Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Tiger Tewas


__ADS_3

Tiger berjalan mendekat ke arah Wasli, mencengkeram kerah bajunya lalu meninju pipinya. Saat itu juga, pipi Tiger ditembak oleh teman-temannya. Tembakan di kepala Tiger, menyebabkan dua bola matanya terjatuh.


"Aaaa!" Tiger menjerit kesakitan.


Friska berlari ke arah pintu, menyerang mereka dengan berani. Tiga orang berhasil ditembaknya, namun bersamaan dengan peluru melayang menembus jantung Tiger. Friska berteriak histeris, lalu menutup pintu buru-buru.


Mereka mendorong pintu dengan paksa, karena belum dikunci dengan rapat. Friska berteriak-teriak, sambil meneteskan air mata. Mereka tidak menyerah, untuk mendorong pintu utama tersebut. Tiba-tiba Fredy muncul, lalu mendorong pintu dan menguncinya.


"Fredy, kenapa kamu di sini?" tanya Friska.


"Aku membantu kamu, tidak mungkin meninggalkan seorang perempuan sendiri." jawab Fredy.


"Aku pikir kamu sudah pergi, terima kasih telah menolong aku." Friska mengusap keringat, yang bercucuran di dahinya.


Malam akhirnya beranjak pagi, awan-awan sudah berlarian. Matahari mengejar waktu, segera merayap di kaki langit. Friska membuka tirai jendela, dan tidak melihat mereka lagi.

__ADS_1


"Apa kita sudah aman, dan bisa secepatnya keluar dari sini?" tanya Friska.


"Belum bisa, aku takut ini hanya jebakan. Bagaimana kalau seandainya mereka belum pergi." jawab Fredy.


"Kita tidak mungkin juga 'kan tinggal di sini terus?" tanya Friska.


"Benar, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." jawab Fredy.


Saat sedang minum teh hangat, Fredy tiba-tiba tersedak. Ramai suara orang di luar, yang mendobrak pintu. Friska mengajak Fredy lewat pintu belakang saja. Dia takut akan dibunuh hidup-hidup, sementara Qin berharap Fredy datang menyelamatkannya dari sel tahanan.


"Baiklah, aku mengikuti langkah kamu." jawab Friska.


Friska dan Fredy membuka pintu, sampai Wasli menunjuk mereka. Ketua adat tidak melihat siapapun, selain mereka berdua. Benar-benar melanggar peraturan setempat, karena tidak izin lagi.


"Dia kurang ajar, berani berbuat macam-macam di dalam villa." ujar Wasli.

__ADS_1


"Kamu jangan memutarbalikkan fakta, kamu pikir aku tidak merekam kejahatan yang telah dilakukan. Lihatlah, semalam dia membunuh teman kami." jawab Fredy, dengan sejelas-jelasnya.


Fredy memutar rekaman video, lalu menunjukkannya di depan ketua adat. Masih bisa santai dan tertawa-tawa, lalu berpikir mengarang sebuah cerita.


"Kalau soal membunuh, teman kamu juga membunuh. Bahkan tiga nyawa sekaligus, telah direnggut dalam beberapa menit saja." Wasli menunjuk-nunjuk Friska.


"Dasar, manusia berhati iblis. Aku membunuh temanmu, karena dia membunuh calon suamiku." Friska tidak terima, karena kebenaran ditutupi oleh mereka.


"Paman harus percaya padaku, karena mereka ini teman dari seorang narapidana. Ingat 'kan dengan perempuan, yang ada di villa." jelas Wasli, dengan menunjukkan raut wajah sedih.


Teman-temannya pun berpura-pura sedih, mereka memeluk Wasli sambil mengusap air yang keluar dari matanya. Friska semakin jijik, melihat drama yang mereka lakukan.


"Benar, kami bersaksi atas perbuatan keji semalam." ucap salah satu orang mewakili.


"Kalau begitu, kita laporkan saja mereka. Harus diberikan hukuman yang setimpal, supaya anak-anak kota tidak berbuat onar di kampung." Seorang perempuan paruh baya menyudutkan.

__ADS_1


Fredy segera menutup pintu, setelah menarik lengan Friska. Fredy dan Friska lewat pintu belakang, lalu melarikan diri ke arah semak-semak belukar.


__ADS_2