
Anak buah Joy masuk ke dalam kamar, karena mendengar suara langkah kaki mereka. Friska dan Tiger saling menutup mulut masing-masing, karena berada di atas langit-langit kamar. Terbuat dari bahan triplek, yang sangat tipis.
"Friska, ini benar-benar membuat jantung terasa mau copot." bisik Tiger.
"Iya, aku juga takut." jawab Friska berbisik.
Salah satu dari mereka membuka pembicaraan. "Cepat, coblos langit-langit kamar."
"Baik, akan kami laksanakan." jawabnya.
Mereka mulai menusuk papan triplek, menggunakan pedang. Tiger dan Friska terus menghindar, dan melakukan pergerakan dengan berjalan seperti kucing. Terus saja menunduk, dengan kaki dan tangan berjalan.
"Gawat, kakiku terkena tusuk." ujar Tiger.
"Bagaimana ini, bisa-bisa Fernan tertangkap." jawab Friska.
"Berdoa saja, supaya mereka lupa memeriksa kolong ranjang tidur." ucap Tiger.
"Iya Tiger." jawab Friska.
__ADS_1
Mereka semua melongo, ketika menoleh ke atas. Dari lubang bekas coblosan itu, keluar darah segar yang menetes ke bawah. Semuanya segera mencoblos lebih cepat, sedangkan Friska juga dengan cepat menyeret tubuh Tiger. Bila ingin memapahnya di atas langit-langit kamar, itu akan sangat sulit karena lorongnya kecil.
Qin dan Fredy bersembunyi di kandang kuda, sambil menutup mulut rapat-rapat. Mereka bahkan takut, bila hembusan nafas akan terdengar.
”Aku tidak mau mati sia-sia, sebelum menemukan Kak Arina. Aku harus mendapatkan informasi tentangnya, baru kabur dari tempat ini.” batin Qin.
"Keluar kalian semua, jangan menjadi pengecut." ujar sekelompok pria bersamaan.
Tetap tidak ada sahutan, sampailah kuda-kuda itu terdengar suaranya. Qin dan Fredy segera berjalan sambil menunduk, menuju ke kandang angsa. Siapa sangka, bila angsa itu akan membuka mulut.
"Ayo Qin, kita harus cepat kabur." ajak Fredy cemas.
"Iya, kita sudah ketahuan Fredy." Qin berlari, mengikuti langkah kaki Fredy.
Duar!
Qin menembak salah satu dari mereka, lalu mengangkat celana panjangnya supaya lebih mudah berlari. Fredy segera menarik jaket Qin, supaya dia tidak usah menghiraukan mereka.
"Qin, kita harus segera sembunyi di ladang jagung." ajak Fredy.
__ADS_1
"Iya Fredy." jawab Qin.
Mereka menyalakan senter ke arah tumbuhan hijau itu. Qin tiba-tiba merasa lapar, karena belum makan sama sekali. Fredy membuka bungkus roti, lalu memberikannya pada Qin.
"Untuk kamu aja, nanti kamu gak ada makanan." ujar Qin.
"Kita 'kan bisa mencabut jagung ini." Fredy melirik jagung masak.
Duar! Duar! Duar! Duar!
Suara tembakan menggema dimana-mana. Qin dan Fredy melanjutkan perjalanan, setelah makan roti dibelah dua.
"Qin, ternyata bos mafia itu sadis. Pantas saja, polisi turun tangan untuk mencari Kakakmu." bisik Fredy.
"Iya, bahkan polisi yang mencari Kak Arina pernah tidak kembali lagi. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menjadi detektif misterius." jawab Qin.
Saat hendak berbelok dari lorong, Qin melihat rombongan para mafia itu. Dia segera bersembunyi lagi, menyuruh Fredy untuk putar arah.
"Qin, kita lewat sana aja." Fredy menunjuk lorong.
__ADS_1
"Iya Fredy, sepertinya kelompok mereka di sana." Qin menunjuk lorong sebelah kiri.
Mereka berdua segera menyelinap, ke tumbuhan jagung yang rindang. Akhirnya mereka berhasil menjauh dari tempat itu, menuju ke hutan yang penuh dengan pohon besar. Berusaha menyembunyikan diri, yang sebenarnya mudah tampak oleh manusia lainnya.