
Plak!
Sebuah tamparan melayang ke pipi Anyi, sampai kepalanya bergerak kasar ke arah kanan. Timon menyuruh para anak buahnya, untuk memaksa Anyi makan darah.
"Kalian urus dia, aku ingin membantu yang lain menangkap temannya." ujar Timon.
Anyi geleng-geleng, saat baskom dihadapkan ke arah mulutnya. Dia dipegangi secara paksa, lalu Qin menembak orang yang dekat pada kepala Anyi.
Brak!
Baskom berisi darah tertumpah, dan Qin menembak orang yang memegangi Anyi. Serangan peluru bergantian melayang ke arah Qin, namun dia bersembunyi pada tumpukan barang bekas.
Dor!
Dor!
Menyerang mereka balik, sementara Anyi memilih bersembunyi. Tidak lupa mencari barang yang bisa digunakan untuk memukul. Anyi mengambil sebuah pipa panjang, dan melempar keranjang bambu.
Brak!
Mengenai kepala orang-orang yang hendak menembaknya dan juga Qin. Anyi mengelak saat ditembak, dan Qin berusaha menembak mereka. Tiba-tiba saja pintu terbuka, Fredy membantu menyerang para penjahat itu. Friska dan Limuq juga membantu, supaya semua berjalan lancar.
__ADS_1
"Akhirnya, kita berhasil melumpuhkan mereka. Ayo cepat pergi dari sini." ajak Friska.
"Ayo cepat kabur." Qin menarik lengan Anyi.
Mereka bingung karena tiba-tiba dinding bergerak, menyusun sendiri ruangan berbelok. Friska dan teman-temannya ketakutan, tak terkecuali Fredy dan Qin. Atap rumah itu juga bisa bergerak, mengikuti dinding yang berubah bentuk.
"Aku tidak mau, kejadian di pulau seberang laut itu terjadi lagi." Friska trauma akan kejadian itu, belum lagi pembunuhan di gunung Kiwochi.
"Kamu tenang iya Friska, semoga kita bisa keluar dari sini." jawab Qin.
"Tidak ada jaminan kita akan selamat. Rumah ini memang dibuat khusus untuk membantai manusia." ungkap Friska, mengusap air mata sisa Idak tangisnya.
"Oh iya, di mana Thardo?" tanya Qin.
"Dia aku suruh sembunyi di bagasi, ada Lucky yang menjaganya." jawab Fredy.
"Hah, strukturnya tidak seperti tadi. Kita pasti bingung, mau mencari jalan keluar." ujar Qin datar.
"Iya, mereka sudah merencanakannya sejak awal." jawab Fredy.
Qin dan Fredy berjalan paling depan, untuk mengantisipasi pergerakan tiba-tiba. Tidak ada senjata apapun yang menembak, namun dikejutkan dengan pergerakan lantai. Sepertinya dilakukan ini dengan sengaja, supaya mereka tidak bisa keluar.
__ADS_1
"Ini mengapa tidak ada jendela, mengapa rumah ini bisa bergerak otomatis?" Friska menjadi pusing, melihat sekelilingnya.
"Tadi padahal ada, namun mendadak dihilangkan. Pasti digerakkan dari jauh, kalian harus berhati-hati." Qin takut, ada cctv tersembunyi.
"Iya Qin, sepertinya bakalan terjadi sesuatu." tebak Friska.
"Aku jadi semakin takut, kita harus cepat keluar." Anyi menarik lengan baju Friska.
Lampu ruangan tiba-tiba mati begitu saja, menyisakan kegelapan tanpa cahaya. Terdengar suara derapan langkah kaki, yang sangat berhati-hati dalam berjalan.
"Aaa...!" Limuq menjerit, saat kakinya terkena jebakan besi lancip.
"Fredy membantu menariknya, bersamaan dengan itu besi jatuh dari atas. Semua berlari, dan tubuh Friska ambruk. Dia tertimpa besi berbentuk balok pada punggungnya. Mulut Friska mengeluarkan darah, dan Qin hendak menolongnya. Tiba-tiba datang serangan peluru, dan Fredy berusaha menarik Qin sampai lengannya berdarah.
"Qin, sudahlah biarkan saja. Ayo cepat pergi." Fredy memaksa Qin.
"Tapi Fredy...."
"Qin, tolong jangan tinggalkan aku." Friska melambaikan tangannya ke udara, dengan tubuh yang melemas.
Friska dijambak oleh pria berpenutup kepala, lalu ditebas lehernya. Qin dan Anyi menjerit, dan langsung berlari terbirit-birit. Masih dikejar namun masuk ke sembarang ruangan. Fredy dan Limuq segera mengunci pintu ruangan tersebut.
__ADS_1