
Saat tengah malam tiba, terdengar suara ketukan pintu. Debby sedang bermain ponsel, memeriksa fotonya bersama Yoyon. Debby segera keluar kamar, setelah mengeluarkan menu dari galeri.
"Siapa itu?" tanyanya, sambil membuka pintu.
Debby berjalan sedikit menjauh dari pintu, karena tidak ada jawaban. Tiba-tiba, ada yang membungkam mulutnya dari belakang. Debby pingsan dan dibawa pergi jauh.
Keesokan harinya, Sisil bangun. Dia menjerit, tatkala melihat pintu ruangan tidak terkunci. Bahkan pintu tersebut terbuka lebar-lebar.
"Semuanya, ayo cepat ke sini." panggil Sisil.
Qin segera berlari, bersama dengan Friska. Begitupun juga dengan Fredy, Tiger, dan Revano.
"Ada apa Sisil?" tanya Friska.
"Pintu terbuka lebar, Debby juga tidak ada." jawab Sisil.
"Kalian curiga gak si, kenapa Debby bisa menghilang juga?" tanya Friska.
"Aku yakin, ada yang mengincar kita." jawab Qin.
"Kita satu argumen Qin, aku juga merasa was-was." ujar Fredy.
__ADS_1
"Musuh ini pasti sengaja, ingin menghabisi satu persatu. Maka dari itu, kita jangan berpencar." jawab Qin.
"Kita buat jebakan aja untuk penculik tersebut." Friska mengusulkan idenya.
"Gak, sebaiknya kita meminta tolong pada para pekerja taman hiburan." jawab Fredy.
"Nah, aku setuju dengan usulan ide Fredy." ucap Qin.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang." jawab Fredy.
Mereka melangkahkan kaki masing-masing, berjalan melewati ladang jagung. Jarak antara taman wisata dan hiburan, dengan penginapan benar-benar jauh.
"Aku merasa ada yang aneh, dari awal datang ke sini. Kenapa gedung pemilik taman hiburan, tidak berdekatan dengan penginapan saja." ucap Friska.
"Bagaimana kita mau keluar, kalau pembunuh Kak Arina belum ditemukan." ucap Sisil.
"Benar, pasti akan sangat sulit. Apalagi kejadian itu, terjadi saat dia masih kelas 12 SMA." jawab Revano.
Mereka akhirnya sudah sampai, setelah berjalan jauh. Para pekerja itu menghampiri mereka, sambil tersenyum ramah. Ada juga yang berwajah datar dan galak.
"Kenapa kalian kembali dengan cepat, bukankah ingin menginap beberapa Minggu?" tanya seorang pria muda.
__ADS_1
"Iya, karena kami ingin menemui bos kalian." jawab Friska.
"Ada perlu apa?" tanyanya.
"Dua teman kami menghilang, sedangkan ingin menghubungi kalian sinyal tidak ada." jawab Fredy mewakili.
Mereka berjalan ke gedung besar, diantar oleh dua pekerja itu. Pakaiannya yang serba hitam, lebih menambah kesan horor.
"Bos, ada yang ingin menemui anda." ujarnya.
Pria itu memutar kursinya, hingga menghadap ke arah mereka semua. Qin membulatkan kedua matanya, tatkala melihat jam tangan yang dikenakan pria itu.
”Hah, apa dia yang menculik Kak Arina. Aku tidak akan pulang, aku harus terus menyelidikinya. Aku tidak takut dengan nyawaku, karena ini memang tujuanku menjadi detektif. Kakak tunggu aku, semoga dirimu masih hidup.” batin Qin.
"Namaku Joy, pemilik taman wisata dan hiburan ini." ujarnya, dengan suara seram.
"Iya, kami mengerti. Kedatangan kami ke sini, ingin melaporkan teman kami menghilang." Friska mengutarakan maksud.
"Teman kalian menghilang, pasti karena keluar dari penginapan. Di sana adalah hutan luas, banyak makhluk hidup berbahaya. Dia bisa mencabik-cabik kulit mangsanya." ungkap Joy.
"Bantu kami untuk menemukannya." jawab Sisil.
__ADS_1
Qin diam saja, melihat Joy menyetujui permintaan Sisil. Setelah selesai melapor, mereka semua keluar. Banyak sekali hal berkecamuk dalam sanubari, perlu diurai satu persatu.