Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Rekaman Video


__ADS_3

Keesokan lusa, ada karyawati magang dari sekolah lain. Friska dan Tiger disuruh mengajari mereka, pertama-tama memberitahu tugas apa saja yang dikerjakan. Mereka membuat


"Nama kamu siapa?" tanya Friska.


"Nama aku Miomy." jawabnya.


"Nama yang imut, seperti wajah kamu." puji Friska.


"Heheh... terima kasih." jawabnya, dengan sedikit malu. "Oh iya, kamu dari kampus mana?"


"Aku dari kampus Next Up." jawab Friska, lalu melanjutkan ucapannya. "Bawa flash disk untuk menyimpan tugas?"


"Iya, aku bawa kok. Kebetulan aku membelinya dari pemulung, yang menukarkannya dengan nasi dan lauk pauk." jawab Miomy.


"Flash disk ini harus kosong, karena khusus untuk menyimpan data praktik semuanya." Friska memberikan sarannya.


"Baiklah, kita periksa di komputer." Miomy mulai memasukkan flash disk, dan memeriksa berkas. "Eh, ternyata ada video di dalamnya." Kelopak matanya berkedut, melihat layar depan permukaan video.


Friska merasa penasaran, segera memencet tombol play pada komputer. Video Qin dan Fredy dalam kereta, yang sedang diserang alat tajam. Bahkan banyak foto-foto mayat, yang sengaja dibantai dalam kereta.

__ADS_1


"Itu temanku yang hilang, harus dilaporkan ke polisi." Friska merasa panik.


"Berarti mereka sengaja membuat dokumentasi video, supaya ada yang menolong mereka." Tidak tahu apa-apa, sehingga hanya mengetuk dagu dengan jari telunjuk.


"Nah tepat sekali, cepat kirim videonya." pinta Friska, yang terburu-buru.


"Baiklah." Secepat mungkin mengirim file, sebelum tertangkap basah dengan yang lain.


Friska tidak menyadari, bahwa ada yang memperhatikan gerak-geriknya. Friska melambaikan tangan, lalu segera berlari kencang. Tiba-tiba ada yang mengulurkan kaki, namun tidak diketahui ada unsur kesengajaan atau tidak.


"Upps maaf, aku tidak sengaja." ucap Jenny. Dia malah menginjak ponsel Friska. "Aduh, tidak sengaja terinjak lagi.


"Tidak, aku terlalu fokus ke arah depan." Jenny menatap lurus saja, tanpa menoleh ke arah Friska.


"Ponselku ini penting, dan harusnya Kakak berhati-hati." Friska tersulut emosi, sejak awal memang tidak menyukainya.


Friska segera mendekat ke arah Tiger, dia meminjam ponsel tanpa persetujuan. Tiger sibuk merebut, namun Friska tetap memaksa.


"Eh, ada apa kamu ini?" Tiger bingung sendiri, kepalanya tidak berhenti bergerak.

__ADS_1


"Aku punya bukti, supaya kita bisa melapor ke polisi." jawab Friska.


"Bukti apaan?" Tiger melihat wajah Friska yang panik.


"Aku sudah tahu Fredy Dan Qin dalam bahaya. Aku tidak mau mereka bernasib sama, seperti mayat-mayat dalam kereta iblis itu." Friska berbicara sudah hampir menangis, matanya mulai berkaca-kaca.


"Tenang, tenang, aku akan membantu dalam hal ini." Tangan kanan dan kirinya bergerak ke atas dan bawah.


"Iya sudah, laporkan sekarang saja." Friska memutar rekaman dalam ponsel Tiger.


Tiger membulatkan kedua bola matanya, tatkala melihat video tersebut. Mereka meminta izin ke perusahaan, setelah tugas mereka selesai.


"Ayo, cepat sedikit." Friska berjalan di emperan, dengan terburu-buru.


"Iya, iya, kamu jangan seperti ini. Panik tidak bagus, ketika menyelesaikan masalah." jawab Tiger.


Di dalam perjalanan, mereka melihat pedagang kaki lima sepi. Biasanya sepanjang perjalanan akan ramai dengan banyak orang. Tiba-tiba, ada sekelompok orang menghadang. Tidak diketahui asalnya darimana, dan ntah siapa yang memerintahkan mereka.


"Gawat, ada orang yang berusaha mengganggu rencana kita." ujar Friska.

__ADS_1


"Kamu harus berhasil sampai kantor polisi, cepatlah kabur duluan. Biar aku yang hadapi mereka sendiri." jawab Tiger.


__ADS_2