
Mereka melihat seseorang duduk di kursi sopir kereta. Fredy menepuk pundaknya, sedangkan Qin berjaga-jaga dengan mengarahkan pistol. Tidak ada juga tanda-tanda pergerakan, bukankah ini semakin menarik bukan?
"Jangan coba-coba mengelabuhi aku iya, atau kamu akan mendapatkan hadiah yang tak terlupakan." Fredy sengaja mengancamnya.
Tiba-tiba kepalanya bergerak, dan penuh darah berlumuran. "Hahah..."
Suara tertawa terdengar, namun sopir itu hanya boneka. Sepertinya, ada yang mengendalikannya dari jarak jauh.
Malam telah berakhir, menjadi pagi hari. Qin dan Fredy terkejut, saat kereta melintas ke jalur lain. Membawanya ke sebuah terowongan yang sangat gelap. Ntahlah, Qin juga tidak tahu, akan bisa selamat atau tidak.
"Qin, kenapa kereta ini berhenti di jalur yang tak seharusnya?" Fredy malah merasa banyak kejanggalan.
"Hanya terlihat canggih, namun sebenarnya kereta ini ilegal." jawab Qin, berdasarkan pengamatannya.
Flash disk dibawa ke rumah makan oleh pemulung, ingin ditukar dengan makanan nasi dan lauk. Di rumah kardus, anaknya sudah tidak makan beberapa hari.
"Bu, aku ada barang orang kaya. Tolonglah tukarkan dengan makanan di toko ini."
__ADS_1
"Apa gunanya barang itu untuk kami. Tidak pernah memakai itu, dan tidak penting untuk orang kelas bawah seperti kami."
Tiba-tiba anak dari pemilik rumah makan keluar. "Sini, biar untuk aku saja. Kebetulan, aku memerlukan untuk menyimpan data. Aku akan membuat laporan pengajuan magang."
"Baiklah, terima kasih." Diberikannya barang kecil itu, pada perempuan yang sudah gadis tersebut.
Friska dan Tiger membuat kopi di pantry. Mereka mau membicarakan yang terjadi semalam, namun masih merahasiakan apa yang sempat mereka lihat.
"Eh Tiger, sampai sekarang Qin tidak masuk ke kantor." ucap Friska.
"Tidak bisa dibiarkan, kita harus mencari mereka." Friska mengusulkan rencananya.
"Tapi 'kan kita tidak tahu mereka kemana." jawab Tiger.
Friska dan Tiger pulang dari kantor memberanikan diri, untuk mampir sejenak ke rumah Karina dan Arka. Sebagai orangtua, mereka berhak tahu apa yang terjadi pada Qin.
"Apa begini juga cukup baik?" Tiger ragu-ragu, berdiri depan pintu.
__ADS_1
"Bukan hanya baik, namun sangat pantas. Jangan biarkan mereka kehilangan, baru kita memberi kabar. Memangnya kamu mau, melihat Qin yang tinggal nama. Kasian sekali orangtuanya, harus kehilangan anak kedua kali. Kami para perempuan mudah bawa perasaan, beda dengan kalian laki-laki yang bisa santai dalam situasi darurat." cerocos Friska, panjang dan lebar.
Ayunan tangan Friska menyentuh pintu, mulai mengetuknya sambil mengucapkan salam. Tidak butuh waktu lama, pintu sudah terbuka.
"Eh kalian, cepat masuk!" sambut Karina dengan ramah.
"Iya Tante, terima kasih." Friska melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. "Sebenarnya kami tak singgah dengan lama, hanya ada sesuatu yang ingin kami bicarakan."
"Kebetulan, ada yang ingin Tante tanyakan." Karina menuang air ke dalam gelas.
"Iya sudah, Tante saja duluan." jawab Friska.
"Sejak kemarin malam Qin tidak pulang. Apa dia tidur di rumahmu?" Karina menatap lekat Friska, yang tampak gugup.
Friska menyusun kalimat baik-baik, sebelum akhirnya dikeluarkan. "Sebenarnya, hal ini yang ingin aku bahas. Qin pergi menaiki kereta tengah malam, dan sampai sekarang tidak tahu kabarnya. Fredy juga ikut masuk kereta itu, karena takut terjadi sesuatu pada Qin."
Karina membulatkan kedua bola matanya, bagaimana bila nasib Qin seperti berita orang hilang sebelumnya. Begitu populer perusahaan mereka, karena karyawan dan karyawati hilang ditelan bumi.
__ADS_1