Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Wisuda


__ADS_3

Keesokan harinya, Qin pergi ke kampus. Para dosen melihat ke arah mereka, dengan tatapan kesal.


"Kamu pergi kemana saja Qin, sehingga baru sekarang mengikuti ujian susulan?" tanya dosen Serna.


"Aku ada urusan penting Bu." jawab Qin.


Dosen Sishi melihat ke arah Fredy. "Kamu ikut Qin pergi, sehingga tidak masuk kampus."


"Aku bukan ikut Qin, namun ikut bos Rudal dari perusahaan Kharuga. Dia mengajak kami mencicipi mangga di kebunnya."


"Mengapa tidak pulang ke rumah dengan cepat?" selidik Sishi.


"Kami terjebak di sana, karena mobil rusak. Montir yang disuruh datang pun tidak tampak juga. Hingga kami berhasil keluar, dengan perjuangan yang sangat besar." jelas Fredy.


Dosen Sishi memberikan setumpuk tugas soal-soal matematika, sedangkan Serna memberikan setumpuk ujian susulan dari jurusan utama. Qin melihat buku-buku tebal, yang sekarang berada dalam dekapannya. Mereka melangkahkan kaki keluar dari ruangan kantor dosen.


"Eh, Ekonomi Bisnis ini butuh perjuangan sampai hampir membunuh nyawa kita." ujar Fredy.


"Benar sekali, aku hampir mengeluarkan seluruh energi dalam tubuh." jawab Qin.

__ADS_1


Mereka belajar di perpustakaan, karena di sana lebih tenang. Tidak ada yang mengganggu, dengan suara musik, atau seseorang yang usil pada teman-temannya.


"Qin, sudah wisuda kuliah kita kerja ke perusahaan saja." ujar Fredy.


"Iya insyaAllah." jawab Qin.


Beberapa Minggu, mereka terus mengguyur tugas. Pulang pergi ke kampus, cuma untuk mengerjakan pelajaran yang tertinggal. Sesekali merayakan keberhasilan seminar proposal teman-teman yang berhasil revisi.


"Akhirnya, sekarang kita berhasil di tahap ujung dari perjuangan." ucap Qin.


"Iya Qin, tapi melewatinya setengah mati." jawab Fredy.


"Aku pasti bisa, aku sudah berjuang selama ini." Qin terburu-buru mengerjakan soal matematika.


Fredy menatap ke arah Qin yang fokus mengerjakan tugas. "Bukan hanya kamu, aku juga sangat bersemangat. Aku harus mencari nafkah, setelah kita menikah nanti."


Beberapa Minggu kemudian, keduanya memakai topi toga. Wisuda kali ini bahagia sekali, karena kedatangan Limuq dan Anyi. Namun di sisi lain ada perasaan sedih, karena tidak ada Friska dan Tiger.


"Qin, Fredy, selamat iya." ucap Anyi.

__ADS_1


"Terima kasih, selamat untuk Kalian berdua juga." jawab Qin ramah.


"Kamu mau ikut kami tidak, ke sebuah pertandingan berkuda." ajak Qin.


"Boleh, tapi foto di studio terlebih dulu." jawab Anyi, mengutarakan maksudnya.


Mereka segera pergi dari kampus Next Up menuju ke sebuah studio foto. Suara bidikan dari fotografer handal terdengar di telinga. Berulang kali dilakukan saat mereka memasang gaya, dengan memegang topi toga di kepala masing-masing.


Tidak lama kemudian, sudah sampai di tempat pertandingan berkuda. Fredy sengaja mengikutinya, karena ingin melatih kemampuan selama ini. Limuq juga mengikuti pertandingan tersebut. Tepuk tangan dari Qin dan Anyi di lapangan, terdengar paling keras daripada penonton lainnya.


"Ayo Fredy, kalahkan Limuq." Qin menoleh ke arah Anyi.


"Hahah... aku tidak akan membiarkannya. Aku pemandu sorak paling heboh." Anyi tertawa pelan, lalu berbicara setelahnya.


"Kita lihat saja nanti." ucap Qin.


"Iya, aku terima meski Fredy yang menang." jawabnya.


Kuda berlari ke arah bukit, yang dipenuhi dengan pohon-pohon rindang. Batangnya nan kokoh, semakin membuat mereka sulit terlihat dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2