
Qin pingsan setelah meeting, karena tadi sempat menghirup gas beracun. Friska segera membawanya ke ruangan medis, dibantu oleh Fredy juga.
"Dia merepotkan saja, setiap hari sakit dan sakit. Kalau sehat cuma membuat ulah, mengganggu ketenangan perusahaan Kharuga." celoteh Jenny.
"Kak Jenny, jangan seperti itu." Lucky menyahut saja.
"Dibilang merepotkan, masih saja kalian peduli padanya." Jenny menatap tajam, ke sembarang arah.
"Manusia tidak ada yang bisa hidup sendiri, semuanya merepotkan manusia lain kok." Thardo ikutan nimbrung.
Tiba-tiba bos Rudal muncul. "Jenny, tolong buatkan sertifikat untuk siswa-siswi magang. Sebentar lagi, waktu mereka habis." ujar bos Rudal.
"Baik bos, tunggu sebentar. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat." jawab Jenny.
”Sebelum kamu pergi, harus mati terlebih dulu. Lihatlah, aku tidak segan berbuat macam-macam.” batin Jenny.
Qin, Friska, dan Fredy keluar dari ruangan medis, setelah berbincang-bincang menyusun rencana. Jenny tiba-tiba muncul, tersenyum jahat ke arah mereka.
"Sertifikat akan diberikan dengan cepat, bila Qin mau minum bersamaku." ujar Jenny.
"Selagi bukan arak, tidaklah masalah." jawab Qin.
__ADS_1
"Tentu, aku paham Adik Qin wanita yang menjaga diri." ujarnya, dengan datar.
"Iya sudah, sekarang saja." Qin melangkahkan kaki, mengikuti langkah kaki Jenny.
Fredy Dan Friska khawatir, apa yang akan dilakukan oleh Jenny. Pasti ada niat terselubung, tidak mungkin sekadar basa-basi. Dilihat dari sifatnya, dia bukan orang seperti itu.
"Qin, duduklah. Aku buatkan air minum ini, sudah selama setengah jam." ujar Jenny.
"Baik Kak Jenny." jawab Qin.
Ketika memegang gagang gelas, Fredy sengaja menyenggolnya. Gelas menjadi hancur di lantai, dan tidak jadi meneguk air minum.
"Qin, kamu harus cepat pulang. Papa kamu tadi sudah menelepon, dia harus memberitahu sesuatu penting." ujar Fredy.
Arka dan Qin pergi bersama-sama, untuk membebaskan Karina. Bersama dengan polisi, memeriksa tempat yang dimaksud oleh anak-anak. Arka melangkah dengan hati-hati, termasuk Qin yang tidak ingin menimbulkan bencana.
"Papa, kita mulai dari dua arah yang berbeda saja." ujar Qin.
"Baiklah, kamu dari belakang." jawab Arka.
Arka berjalan pelan-pelan,
__ADS_1
Friska memandang cincin di jari manisnya, siapa lagi yang akan diingat bila bukan Tiger. Sekarang semua impian menikah telah sirna, hanya kenangan yang hidup di hati.
"Eh Friska, mengapa kamu duduk sendirian?" tanya Anyi, yang muncul secara dadakan.
"Qin dan Fredy pergi untuk menyelamatkan Tante Karina yang diculik." jawab Friska.
"Lalu, di mana Tiger yang selalu menemanimu?" sahut Limuq.
"Jangan tanyakan dia lagi, aku menjadi sangat Sedih." Mengusap air yang keluar dari kedua bola matanya, tidak dapat terbendung lagi.
"Memangnya kenapa?" tanya Anyi.
"Tiger sudah meninggal di villa gunung Kiwochi." Tidak ingin membayangkan pembunuhan sadis tersebut.
Anyi mengusap-usap pundak Friska, kasian sekali melihat temannya itu. Meski baru kenal di pulau seberang laut, namun tetap saja pernah berjuang bersama memberantas mafia.
"Eh, Qin sudah ada tugas baru dari pelatih tidak?" tanya Anyi.
"Mana ada, dia belum sempat ke tempat kursus. Kasus perusahaan Kharuga belum selesai ditangani." jawab Friska.
"Tapi masyarakat Indonesia sudah mendukung Qin, agar tetap semangat mengumpulkan bukti." ungkap Anyi.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, tidak semudah yang terlihat. Kasus berat juga butuh proses yang panjang." jawab Friska.