas Qin.
"Sekarang sudah selesai magang, keadaan sudah lebih baik. Jadi, aku ingin datang melamar ke rumah." sahut Fredy.
__ADS_1
Qin tersenyum. "Baiklah, tunjukkan keseriusan dirimu di depan orangtuaku." jawabnya.
Qin dan Fredy singgah ke rumah bersama, nanti setelahnya akan menemui Limuq dan Anyi. Karina dan Arka menyambut kedatangan mereka, namun tidak tahu maksud kali ini.
"Om, Tante, maksud kedatanganku ke sini, karena ingin menikahi putri kalian." ujar Fredy.
Karina tersenyum malu. "Ini serius? Maksudnya sekarang Nak Fredy melamar Qin putri kami?"
"Iya benar Tante, aku akan segera menikahinya. Jika kalian menyetujuinya, lebih cepat lebih baik." ucap Fredy.
"Apa ini tidak terlalu buru-buru? Om lihat kalian baru selesai magang juga." jawab Arka.
"Aku sebagai mamanya setuju saja, bila Qin menginginkan pernikahan." Karina menoleh ke arah Qin.
Qin menganggukkan kepalanya, dengan mata berbinar-binar. "Aku mau Mama, aku menyukainya. Aku ingin seumur hidup bersama Fredy." Terharu, karena Fredy berani datang ke rumah.
Fredy merasa lega, karena sudah mengutarakan maksud hati. "Bagaimana Om, apa sudi merestui kami?"
"Om setuju saja, namun harus ada orangtua juga. Hal besar seperti ini, takutnya malah kamu sembunyikan." Arka mengutarakan keinginannya.
__ADS_1
"Papa jangan keterlaluan, orangtua Fredy sudah tidak ada lagi." Karina menyenggol lengan Arka.
Arka manggut-manggut, seraya minta maaf. Mungkin saja, perkataannya menyinggung hati Fredy.