
Friska dan Fredy mengedipkan mata masing-masing, saat mendengar suara ayam berkokok di kejauhan. Mereka berdua berdiri dengan cepat, harus segera melarikan diri.
"Kita ke rumah sakit Bakti Husada saja. Katanya, Qin dirawat di sana." ujar Friska.
"Baiklah, ayo cepat cari bantuan. Kita harus keluar dari hutan desa ini." Fredy tergesa-gesa, namun masih menahan sakit.
Wasli dan teman-temannya melanjutkan pencarian, setelah semalam tidur dengan nyenyak. Sekarang menendang rumput berduri, yang tumbuh dengan tinggi.
"Eh, itu ada kendaraan lewat. Pasti kita sudah mendekati jalan utama." ujar Friska.
"Iya sudah, kalau begitu kita keluar dari persembunyian sekarang." jawab Fredy.
Mereka menyinggahi mobil kijang yang membawa kambing, dan sopir mengerem secara mendadak.
"Kalian cari mati iya?" tanya pria paruh baya, sambil mengucek matanya.
"Tidak Pak, kami hanya mau menumpang ke kota." Karina nyengir.
"Kenapa kalian tidak berdiri di pinggir jalan saja." Geleng-geleng kepala, melihat tindakan Friska.
__ADS_1
"Kami buru-buru, takut Bapak tidak melihat ke sisi jalan." jawab Friska.
Friska dan Fredy naik ke atas bak belakang mobil, berniat menuju ke rumah sakit Bakti Husada. Ekor kambing terkena wajah Friska, lalu dia kencing mendadak. Tidak hanya itu, dia juga buang air besar.
"Uek... uek... dasar kambing tidak ada akhlak." cerca Friska.
Fredy menutup hidungnya. "Bau sekali, jangan-jangan dia makan rumput liar." Mengibaskan udara didekatnya.
"Aku sudah kapok, tidak akan ke sini lagi. Warganya tidak adil, bisa-bisanya memperlakukan kita tidak terhormat. Akan aku buat perhitungan, supaya mereka menyesal." Nafas Friska menggebu-gebu, mengeluarkan uneg-uneg.
"Baiklah, silakan lakukan apa yang kamu mau. Namun, harus berhasil mengalahkan mereka terlebih dulu." Fredy teringat dengan Wasli dan teman-temannya, mereka adalah musuh utama.
"Aku menumpang mandi di rumah sakit ini saja. Rasanya sudah tidak enak, mau pulang cepat." ujar Friska.
"Iya silakan, tidak ada yang melarang." jawab Qin.
Friska masuk ke kamar mandi, dan Qin ditemani dengan Karina. Di luar juga aman, ada dua polisi berjaga. Status Qin sekarang masih tahanan, karena tidak ada bukti nyata.
"Pak, aku membawa bukti kejahatan. Boleh disimpan terlebih dulu, sampai selesai perbaikan ponsel. Di dalam sana ada rekaman video, yang dapat membuktikan aku tidak bersalah." Qin menyerahkan sebuah memori.
__ADS_1
"Baiklah." jawab salah satu polisi.
Di tempat perbaikan ponsel, Friska meletakkan barang Qin. Setelah itu mereka kembali ke rumah sakit, beberapa hari kemudian baru mengambil ponselnya.
"His, kok Google malah muncul tembakan permainan ponsel Android. Padahal aku mencari model tembakan yang asli." gerutu Friska.
"Sabar, mungkin lagi eror." Qin mengusap punggung Friska.
"Aku ingin menyiapkan hadiah untuk para pembunuh itu." ujar Friska.
"Kamu tidak perlu membunuh, lagipula kamu tidak diserang duluan." jawab Qin.
"Kamu tidak tahu, bagaimana sakitnya melihat calon suamimu dibunuh." Friska mengutarakan perasaannya.
Qin tertunduk merasa bersalah. "Maafkan aku Friska, maafkan aku yang sudah merepotkan terlalu jauh."
"Maka dari itu, aku harus membalaskan dendam Tiger. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, mereka tidak boleh seenaknya." Friska tersulut emosi.
"Baiklah, bila ini keputusan yang kamu ambil." Qin hanya bisa mendoakan yang terbaik, untuk teman terdekatnya.
__ADS_1