Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Menyelidiki


__ADS_3

Setelah selesai memasak mie, Friska dan Qin membawa ke ruangan depan. Teman-temannya menikmati, hidangan yang mereka sajikan. Mereka juga menyantap, sampai bumbu-bumbunya habis.


"Kalian seperti orang kelaparan." canda Friska.


"Masakan kalian berdua the best si." jawab Tiger.


"Kamu tuh kalau ada maunya aja memuji." ucap Friska spontan.


"Yaelah, gitu aja di masukkan ke hati." jawab Tiger.


"Aku cuma bercanda." ujar Friska.


"Aku juga bercanda." jawab Tiger.


Pada malam harinya, sesosok bayangan lewat depan jendela. Qin yang melihatnya duluan, lalu setelah itu Friska juga.


"Eh, kalian lihat tidak, kalau di jendela ada bayangan hitam." ujar Friska.


"Hah, aku semakin takut tinggal di sini." jawab Sisil.


"Qin, bagaimana dengan Kak Arina. Kita belum menemukannya, tapi sudah mendapat teror." ujar Tiger.


"Aku juga gak tahu Tiger, intinya kita harus bertahan. Jujur aku tetap gak bisa pulang, walaupun kalian semuanya pulang." jawab Qin terus terang.

__ADS_1


"Kamu tidak sendiri kok, jangan bersedih Qin. Aku tetap setia menemani kamu, lebih baik kita sekarang tidur." Fredy mengusulkan idenya.


"Iya Fredy, terima kasih telah membantu diriku." jawab Qin.


Keesokan harinya, mereka bangun pagi-pagi sekali. Qin dan Friska sudah selesai salat subuh, begitupun dengan Fredy Dan Tiger. Semalam mereka tidur secara bergantian, karena harus ada yang berjaga-jaga.


"Eh, kita keluar dari penginapan yuk. Di sini, sudah tidak aman lagi untuk kita." ujar Qin.


"Benar, sewaktu-waktu mereka bisa ke sini." jawab Fredy.


"Memangnya kamu sudah tahu, kemana tujuan akan melangkah?" tanya Sisil.


"Aku tahu, bahwa kita harus pergi ke markas Joy. Rumahnya itu, pasti banyak menyimpan rahasia." jawab Qin.


"Siapa saja yang mau ikut." jawab Qin.


"Aku ikut." Fredy dan Friska tunjuk tangan.


"Baiklah, ayo pergi sekarang." ajak Qin.


Mereka segera mengemasi barang-barang, dan akan menyelinap ke dalam rumah itu. Sedangkan Tiger, Revano, dan Sisil akan mengalihkan perhatian penjaga.


Cukup lama mereka dalam perjalanan, tiba-tiba ada sekelompok serangga menghampiri. Semut itu terlihat ganas, karena mempunyai racun. Semut berwarna merah yang semakin dekat, sengaja mereka hindari.

__ADS_1


"Ayo cepat, kita pasti bisa." ujar Friska.


"Iya, semangat semuanya." jawab Qin.


Mereka sudah sampai ke area taman hiburan dan wisata. Sisil mengayunkan telapak tangannya ke depan, menyuruh Tiger dan Revano cepat bergerak. Mereka berdua berjalan, mendekati petugas baju hitam dan bertopi.


"Kak numpang tanya, apa kalian melihat teman kami." ujar Tiger.


"Kami mana tahu, seperti apa teman yang kalian maksud." jawabnya datar.


"Dia itu tinggi, kulit putih, rambutnya ikal, dan memiliki lesung pipi." ucap Revano.


"Kami tidak melihatnya." jawabnya.


Qin, Fredy, dan Friska berhasil masuk ke dalam rumah. Gedung mewah yang menjadi markas Joy, dalam melakukan tindak kejahatan sehari-hari.


"Eh, kalian ikuti langkah kakiku." ujar Fredy.


"Iya Fredy." jawab Qin dan Friska bersamaan.


Qin dan Friska mengikuti langkah kaki Fredy, yang memandu jalan di depan. Dengan sangat hati-hati sebelum berbelok, ke arah tembok pembatas. Fredy mengintip tidak ada orang, barulah mulai melangkah lagi.


Suara nafasnya terdengar oleh telinga sendiri, pertanda menderu mengajak pergi. Meski berani, manusia tetap saja menyembunyikan ketakutannya. Namun di dasar hati, dia tetap ada.

__ADS_1


__ADS_2