Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Kebakaran


__ADS_3

Tongkat penyangga mulai hangus terbakar, sehingga menara bergoyang-goyang. Harap maklum saja, karena tidak seimbang. Qin segera melompat ke arah, dahan-dahan pohon kecil. Tubuh Qin berhasil terlempar, tepat di atas ranting pepohonan.


Brak! Bruk!


Menara API itu akhirnya roboh, tinggal tersisa para mafia yang berdiri. Tidak ada juga, tanda-tanda mayat terbakar.


"Kemana mereka pergi?"


"Pasti belum jauh dari sekitar sini."


"Iya, kamu benar. Buktinya saja, tidak ada suara melompat."


"Ayo, kita cari sampai ketemu hahah...."


Mereka memeriksa semua tempat, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Senter diarahkan ke segala penjuru, bahkan ranting-ranting pohon juga. Qin bersembunyi, di balik cabang pohon besar.


"Qin, syukurlah kamu sudah berhasil keluar." ujar Fredy.


"Iya Qin, kami cemas." tambah Friska.


"Iya, alhamdulilah aku selamat. Sekarang, kita tinggal mikirin, bagaimana caranya lepas dari mereka." jawab Qin.

__ADS_1


Mereka menyalakan senter ke atas pohon, masih penasaran dengan para manusia yang tiba-tiba menghilang. Fredy masih meluruskan kakinya, sambil berpegangan pada cabang yang berdiri. Kakinya yang keseleo bertambah sakit, karena berlari ke sana kemari.


"Eh, bagaimana caranya kita mau kabur?" tanya Friska.


"Aku juga gak tau, ditambah kaki Fredy keseleo." jawab Qin.


"Pokoknya, kita harus berhati-hati. Jumlah mereka sangat banyak dari kita." ujar Fredy.


"Iya, lebih baik tunggu mereka pergi." jawab Qin.


Tanpa diduga, beberapa pria memanjat pohon. Qin dan Fredy segera menghindar, berjalan ke dahan pohon lain. Tiba-tiba saja Fredy terpeleset, dan Qin menarik tangannya. Friska juga membantu menahan Fredy. Tubuh mereka sulit seimbang, karena menahan tubuh Fredy.


Keduanya menarik paksa, agar Fredy tidak bergelayut lagi. Saat kaki Fredy berhasil menginjak dahan, malah Friska yang terpeleset.


Friska berteriak saat dirinya terjatuh, dari puncak pohon yang tinggi. Kini Friska berada, di tengah-tengah para mafia itu. Qin dan Fredy cemas tak terkira.


"Bagaimana ini Qin, apa yang harus kita lakukan?" tanya Fredy.


"Satu-satunya cara, kita harus membantunya." jawab Qin.


"Biar aku saja yang melakukannya." ucap Fredy.

__ADS_1


"Kaki kamu lagi sakit, jangan banyak bergerak." jawabnya.


Qin melayangkan ranting pohon, hingga memukul pria yang menyodorkan pisau. Perhatian mereka terfokus ke atas pohon.


Duar! Duar!


Qin menembak tepat sasaran, beberapa dari mereka tergeletak. Fredy menendang pria, yang hendak mencapai puncak pohon. Friska segera menggeledah tasnya, dan melakukan penyerangan juga.


Duar! Duar!


Qin berhasil menembak tepat sasaran, hingga beberapa dari mereka tewas. Qin membantu Fredy turun ke bawah, setelah beberapa orang dari mereka kabur. Friska menunggu di bawah, dengan perasaan yang cemas. Tiba-tiba saja, mereka mendengar mesin pemotong kayu berbunyi.


"Hah gawat, mereka pasti akan kembali lagi." ucap Friska.


"Ayo, cepat kabur dari sini." ajak Qin.


Fredy memaksakan kakinya berlari kecil, meski jauh tertinggal dari Friska dan Qin. Dua perempuan itu menunggu Fredy, sambil mendengarkan arah suara mesin pemotong kayu tersebut.


"Bila Fredy diajak berlari terus kasian Qin." ucap Friska.


"Kalau gitu, tidur di atas pohon itu." Qin menunjuknya, bagian yang paling kokoh.

__ADS_1


Mereka segera melangkahkan kaki dengan cepat, memanjat satu persatu dahan pohon. Para mafia itu datang lagi, namun tidak mengetahui keberadaan mereka. Mereka jauh lebih cepat dalam bergerak, sehingga berhasil menyembunyikan jejak-jejak langkah kakinya.


__ADS_2