
Joy muncul tiba-tiba, melihat bos Rudal dan anaknya. Mereka berbicara tepat di depan pintu ruangan, di mana Qin dan teman-temannya bersembunyi sekarang.
"Eh, aku merasa jengkel dengan Qin. Dia telah menghancurkan bisnisku, di seberang laut ." ujar Joy.
"Tenang saja, kita akan menghabisinya sekarang." jawab bos Rudal.
"Terima kasih iya Paman." ucap Joy.
"Iya sama-sama." jawabnya.
Qin dan Fredy dapat mendengar lumayan jelas, karena posisinya tidak terlalu jauh dari pintu. Anyi dan Limuq saling mencolek satu sama lain.
"Kita harus lari kemana setelah ini?" tanya Anyi.
"Tidak tahu, aku frustasi melihat Friska ditebas di depan mata. Aku trauma dalam hal ini, jangan sampai mental ku kena." jawab Limuq.
"Meskipun sangat takut, kita harus kabur." Anyi menggoyangkan lengannya.
"Baiklah, aku tetap mengusahakannya. Namun, aku perlu istirahat sejenak." jawab Limuq.
Karina mondar-mandir, karena Qin tidak pulang. Dia bahkan tidak memberikan kabar, bahwa sekarang sudah sampai di mana.
__ADS_1
"Mama, tenang iya. Nanti juga mereka akan kembali." ujar Arka.
"Bagaimana aku bisa tenang, aku ini seorang Ibu. Banyak orang mengungkapkannya, sebagai malaikat tanpa sayap." jawab Karina.
"Meskipun berbakti pada Ayah tidak dianjurkan tiga kali lipat, namun kami juga menyayangi seorang anak dengan tulus." Arka mengutarakan perasaannya.
"Hahah... Papa sepertinya cemburu." Karina tidak dapat menahan rasa lucu.
"Oh iya, Qin sudah izin pergi ke kebun mangga bersama bos di tempat magang dulu." ujar Arka.
"Aku kok tetap merasa tidak nyaman iya, karena perusahaan Kharuga sudah banyak kejadian tidak enak didengar." Karina mulai khawatir lagi.
Bunyi Kokok ayam jago akhirnya terdengar, membangunkan empat manusia yang tidak sengaja tertidur. Pagi hari itu tidak ada bunyi apapun, semuanya masih aman terkendali. Sampai tiba-tiba lantai bergerak, dan Qin berlari dengan terburu-buru.
"Aku takut sekali, karena tidak tahu apa yang akan terjadi." Anyi mulai merasa lelah.
"Teman-teman ayolah, aku yakin kita bisa keluar." Qin merayu teman-temannya, agar tidak menyerah untuk pergi.
"Iya Qin, iya. Ayo cepat buka pintunya, aku mengikut langkah kalian saja." Limuq terdengar pasrah.
Qin membuka pintu bersama dengan Fredy, dan yang mengejutkan ada bos Rudal di depan pintu. Qin dan Fredy terburu-buru menutup pintu, saat kapak mulai diangkat.
__ADS_1
"Qin, bagaimana ini? Kita ketahuan 'kan?" Anyi mulai panik.
"Kita tunggu perputaran struktur bentuk rumah berubah. Saat jendela mulai terlihat, kita keluar lewat sana." Qin mengusulkan idenya.
Brak!
Suara kapak menebas pintu hingga pecah sedikit demi sedikit, perlahan memperlihatkan orang-orang yang bersembunyi di dalam. Anyi ketakutan sambil menggenggam lengan Limuq erat.
"Dengarkan semuanya, dalam hitungan ketiga cepat lompat jendela." pinta Qin.
"Baiklah." jawab Anyi dan Limuq serentak.
Satu!
Dua!
Tiga!
Mereka berlari sambil menyeimbangi dinding yang bergerak, juga lantai yang mengalami pergeseran. Tangan Limuq dan Fredy nyaris terhimpit dinding. Qin dan teman-temannya berhasil menghindari kejaran bos Rudal. Mereka berada di ruangan, yang tidak tahu apa fungsinya.
"Qin, rumah ini lebih sulit dari struktur labirin. Aku khawatir, kita mudah ditangkap." keluh Anyi.
__ADS_1
"Tarik nafas, lalu hembuskan. Kita benar-benar butuh ketenangan, untuk menyerang mereka." Qin mengingatkan Anyi.
Fredy melihat bentuk ruangan, yang berbeda dengan awal mula datang. Benar-benar canggih rumah itu, semuanya bisa bekerjasama untuk bergerak.