Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Labirin


__ADS_3

Nafas Fredy dan Friska terengah-engah, melihat sekeliling tidak ada orang. Fredy dan Friska berhenti sejenak. mengatur pernafasan agar stabil, nanti akan kembali dibawa berlari.


"Lihatlah, di sana ada ruang labirin, pasti mereka akan kesulitan menemukan kita." Fredy menunjuk sebuah bangunan besar.


"Tapi, kita juga sulit keluar." jawab Friska.


"Kita pikirkan nanti caranya, sekarang yang terpenting kabur dulu. Akibat difitnah dengan ketua bandit itu, warga benar-benar mengamuk." ujar Fredy.


"Iya sudah, aku ikut saja. Lagipula, ada pilihan lain apa." Friska akhirnya pasrah.


Warga mengejar mereka, karena melihat Friska dan Fredy masuk ruang labirin. Fredy semakin mempercepat langkahnya, saat mendengar suara warga yang berteriak.


"Naik ke lantai atas." titah Fredy.


"Baiklah." jawab Friska dengan cepat.


Duar!

__ADS_1


Suara tembakan terdengar, namun tidak tahu di ruangan mana. Friska dan Fredy terus memanjat sampai lantai atas. Sungguh payah para penduduk Gunung Kiwochi, bisa saja otaknya dicuci oleh keponakan ketua adat.


"Aduh, kenapa perutku tiba-tiba sakit." Friska memeganginya, sambil duduk di kursi.


"Kamu belum sarapan mungkin." Fredy menduga saja.


"Ini awal bulan, seharusnya memang waktu datang bulan." jawab Friska.


"Harusnya segera dikompres air hangat, namun situasi sekarang begitu sulit." ujar Fredy.


"Iya, aku mengerti kok. Sepertinya kejadian kemarin aku begitu sensitif, karena hal ini." jawab Friska.


"Sayang, Mama bersyukur kamu sudah siuman." Mengusap kepala putrinya.


"Iya Ma, alhamdulillah. Aku juga merasa lega, untuk yang terjadi sekarang. Setidaknya, aku tidak berada dalam penjara lagi." jelas Qin.


"Papa tidak tahan, lihat kamu magang di perusahaan itu. Selama ini, keadaan selalu tampak rumit. Banyak kejahatan yang mengintai, ntah darimana asal mereka." terang Arka.

__ADS_1


"Pa, sebentar lagi sudah selesai. Palingan juga beberapa Minggu, setelah itu kembali ke kampus. Sekali memutuskan, kita tidak bisa pindah tempat lain. Sudah peraturan sejak awal, karena pihak kampus tidak ingin menyinggung perusahaan." jawab Qin.


”Ini sebenarnya menimba ilmu, atau menimba nyawa, mengapa membuat Qin nyaris tak tertolong. Selalu saja hal darurat, membuat kami khawatir.” batin Karina bergumam, gelisah di dalam hati.


Fredy dikeroyok oleh para penghuni ruang labirin, dan segera melarikan diri setelah berhasil memukul. Mereka keluar dari cerobong asap, untuk menghindari kejaran para penjahat.


Friska sudah berjalan duluan, karena perutnya sakit. Dia tidak ikut bertarung, memilih bersembunyi di ruangan sepi. Sesekali matanya menoleh ke arah jendela, berharap Fredy baik-baik saja.


”Apa dia berhasil kabur iya? Kalau sampai tewas di tempat, Qin pasti marah denganku.” batin Friska dipenuhi rasa cemas.


Fredy terombang-ambing tidak berdaya, saat melangkah terasa lemas. Darah bercucuran dari perutnya, lalu Friska segera menariknya masuk ke dalam.


"Fredy, cepat obati luka kamu lebih dulu." ujar Friska.


"Perutku ini tertusuk pisau, perlu dibawa ke rumah sakit." Fredy meringis menahan perih, yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Friska tidak punya pilihan lain, dia segera menghubungi Limuq dan Anyi. Fredy tidak mau melibatkan banyak orang, sehingga menghalangi Friska meminta bantuan.

__ADS_1


"Friska, jangan merepotkan mereka lagi." pinta Fredy, berusaha keras melarangnya.


"Memangnya kenapa? Keadaan kita sekarang sangat darurat, lagipula mereka juga teman-teman Qin." jawab Friska, menunjukan tindakannya sudah tepat.


__ADS_2