Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Berita Karyawan Hilang


__ADS_3

Qin berhasil keluar setelah ditolong oleh Fredy, memanjat melalui lubang langit-langit ruangan. Menggunakan cara mencongkel sela-sela, yang bisa ditancapkan pisau.


"Hah...!" Qin menghembuskan nafas panjang.


"Akhirnya aku berhasil menyelematkan mu." Fredy ikutan lega.


Keesokan harinya, Friska dan Tiger memanggil Qin sambil berlari. Nafas mereka sampai terdengar terengah-engah.


"Qin, ada berita Karyawan yang hilang lagi di perusahaan ini." ujar Tiger.


"Beruntung kita tidak lembur, karena karyawan magang." timpal Friska.


"Kalian jangan panik, ini sepertinya pembunuhan berencana." jelas Fredy.


"Eh, kok kamu menyimpulkan seperti itu?" Friska bergidik ngeri.


"Iya, karena terjadi secara berturut-turut." jawab Fredy.


Tiger bergidik ngeri. "Aku tidak mau kerja di sini, walaupun gajinya besar sungguh menakutkan."


Rumor tentang pekerja lembur yang menghilang tanpa jejak, sudah tersebar ke seluruh penjuru bahkan pelosok negeri. Sementara polisi sudah menyelidiki perusahaan, namun tidak ditemukan sesuatu mencurigakan.


"Hai semuanya!" sapa Tiger dengan ramah.

__ADS_1


"Hai juga." jawab rekan-rekan kerjanya saat praktik.


"Kamu masih bisa bersantai, tidak mendengar berita terbaru perusahaan. Sedang viral dibahas, keluarga korban bahkan histeris." sahut seorang laki-laki, yang sedang menyalakan layar infokus.


Bos Rudal menghampiri karyawan dan karyawatinya yang sibuk bergosip. Sebuah penggaris kecil dia pukul ke atas meja. Sengaja biar mereka semua berhenti bicara yang tidak penting.


"Kenapa mulut kalian ikut bekerja? Kalian digaji untuk membuat laporan, bukan untuk mengurusi berita tidak nyata." Bos memperingati mereka.


"Bos, kami mengkhawatirkan Thano yang menghilang ditelan bumi." Tardo memegang printer, membersihkan debu-debu yang menempel.


"Iya bos, bukankah ini sangat keterlaluan?" sahut yang ada di pojokan, bernama Lucky.


"Bagaimana bila giliran kami yang dibunuh." Tiger ikut-ikutan nimbrung.


"Maaf bos, aku menganalisis sendiri. Pikirkan saja, hilang tiba-tiba, apa lagi bila bukan dibunuh." Masih berani berkata-kata.


"Ini adalah sebuah siklus, yang tidak bisa dilacak polisi. Terima saja, apa yang akan terjadi." jelas bos Rudal, dengan entengnya.


Qin pulang ke rumah pada sore hari, mengerjakan banyak cucian baju. Mana belum menyetrika lagi, untuk dipakai besok.


"Semangat Qin! Hidupkan lagi mesin pengering, setelah itu setrika baju yang digantung." Berbicara pada diri sendiri, yang merasa kelelahan.


Qin mendengar ketukan pintu, ternyata Karina yang menyuruhnya makan malam. Qin menyuruh mamanya untuk makan duluan, karena dia sedang banyak pekerjaan. Ponsel tiba-tiba berbunyi, ternyata telepon dari Fredy.

__ADS_1


"Halo Fredy!" Qin berbicara setelah telepon tersambung.


"Halo Qin, aku mempunyai sebuah ide." Fredy langsung mengutarakan maksudnya.


"Apa itu?" Qin menjadi penasaran.


"Kita harus mengikuti karyawan atau karyawati yang pulang paling terakhir." jawab Fredy.


Hidung Qin berkedut mencium bau gosong, dan akhirnya telepon diakhiri. Qin melihat pakaiannya gosong, pasti dia bakalan kena marah bos.


"Aduh, gawat lagi! Ini harus dipakai untuk dinas besok." Qin menepuk-nepuk jidatnya sendiri.


Keesokan harinya, Qin mengenakan baju bebas. Dia menuruni anak tangga, dan melihat Deni tengah bersedih.


"Ada apa Opa?" tanya Qin.


"Ini hukuman untuk Opa, karena pernah membantai manusia dengan sadis. Tentu saja, orang lain tega membunuh keluarga kita." jawab Deni, dengan penuh penyesalan.


"Sudahlah, jangan sedih seperti itu. Setidaknya, Opa sudah berubah jadi lebih baik." ujar Qin.


"Iya cucuku, terima kasih." jawab Deni.


"Haduh, kamu kenapa tidak memakai jas." Karina memutar kedua bola matanya malas.

__ADS_1


"Heheh... aku ceroboh lagi. Kelupaan meletakkan setrika, dengan waktu berlebihan." Qin nyengir, sambil senyum malu.


__ADS_2