Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Bertengkar


__ADS_3

Wasli memerintahkan teman-temannya, untuk mencari bukti yang Qin maksud. Mereka tidak mau, kalau sampai masuk penjara.


"Jangan biarkan orang lain menemukannya." ujar Wasli.


"Baik bos." jawab salah satunya.


Tiger, Fredy, dan Friska merasa panik saat layar ponsel tidak mau terbuka menu. Fredy menepuk-nepuk ponsel, namun air tidak keluar. Layar malah semakin parah bergaris-garis.


"Kita harus menyelesaikan tugas Qin, yaitu mengambil latar belakang hutan gunung Kiwochi. Ini untuk tugas persentase kantor, supaya lebih menarik." ucap Tiger.


"Sudah beres, tadi sekalian memanjat pohon aku mengambil objek." jawab Friska.


"Terima kasih Friska." ucap Fredy, merasa terbantu.


"Kamu ini iya, seperti aku orang lain saja. Meski kamu calon suami Qin, tapi aku juga sahabat seumur hidupnya." jelas Friska.


"Nanti malam, aku sarankan kita menggelapkan penginapan ini. Nanti mereka bisa tahu, bila ada orang di sini." ujar Tiger.


"Aku juga punya pemikiran seperti itu." jawab Fredy.


Gelap, malam itu terasa mencekam. Mereka sudah menutup tirai rapat-rapat, namun sesekali cahaya ponsel menyala. Wasli dan teman-temannya mengetahui, bahwa ada manusia yang tinggal di sana.

__ADS_1


"Eh, penginapan itu walaupun digelapkan, namun sesekali menyala cahaya." ujar salah satu temannya.


"Pasti ada orangnya, tidak mungkin kosong." jawab Wasli.


Wasli berjalan perlahan-lahan mendekat, memastikan penglihatannya tidak salah. Dia benar-benar melihat ponsel Friska, yang bergerak ke sana-sini.


"Dari tadi kenapa kamu menyalakan lampu?" tanya Tiger.


"Aku mau mencari orang yang bisa memperbaiki ponsel." jawab Friska.


"Aku sarankan besok saja, jangan sekarang. Bisa-bisa kita ketahuan, dan mereka menemukan kita." Tiger memberikan saran.


Brak!


Kerikil dilempar ke arah genteng, dan batu-batuan besar juga. Friska terkejut bersamaan dengan kemunculan Fredy. Dia meletakkan jari telunjuk di bibir, dengan raut wajah panik.


"Mereka sudah tahu, kalau kita menginap di sini." ucap Fredy.


"Lalu bagaimana? Kita juga harus membantu tugas Qin. Tidak bisa bukan?" jawab Friska.


"Ini semua salahmu, coba kalau tidak ceroboh." Tiger berbicara serius.

__ADS_1


"Aku tahu aku salah, namun bisakah kamu jangan membentak. Suaramu lumayan keras, kenapa tidak sekalian bicara depan pintu." jawab Friska.


"Kamu ingin aku mati?" Memelototi tak percaya, dengan ucapan calon istrinya sendiri.


"Kamu pengecut, hanya berani dengan perempuan saja. Aku mau lihat, seberapa banyak kemampuan yang kamu miliki." Friska sengaja menantangnya, karena kesal dengan ucapan Tiger.


"Friska, Tiger, kalian jangan bertengkar. Ini bukan saat yang tepat." Fredy melerai keduanya.


"Aku bukan pengecut, biarkan aku keluar sendirian." Tiger melangkahkan kakinya, namun dilarang dengan Fredy.


Sibuk menarik lengan Tiger. "Mereka terlalu ramai, kamu jangan gegabah." ujarnya.


"Sudahlah Fredy, jangan halangi aku. Bukankah Friska tidak mau mengakui kesalahannya." Tiger mendorong Fredy, lalu membuka pintu.


Wasli dan teman-temannya tertawa, bahkan tepuk tangan. Namun tetap waspada, takut ada jebakan.


"Ternyata, kamu punya nyali juga. Aku pikir kamu tidak sendirian di sini." Wasli tersenyum mengejek.


"Aku bukan laki-laki pengecut, di sini menghadapi kalian aku berani." Tiger berkata dengan lantang, sambil menepuk-nepuk dadanya.


Fredy bingung sendiri apakah harus mengajak Friska pergi, atau harus menutup pintu secepatnya dengan Tiger yang dikuasai amarah. Fredy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan Friska masih tidak bergeming dengan situasi darurat.

__ADS_1


__ADS_2