Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Qin Sudah Sadar


__ADS_3

Qin menceritakan yang terjadi, dari awal sampai akhir tak ada yang terlewat. Arka mengepalkan tangannya geram, sangat tersulut emosi. Dia tidak bisa menahannya kali ini, karena perilaku kelompok laki-laki itu keterlaluan.


"Siapa mereka, sehingga berani melakukan ini padamu." ujar Arka.


"Aku juga salah Pa, karena terlibat urusan mereka." jawab Qin, sambil tertunduk.


"Mereka membunuh adalah tindak kriminal, Papa akan melaporkan perbuatan mereka." ucap Arka tegas.


Qin memegang lengan papanya. "Jangan gegabah, mereka tampaknya terbiasa menjadi bandit. Dari kalung rantai yang dipakai, seperti kembaran satu geng." Qin mencegah papanya melakukan hal, yang membuat mereka semakin murka.


"Kamu adalah saksi mata, cepat atau lambat juga dicari lalu dilenyapkan mereka." Arka masih memberikan suapan.


Menerima suapan dengan perlahan. "Iya, kita pikirkan nanti saja." jawab Qin.


Arka terpikir Karina. "Kalau seperti ini, Papa tidak bisa tenang. Mereka belum ditangkap, dan juga mendapatkan hukuman. Bagaimana bila mereka ke villa, lalu mencelakai Mama demi mencari kamu."


"Kalau sekarang mereka belum tahu jika aku selamat. Aku rasa mereka mengira, aku sudah mati mengenaskan jatuh dari tebing." jawab Qin.

__ADS_1


"Papa harus segera kembali, takut terjadi apa-apa dengan Mama kamu." Menyuapi dengan buru-buru.


"Aku ikut Papa, setelah itu aku akan tinggal sendirian di sana. Aku harus mengerjakan tugas dari bos Rudal, mengambil gambar alami untuk persentasi." jawab Qin.


Arka tiba-tiba saja marah. "Kenapa si, bos kamu itu tidak pernah mengerti? Belum cukup juga, melihat kamu hampir mati dalam kereta? Lantas memberikan banyak lembur, padahal kecelakaan yang menimpa Fredy bukan kesalahanmu sepenuhnya."


Qin mengambil gelas di meja, lalu meneguk air dengan memberi jeda. Setelah mendapatkan sedikit tenaga, dia beranjak dari ranjang pasien. Arka dan Qin segera pergi, berjalan menanjak jalan terjal. Mereka hendak naik ke lereng gunung kembali.


"Sepertinya ada orang yang mau ke sini." ucap Arka.


Dugaan Qin benar, memang sekelompok bandit menuruni jalan curam. Mereka bercerita tentang gadis, yang jatuh ke bawah tebing.


"Kamu yakin dia mati?" tanya bos.


"Yakin bos, tempat itu sangat curam. Siapapun juga, belum tentu bertahan." jawab salah satu dari mereka.


"Kalau dia masih hidup, aku tidak akan mengampuni kalian." ancam sang ketua bandit.

__ADS_1


"Baik bos, kami akan memastikannya." jawab semuanya serentak.


Setelah kepergian mereka, Qin dan Arka masuk ke villa. Sudah mengucapkan salam, lalu Karina membuka pintu. Pengawal masih berjaga di luar, mungkin tidak terjadi apapun pikir Qin.


"Papa, tadi ada suara genteng dilempar dengan batu-batu kecil." ujar Karina, mengadu sambil memeluk suaminya.


"Kamu harus ikut aku pergi dari sini." jawab Arka.


"Loh, kok mendadak sekali? Bagaimana dengan Qin, tidak mungkin sendirian tinggal di tengah hutan. Lagipula, apa alasan Papa kembali lagi?" tanya Karina.


"Dalam perjalanan, Papa dihadang sekelompok laki-laki berjubah." jawab Arka.


Qin membuka mulutnya lebar, tercengang dengan penjelasan papanya. "Kenapa tidak bicara, kalau Papa juga mengalami kesulitan."


"Papa tidak apa-apa Nak. Papa lupa cerita, karena khawatir sama kamu." Arka meyakinkan Qin.


Karina bingung, apa yang terjadi? Begitulah pandangan matanya bertanya. Qin menceritakan semuanya, tentang pelipisnya yang menggunakan perban. Tentang telapak tangan dan jari-jarinya yang diperban.

__ADS_1


__ADS_2