
Tidak ingin sedih terlalu lama, Qin dan teman-temannya jalan ke kebun mangga. Mereka membuka buah dengan pisau, yang dibawa dalam tas Qin.
"Kamu banyak juga membawa pisau, pasti bukan mahasiswa biasa." ujar bos Rudal.
Qin menutupi identitasnya sebagai detektif. "Heheh... terkadang membuka botol sulit, aku tidak mahir. Hanya dapat minum, namun kesulitan membuka penutupnya."
Bos Rudal memegang pisau, lalu digosok dengan jari telunjuknya. "Ini sangat tajam, enak untuk mencincang daging."
"Papa benar, kita tidak boleh melewatkan kesempatan enak." timpal Timon.
"Ini hutan, apa yang bisa dicincang. Kecuali, jika membuat rujak buah mangga masam sampai sakit perut." jawab Qin bercanda.
"Ikutlah denganku, di penginapan ada kandang ayam." ajak Timon.
"Boleh, boleh, sekadar untuk hiburan." tambah Qin.
"Ayo, disembelih untuk lauk pasti enak." timpal Limuq.
Mereka membawa buah ke sebuah rumah yang lumayan besar. Biasanya tempat itu dipakai Timon untuk beristirahat. Sekarang mereka bisa menumpang sejenak, untuk melepaskan rasa penat.
__ADS_1
"Kalian tidurlah di atas, biar kami saja di bawah." Bos Rudal melihat Qin dan Fredy, yang membawa tas gendong.
"Tidak tidur di lantai atas juga bukan masalah. Sama saja menurutku, yang penting nyaman." jawab Fredy.
"Kalian tidak akan bisa merasa nyaman, tinggal di sini banyak makhluk buas." ucap bos Rudal.
"Tidak masalah, kami hanya sementara saja. Kalau montir langganan sudah datang, aku akan segera kembali ke kota." Qin masih menunggu, berharap orangnya datang.
Montir yang sedang dalam perjalanan, tiba-tiba jatuh tersungkur. Kepalanya membentur batu, dan tewas di tempat. Malam sudah tiba, dan semua dibuat resah.
"Qin, coba deh hubungi montir langganan kamu." Friska memberi saran.
Bulan sudah bertengger di atas puncak langit, membiarkan kelelawar berterbangan. Belum tampak juga tanda-tanda kemunculan sosok manusia, akhirnya Thardo keluar bersama Lucky. Mereka berdiri di emperan, menatap langit yang mulai hitam pekat. Hujan sepertinya akan turun, untuk menemani mendung.
"Eh, kalau seandainya ada manusia sadis mendadak, apa yang akan kamu lakukan pertama kali?" tanya Lucky.
"Aku akan berteriak minta tolong." jawab Thardo.
"Tidak semudah itu, yang ada kamu diringkus duluan." Lucky merasa jawaban Thardo kurang tepat.
__ADS_1
"Kalau yang jahat itu kamu, aku tahu cara mengatasinya." canda Thardo.
"Eh, aku masih tidak menyangka kalau Kak Jenny terlibat dalam kejahatan karyawati." ucap Lucky.
"Pantasan saja dia lembur pun tidak berpengaruh, tidak pernah terjadi apa-apa." Thardo geram sendiri.
Duar!
Bunyi petir dadakan membuat Thardo dan Lucky segera berlari. Thardo tidak sengaja terpeleset, lalu memeluk tubuh Lucky.
"Cie yang jadian, aku tidak akan mengganggu." ledek Fredy.
Lucky melepaskan pelukan Thardo. "Hust, kamu tidak boleh bicara sembarangan dengan senior."
Mereka berdua menghampiri Fredy, dan masuk ke dalam rumah. Timon muncul sambil membawa ayam, yang sudah selesai disembelih. Qin dan Anyi membantu mencabuti bulunya. Air panas dalam bak terlihat mengepul, menjadi semakin mudah untuk mengelola ayamnya.
"Qin, tadi aku merebus air di kompor gas." ucap Timon.
"Pantas saja lama, aku pikir kemana." jawab Qin.
__ADS_1
Satu jam kemudian, semua duduk di kursi kayu. Mulut mereka mulai mengunyah makanan dengan perlahan-lahan. Anyi masih ketagihan, untuk mengupas kulit mangga ranum. Lidahnya bermain sangat lama, untuk menikmati rasa manis.